Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak… saya akhir-akhir ini sering banget lupa. Naruh kunci baru lima menit, eh hilang. Mau ngomong sesuatu, tiba-tiba pikiran kosong. Saya takut kena pikun.”
“Tenang, Mbak. Usia njenengan berapa sih kok sudah takut pikun?”
“Tahun depan 50 tahun.”
“Oh, fisik njenengan tampak bagus untuk usia segitu. Apa sudah tidak mens?”
“Ya, empat bulan ini tidak. Sebelumnya, agak tidak teratur.”
“O, begitu. Saya dengar ada kondisi brain fog pada wanita yang menopause. Mungkin njenengan mengalami itu.”
“Brain fog, apa itu?”
…………
Pembaca yang Budiman, itu tadi sepenggal curhatan Mbak Ed**na pada saya soal kondisi kognitifnya. Seolah, ada ‘kabut’ di dalam otaknya, sehingga ia kesulitan fokus, mudah terdistraksi, mudah lupa, berpikir lebih lambat daripada biasanya, kesulitan saat multitasking, susah mengingat info baru, hingga merasa kelelahan mental dan mood yang tidak stabil. Bukan hanya Mbak Ed**na, karena banyak juga wanita yang menopause mengalami ‘kabut otak’ semacam itu.
Tentang bagaimana menopause (saat wanita sudah tidak lagi menstruasi) memengaruhi kondisi otak, saya mendapat gambaran baru dari sejumlah hasil penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan The Menopause Society 2025 pada 21-25 Oktober di Orlando, Amerika Serikat.
Para peneliti menemukan kondisi menopause selalu disertai perubahan struktural di otak. Ada penurunan volume materi abu-abu di area-area penting; korteks frontal dan korteks temporal serta hipokampus. Pemindaian otak dengan MRI menunjukkan peningkatan jumlah hiperintensitas materi putih yang sering mengindikasikan kerusakan jaringan.
Padahal, korteks dan hipokampus berperan penting dalam fungsi memori dan pengambilan keputusan dalam otak. Penurunan kondisi pada bagian-bagian ini umumnya memengaruhi penurunan beberapa jenis kinerja memori, termasuk kemampuan verbal dan visuospasial. Itu sebabnya Mbak Ed**na dan banyak wanita lainnya yang merasa seperti pikun saat awal menopause.
Kabar baiknya, volume materi abu-abu mungkin pulih sebagian setelah beberapa saat wanita betul-betul berhenti menstruasi. Otak kita cepat beradaptasi melalui neuroplastisitas setelah mengalami beberapa periode tidak stabil. Kepadatan reseptor hormon estrogen jadi lebih tinggi selama transisi menopause, sebagai upaya otak untuk mengkompensasi penurunan kadar hormon. Maka, sangat mungkin kondisi brain fog sifatnya hanya sementara. Beda dengan kondisi pikun.
Bagaimana cara menghadapi brain fog?
Atur saja pola hidup normal. Antara lain, pastikan tidur 7–8 jam, kurangi gula dan makanan olahan, olahraga teratur, cukup minum air dan makan bergizi, sering-sering latihan kognitif, kelola kondisi yang memicu stress, konsumsi suplemen bila perlu dan aman. Biasanya Omega-3, Vitamin D, Vitamin B kompleks (terutama B6, B12), dan Magnesium. Jangan lupa, semakin dekatkan diri dan bathin pada Tuhan yang menentukan takdir kita.



POST A COMMENT.