Oleh: Budi Winarto*
mepnews.id – Mungkin di antara kita masih ada yang menganggap pekerjaan yang kita lakukan berdasar pilihan itu merupakan sesuatu yang ideal. Waktu sekolah, tentu kita memiliki impian menjadi tentara, presiden, pengusaha, dokter dengan spesialis tertentu, keliling dunia, atau lainnya. Tetapi, ketika sudah mampu menggait apa yang menjadi mimpi dan keinginan, apakah itu lantas sudah menjadi sesuatu yang ideal dalam kehidupan kita? Nah, kita perlu memperkaya wawasan dengan membaca buku karya Simone Stolzof yang berjudul Good Enough Job.
Dalam bukunya, Stolzof mencoba mengungkap bahwa apa yang menjadi pekerjaan kita atau pekerjaan apa yang kita lakukan itu bukanlah bentuk ideal. Meski pekerjaan itu pilihan kita, tetap saja bukan bentuk ideal.
Tentu kebanyakan orang normal memiliki mimpi untuk menjadi orang sukses. Mimpi itu hanya akan menjadi mimpi ketika tidak ada tindakan nyata. Ketika ingin menjadi pengusaha, misalkan, maka langkah dan tindakan kita harus menuju dan mendekat dengan impian kita. Tidak mungkin seseorang ingin menjadi pengusaha tetapi hari-harinya diisi dengan bersantai, tidur-tiduran bermalas-malasan yang semua aktifitas itu semakin menjauhkan diri dari mimpi menjadi pengusaha.
Sejak seseorang memiliki mimpi dan keingingan, kemudian mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan, ia harus disiplin, menabung, tidak boros waktu. Artinya, ia harus bisa me-manage waktu untuk kegiatan produktif, mencoba membaca peluang, mencoba berdagang, dan lain sebagainya. Itu lah yang disebut ikhtiar. Tanpa ikhtiar kuat, tidak mungkin impian jadi kenyataan.
Setelah ikhtiar kita lakukan, baru kita bertawakkal. Tawakkal adalah menyerahkan segala hasil dari apa yang sudah kita usahakan dengan kepasrahan terbaik. Apa dan bagaimana hasilnya, tentu itu wujud terbaik dari apa yang sudah kita usahakan. Itu harus kita terima.
Sebagai pemantik buku Good Enough Job, saya mencoba mengawalinya dengan beberapa pertanyaan. Apa itu pekerjaan ideal? Bagaimana mematahkan mitos terkait pekerjaan ideal? Apa benar pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai passion kita? Lantas, pertanyaan ‘kenapa kita bekerja?’ akan menjadi kunci dari perdebatan buku ini.
Tentunya, kita bekerja memiliki banyak alasan. Bisa karena pemenuhan faktor ekonomi, khususnya untuk mendapatkan uang. Bisa juga faktor politik karena kita dipaksa berada pada pekerjaan tertentu yang terkait hal tersebut. Ada juga faktor ideologi, jenis pekerjaan ini biasanya terkait nilai-nilai tertentu yang datangnya dari panggilan karena identitas atau tujuan hidup seseorang.
Dulu, sebelum adanya revolusi industri, masyarakat Eropa bekerja ala kadarnya. Mereka banyak mengandalkan alat-alat manual dan kecepatan tangan serta kaki. Mereka juga hidup dalam sistem ekonomi agraris, dengan kegiatan produksi yang dilakukan di rumah-rumah. Tetapi, semenjak revolusi industri, pola pekerjaan mulai berubah. Dari manual, beberapa pekerjaan diganti menggunakan mesin. Hal ini ditandai dengan tumbuhnya industri-industri besar. Perubahan pola hidup masyarakat dari sistem ekonomi agraris menjadi ekonomi industri juga menandai pola kehidupan setelah revolusi industri. Urbanisasi, perpindahan sebagian penduduk dari bertani berlaih ke buruh pabrik, timbulnya golongan borjuis (pemilik modal) dan golongan buruh (pekerja pabrik) yang seringkali memiliki kepentingan berbeda dan sering menimbulkan konflik. Hal-hal semacam itu petanda bergesernya cara tradisional ke industri. Petanda itu juga memengaruhi pola pikir masyarakat.
Ada satu kisah menarik yang disajikan dalam buku ini. Suatu ketika ada pembisnis yang melihat nelayan menangkap ikan dengan kualitas bagus. Dalam benak pembisnis, tentu itu bagian dari peluang. Saat itu bertanyalah pembisnis itu kepada nelayan, “Kenapa ikanmu tidak kamu jual saja?”
Si nelayan menjawab, “Buat apa ikan dijual?”
Si pembisnis menjawab, “Agar kamu bisa membeli makan, selain itu kamu juga bisa mendapatkan uang lebih.”
“Lantas, kalau aku dapat uang lebih, untuk apa?” tanya nelayan lagi.
“Kamu bisa membeli kail, memperbaiki kapal dan selanjutnya kamu mendapatkan ikan lebih berlimpah. Kamu juga akan memiliki keuntungan dan mendapatkan uang banyak.”
“Lantas, kalau aku sudah mendapatkan uang banyak, buat apa?”
“Ya kamu bisa memancing dan bersantai” jawab pembisnis dengan penuh keyakinan.”
“Kalau dengan pekerjaan tanpa harus menjual ikan aku bisa memancing dan bersantai, lantas buat apa hal itu harus saya lakukan? Bukankah tujuan saya bekerja untuk hidup tenang, bisa makan dan hidup layak, semua sudah saya dapatkan?”
Percakapan ini mungkin menyadarkan kita bahwa untuk mencapai titik ‘kesempurnaan’ dalam pekerjaan itu tidaklah semua benar. Kemudian, muncul pertanyaan besar, Sebenarnya kita bekerja itu untuk apa?
Kemudian, dalam buku Good Enough Job, ada bab khusus yang menjelaskan mistos bahwa kita adalah apa yang kita kerjakan (aktualisasi diri), kemudian pekerjaan adalah passion kita, dan mitos tempat kerja adalah keluarga serta tempat kerja harus nyaman.
Tentang mitos ‘kita adalah apa yang kita kerjakan’, Stolzof mengangkat kisah yang nara sumbernya koki. Nara sumber ini hampir sepanjang hidup menjadi koki. Ia mulai magang di restoran sampai bisa menemukan resep untuk orang-orang yang intoleran dengan susu. Saat konsumen makan yang ada kandungan susunya, mereka tidak terdampak negatif.
Pada suatu waktu, si koki ini dipertemukan dengan pembisnis kaya. Mereka sepakat melakukan kerjasama membangun restoran. Mereka bekerja bahu membahu sesuai keahlian masing-masing. Si koki membuat resep masakan enak. Si pebisnis membiayai segala kebutuhan. Sampai akhirnya restoran ini menjadi besar dan terkenal. Tetapi, di akhir cerita, si koki merasa sangat menyesal. Kenapa? Karena si pengusaha tiba-tiba mengakuisisi saham terbesar restoran ini. Koki, yang bekerja keras dengan keahlian dan bakat menjadikan restoran ini terkenal, hanya mendapatkan bagian kecil dari usaha kerasnya. Ia merasa semua yang dioptimalkan dalam pekerjaan menjadi sia-sia. Kemudian timbul pertanyaan kecil dalam hatinya, “Sesungguhnya pekerjaan yang saya lakukan dengan keahlian itu untuk siapa?” Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hanya ingin akutualisai diri dengan karya terbaiknya. Saat semua terbukti, karya itu justru dirampas dari dirinya. Nah, dari cerita ini, mitos terkait pekerjaan adalah aktualisasi diri terbantahkan.
Tentu masih banyak cerita terkait antitesa mitos pekerjaan dari buku Good Enough Job ini. Sayangnya, Stolzof dalam buku ini tidak menyimpulkan secara gamblang tentang kesimpulan dari apa yang ia tulis.
Oleh karena itu, pembaca harus cerdas menyikapi makna yang terkandung dari buku ini. Kalau boleh menyimpulkan dari penjelasan, buku ini sangat bagus karena mengajarkan kita hakikat rasa syukur. Ketika rasa syukur tertanam kuat dalam diri dan jiwa kita, maka hal itu akan menjadi pembatas kebutuhan dan keinginan karena nafsu yang terpenjara. Kita akan senantiasa merasa cukup serta bahagia dalam menjalani kehidupan.
Di sisi lain, tidak akan pernah ada sesuatu yang lebih sempurna yang akan kita dapatkan kecuali dengan ikhtiar terbaik yang bisa kita lakukan. Dari sini, niat seseorang dalam memulai pekerjaan akan sangat berpengaruh pada saat proses maupun saat mendapati apa pun hasil akhirnya. Yang perlu menjadi catatan, niat baik dan bekerja keras tidak akan pernah mengkhianati kebermanfaatan kita dalam sisi nilainya.
Allahu a’lam bishawab.
- Penulis kelahiran Kabupaten Malang yang berdomisili di Kabupaten Mojokerto. Berbagi Manfaat Positif (BMP).


