mepnews.id – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melalui Kuliah Kerja Nyata dan Pengabdian Masyarakat (KKN Abmas), mengimplementasikan teknologi pengering Spouted Bed (unggun pemancar) untuk gabah sorgum. Inovasi ini diharapkan dapat mengatasi kendala pascapanen sorgum di Indonesia.
Ketua tim KKN Abmas ITS, Muhammad Eisyen Falechi Aditya, memaparkan sorgum merupakan tanaman banyak manfaat, khususnya biji dan batangnya. Sorgum juga dikenal tahan kondisi ekstrim dan mudah ditanam pada berbagai jenis lahan. “Tanaman ini memiliki potensi menjadi pengganti gandum,” tuturnya, lewat situs resmi its.ac.id.
Sayangnya, produksi sorgum di Indonesia masih rendah. Lima tahun terakhir, produksinya hanya meningkat 1.581 ton, dari 6.114 ton jadi 7.695 ton. Salah satu penyebabnya, pengeringan sorgum masih menggunakan metode konvensional. “Bergantung cuaca dan memakan waktu panjang, hingga tujuh hari,” ungkap Mahasiswa Teknik Kimia Industri ITS itu.
Berangkat dari problematika tersebut, Tim KKN Abmas ITS mengimplementasikan teknologi pengering unggun pemancar. Eishen menjelaskan, teknologi ini memanfaatkan udara panas untuk mengeringkan gabah sorgum tanpa harus bergantung cuaca.
Gabah ditempatkan dalam kolom pengering dan dihembus udara panas. Selanjutnya, udara panas membentuk arus yang membuat gabah bergerak dinamis agar pemanasan merata. Uap dalam sorgum cepat berpindah sehingga membuat penurunan kadar air terjadi secara efisien.
Eisyen menuturkan, KKN Abmas ITS awalnya membuat prototipe unggun pemancar berkapasitas 10 kg. Kemudian, prototipe diperbesar hingga berkapasitas 100 kg gabah di lapangan. Konsumsi energi sistem juga ditingkatkan, khususnya pada sirkulasi udara panas. “Pada proses perancangan, tim kami melibatkan para mitra petani untuk umpan balik dan saran,” jelasnya.
Keunggulan lain alat ini ada pada kebutuhan bahan bakarnya. Mahasiswa angkatan 2022 itu menjelaskan, sistem pemanas dirancang agar dapat menggunakan limbah pertanian sebagai bahan bakar alternatif. Ini langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung keberlanjutan energi lokal.
Untuk memastikan keberlanjutan teknologi ini, Tim KKN Abmas ITS memberikan sosialisasi dan pelatihan intensif kepada petani lokal. Para mahasiswa juga melakukan demonstrasi serta menyediakan modul teknis agar petani mampu mengoperasikan alat secara mandiri. (Khaila Bening)


