Ya! Orang Dewasa Juga Bisa Autis

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, aku perlu curhat. Tapi ini rahasia, ya. Confidential,” kata Rere seorang teman lama.

“Oh, tentu…tentu…. Rahasia terjamin di sini. Ada rahasia apa?” saya menanggapi.

“Setelah melihat anakku didiagnosis autis, setelah baca banyak artikel dan nonton video tentang autisme, saya mulai berpikir… mungkin saya juga autis.”

“Oh, ya?” saya memancing ia untuk terus bicara.

“Sebenarnya, sejak kecil saya sudah merasa sulit memahami perasaan orang lain. Belakangan ini, saya sering tidak nyaman saat banyak orang, sering canggung atau salah menafsirkan ekspresi orang. Saya tidak tahu mengapa orang yang baru pertama kali bertemu lebih suka mengobrol ringan daripada mengobrol serius. Saya mudah panik kalau ada perubahan rencana mendadak. Yang saya baru sadar, saya juga punya kebiasaan mengulang-ulang gerakan tertentu saat stres. Ini seperti anak saya.”

“Emm, iya..iya.. Kadang, orang dewasa bisa baru menyadari kondisi neurodivergen.”

“Apa itu?”

“Cara berpikir, belajar, dan berinteraksi yang berbeda daripada kebanyakan orang. Ini bisa terkait kondisi neurologis. Misalnya; autisme, ADHD, OCD, disleksia, dispraksia, tourette syndrome, atau lainnya.”

……………

Pembaca yang budiman, kita sering mendengar bahwa autisme itu biasa dihubungkan dengan anak-anak. Umumnya, anak-anak autis disebut ‘anak istimewa’ atau ‘anak berkebutuhan khusus (ABK)’. Tapi, kondisi autis juga bisa memapar orang yang sudah dewasa.

Di Amerika Serikat, makin banyak orang dewasa ingin memahami kondisi neurodiversitas mereka sendiri dalam dekade terakhir — sering kali setelah anak-anak mereka didiagnosis atau setelah melihat unggahan media sosial. Lebih konkrit, ada peningkatan diagnosis autisme 452% di antara orang dewasa berusia 26 hingga 34 tahun antara tahun 2011 hingga 2022.

Secara umum, gangguan spektrum autisme orang dewasa meliputi serangkaian kesulitan dalam hal intelektual, bahasa, dan sosial. Orang yang autis biasanya mengikuti rutinitas secara kaku, memiliki minat yang terlalu tetap atau obsesif, dan kesulitan melakukan kontak mata atau kesulitan memahami komunikasi nonverbal.

Namun, beberapa ciri autisme dapat luput dari perhatian saat dewasa. Bisa jadi karena si orang dewasa itu telah belajar cara menyembunyikan perilaku tertentu (alias masking). Bisa jadi ada gejala yang tumpang tindih dengan berbagai gangguan seperti ADHD, OCD, tourette syndrome, atau lainnya. Yang lebih menyulitkan, gejala autistik ini sangat mungkin berbeda antara satu orang dewasa dengan orang dewasa lainnya.

Masalahnya, di sini lebih banyak terapis autis untuk anak daripada untuk orang dewasa. Padahal, metode pengujian, metode penanganan, dan metode terapi autis untuk anak dan untuk dewasa tentu tidak sama. Di sisi lain, orang dewasa kadang juga terlambat menyadari apakah mengalami kelainan atau tidak.

Untuk menangani orang dewasa, maka psikiater, psikolog atau spesialis terapi autis biasanya melakukan skrining awal. Tentu ada tes diagnostik standar atau penilaian klinis. Mereka mungkin juga perlu mewawancarai orang-orang yang dekat dengan pasien di masa kecil –misalnya dengan keluarga dan teman– yang dapat membantu mengungkap adanya gejala pada masa lalu.

Jika sudah didiagnosis, terapis dapat memberikan terapi yang disesuaikan kebutuhan orang dewasa. Antara lain terapi perilaku kognitif (CBT) untuk membantu mengubah pola pikir dan perilaku yang kaku, terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, pelatihan keterampilan sosial, dukungan perilaku, hingga terapi integrasi sensori. Tentu, disesuikan dengan hasil diagnostik dan kondisi pasien.

Facebook Comments

Comments are closed.