Hahaha, Terapi Tawa agar Sehat dan Bahagia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, saya sempat stres banget akhir-akhir ini. Terus, ada teman merekomendasikan terapi tawa. Awalnya saya pikir ini aneh. Tapi, setelah saya coba, eh ternyata seru juga!” begitu curhatan seorang tetangga kompleks.

“Oh, ya?” saya memberi atensi. “Terus, ngapain aja di sana?”

“Mulanya, pemanasan dulu. Peregangan ringan. Terus, instrukturnya mulai memandu peserta buat ketawa. Saya merasa awalnya ketawa terpaksa. Lama-lama, karena semua orang ketawa, rasanya saya jadi khusuk tertawa. Itu benar-benar bikin lega.”

“Hahaha, saya jadi pingin ketawa juga.”

………….

Pembaca yang budiman, apa yang dilakukan tetangga saya itu pas. Cocok dengan kearifan leluhur kita. Cocok dengan temuan-temuan ilmiah.

Dulu, saya sering dengar orang tua-tua di sekitar yang saling menasihati; “Jangan marah terus, nanti cepat tua,” atau “Tertawa adalah obat terbaik.”

Konon, Aristoteles filsuf Yunani yang hidup sekitar 300 tahun sebelum keberadaan Kristus, pernah menyebut, “Tertawa adalah olahraga tubuh yang berharga bagi kesehatan.”

Banyak ilmuwan yang sependapat. Sejak tahun 1970-an, para ahli medis mempelajari bahwa tertawa dapat meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

Sekadar latar belakang, tubuh kita punya hormon stres yang disebut kortisol. Hormon ini diproduksi kelenjar adrenal. Fungsinya untuk menjaga tekanan darah, mendukung fungsi kekebalan tubuh, meningkatkan metabolisme, dan membantu kita agar tetap terjaga. Fungsinya baik jika dalam kondisi normal. Tapi, saat kita stres, tubuh memproduksi lebih banyak kortisol. Efeknya, terlalu banyak kortisol dapat menyebabkan kecemasan, depresi, kelemahan otot, masalah pencernaan, hingga penambahan berat badan dalam jangka panjang.

Dr Caroline K. Kramer, endokrinologis di RS Mount Sinai sekaligus asisten profesor di University of Toronto, Kanada, dan Profesor Cristiane B. Leitao dari Universidade Federal do Rio Grande do Sul, Brazil, mengungkap mekanisme hubungan antara kortisol dan tertawa.

Ulasan mereka berdasarkan delapan penelitian terkontrol yang mengungkap, kadar kortisol turun hingga 31,9% untuk orang yang berpartisipasi dalam intervensi tertawa. Bahkan, satu sesi tertawa saja dapat menurunkan kortisol 36,7%. Berapa pun lamanya peserta, setiap tawa dapat menyebabkan penurunan kortisol.

Penelitian ini mendukung pengetahuan lama bahwa tertawa spontan adalah pengobatan yang baik sebagai pencegahan atau sebagai terapi jika dikaitkan dengan penurunan kadar kortisol. Analisis ini menunjukkan peran terapeutik potensial dari intervensi pemicu tawa sebagai strategi pelengkap untuk meningkatkan rasa sejahtera setiap orang.

Sebelumnya, F. N. Gonot-Schoupinsky dan Gulcan Garip dari University of Derby di Inggris juga mengungkapkan tertawa bisa meningkatkan rasa sejahtera pada orang dewasa tua. Tertawa juga meningkatkan kesehatan mental dan mendukung pengembangan pribadi.

Apa lagi manfaatnya?

  • Tertawa dapat meningkatkan produksi antibodi dan sel-T yang memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga kita lebih tahan terhadap penyakit.
  • Tertawa meningkatkan aliran darah dan meningkatkan fungsi pembuluh darah yang dapat membantu mencegah masalah kardiovaskular termasuk serangan jantung.
  • Karena mengurangi stres dan kecemasan, tertawa dapat membantu kita tidur lebih nyenyak dan berkualitas.
  • Tertawa merangsang kedua sisi otak sehingga bisa meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kita.
  • Tertawa memicu pelepasan endorfin sebagai pereda nyeri alami. Ini dapat membantu mengurangi rasa sakit secara fisik maupun emosional.
  • Secara sosial, tertawa bersama orang lain bisa meningkatkan hubungan. Ini bisa mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kebahagiaan.

Tapi, meski banyak manfaat, tentu saja jangan sembarangan atau berlebihan tertawa.

Bayangkan, kalau Anda sendirian lalu tertawa-tawa, apa yang akan difikirkan orang lain saat melihat Anda. “Agak laen, nih, orang,” mungin mereka berfikir begitu.

Islam tidak melarang umatnya tertawa sebaiknya tetap terkontrol. Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dicatat dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, “Sering tertawa akan mematikan hati.” Ya, hati kita jadi tidak peka jika misalnya kita terlalu sering mentertawakan orang lain.

Jadi, tertawalah jika perlu untuk kesehatan atau untuk pergaulan sosial. Tapi, jangan asal-asalan tertawa atau berlebihan tawa.

Facebook Comments

Comments are closed.