Kreatif Itu Bagus, Asal Jangan Malevolent

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada seorang teman yang curhat tentang kasus kriminal. “Beberapa bulan lalu, saya ikut program investasi. Tapi saya dibohongi. Saya sudah lapor ke polisi. Tapi saya perlu curhat agar lebih lega dan memahami masalah.”

“Oh, dengan tangan terbuka. Saya ada di sini untuk mendengar.”

“Sekitar lima bulan lalu, saya dipertemukan dengan orang yang berpenampilan brilian. Ia lalu mempresentasikan skema investasi yang sangat meyakinkan. Ada data, grafik, dan bahkan testimoni orang-orang sukses berinvestasi dengannya. Ia juga memperkenalkan situs web canggih dan interaktif dengan fitur kalkulator investasi yang bisa menghitung berapa keuntungan yang saya bisa dapatkan.”

“Wah, kelihatannya dia benar-benar cerdas, kreatif, dan profesional ya.”

“Iya. Itu yang membuat saya percaya. Lalu saya dan beberapa teman menginvestasikan uang kami. Semuanya berjalan lancar selama tiga bulan. Kami menerima laporan bulanan dengan rincian keuntungan yang kami dapatkan. Tapi, kemudian situs webnya tiba-tiba hilang. Semua kontak orang itu tidak bisa dihubungi. Uang kami lenyap begitu saja. Baru kemudian kami menyadari semua itu penipuan yang dirancang dengan sangat kreatif.”

………….

Pembaca yang budiman, saya tidak membeberkan kasus kejahatan yang menimpa teman saya itu, tapi saya ingin membahas apa yang biasa disebut sebagai malevolent creativity alias kreativitas jahat.

Kreativitas biasa disebut sebagai salah satu karakter baik karena memiliki banyak manfaat positif dan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kreativitas, orang bisa menemukan solusi inovatif dan efektif untuk berbagai masalah, bisa mendorong inovasi teknologi, seni, sains, bisnis, dan lain-lain. Kreativitas sering kali menghasilkan produk, layanan, atau ide yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Tapi, banyak juga kreativitas seseorang yang justru menghasilan penderitaan orang banyak. Politisi berjanji yang baik-baik, namun perbuatannya untuk kepentingan sendiri dan menggerus kesejahteraan masyarakat banyak. Ada pialang yang cerdas namun kecerdasannya hanya untuk mengeruk uang klien, seperti yang dialami teman saya. Ada juga kekasih yang mulutnya manis namun pada akhirnya menyakitkan pasangan.

Ternyata, kreativitas itu juga punya sisi gelap. Kreativitas digunakan dengan sengaja untuk merusak orang lain. Wujudnya bisa berupa kebohongan, kejahatan, teror, dan sejenisnya. David H. Cropley dari University of South Australia, James C. Kaufman dari California State University di San Bernardino, dan Arthur J. Cropley dari University of Hamburg sudah melakukan penelitian empiris tentang itu.

Hongyu Fu dan Zhonglu Zhang dari University of Guangzhou menyebut, “Malevolent creativity mengacu pada ide atau perilaku kreatif yang dengan sengaja merugikan orang lain, organisasi, masyarakat, dan simbol-simbol lebih luas mereka.”

Orang dengan kecenderungan malevolent creativity mungkin setiap hari berbohong tanpa alasan selain untuk membuat kerusakan orang lain atau sekadar menghibur diri sendiri. Ia juga bisa menciptakan lebih dari sekedar kenakalan dengan menggunakan kreativitas untuk mengungguli rekan kerja atau mencari cara untuk menguras rekening bank orang lain. Pendeknya, ia bisa jadi sangat jahat dan berperilaku tidak bermoral

Bagaimana menghadapi kecenderungan malevolent creativity?

Penelitian Zhang dan Fu mengarah pada titik temu antara ciri-ciri kepribadian dan kualitas emosional stabil yang menghasilkan pikiran-pikiran berbahaya tanpa ada penyesalan moral. Maka, cara mengatasi kecenderungan malevolent creativity adalah pendidikan sejak dini. Anak-anak yang suka merencanakan cara untuk menyakiti orang lain, secara teoritis, harus segera dididik dengan cara yang membentuk moral baik mereka.

Tapi, itu kan jangka sangat panjang? Padahal, kita bisa saja menghadapi si kreatif jahat ini dalam kehidupan sehari-hari sekarang. Kalau sudah begitu, bagaimana?

Anda dapat menggunakan temuan Zhang dan Fu ini untuk memahami fakta bahwa sekadar empati dan simpati tidak akan membantu dalam mengekang si kreatif jahat itu. Rasanya, tidak ada gunanya memberi tahu si penipu itu bagaimana perasaan Anda terhadap perilakunya. Akan lebih efektif jika Anda tegas menyatakan bahwa perbuatannya salah dan berkonsekuensi hukum. Anda dapat menegur dia atas apa yang telah dia lakukan tanpa Anda perlu khawatir akan menyakiti perasaannya.

Sikap teman saya yang membawa kasus investasinya ke ranah hukum adalah pas untuk membuat jera si investor abal-abal yang mengeruk uangnya.

Facebook Comments

Comments are closed.