mepnews.id – Perpustakaan Nasional (Perpusnas), melalui Perpusnas Press, bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan sosialisasi Inkubator Literasi Pustaka Nasional dan peluncuran Gerakan Pustakawan Jawa Timur Menulis Buku.
Kegiatan pada Kamis 20 Juni 2024, di Graha Pustaka Jl. Menur Pumpungan No. 32 Surabaya, ini diikuti sejumlah aktivis literasi dan pustakawan dari berbagai penjuru Jawa Timur secara online maupun setempat.
Kepala Disperpusip Jatim, Tiat Suwardi, dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini dapat menambah semarak upaya peningkatan literasi masyarakat di Jawa Timur sehingga nantinya turut mendorong penguatan literasi. “Harapannya, ini dapat meningkatkan literasi masyarakat di Jawa Timur. Ke depan, kami sangat terbuka dan siap men-support kegiatan keliterasian lainnya, terutama penulisan,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Tiat juga meluncurkan Gerakan Pustakawan Jawa Timur Menulis Buku. Gerakan ini inisiatif kolaborasi antara Perpusnas, Perpusnas Press dan Dinas Perpusip Jatim untuk mendorong para pustakawan dan pengelola perpustakaan lebih aktif menulis dan menerbitkan karya terutama dalam bentuk buku.
Melalui penulisan buku, pustakawan dan pengelola perpustakaan dapat mengembangkan kemampuan menulis dan berpikir kritis. Buku yang ditulis pustakawan dan pengelola perpustakaan juga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat luas. Nantinya, buku yang dihasilkan dari gerakan ini dibukukan dan diterbitkan Perpusnas Press.

Para pemateri dan moderator dalam sosialisasi Inkubator Literasi di Perpusip Jatim.
Sesi diskusi sosialisasi Inkubator Literasi Pustaka Nasional Jawa Timur menghadirkan empat narasumber. Edi Wiyono, pustakawan Perpusnas sekaligus pemimpin Redaksi Perpusnas Press. Yusron Aminulloh, Teguh Wahyu Utomo dan Bambang Prakoso dari Yayasan Iqro Semesta. Diskusi dipandu moderator Damaji Ratmono pustakawan Perpusnas.
Edi Wiyono, yang menginisiasi Inkubator Literasi Pustaka Nasional, mengatakan kegiatan ini memberi potensi untuk memberdayakan masyarakat dengan menulis. “Menggunakan kemampuan menulis sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran, keterampilan, dan partisipasi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan,” tegasnya.
Ia menekankan, Inkubator Literasi adalah gerakan penguatan literasi, akses informasi, aktualisasi diri hingga bagaimana menulis sebagai upaya melestarikan budaya dan sejarah. “Semakin membaiknya kemampuan menulis masyarakat akan berdampak pada kemampuan memahami isu-isu penting dan pengambilan keputusan yang lebih baik sekaligus kemampuan untuk mencari, memahami, dan menggunakan informasi yang relevan dengan kehidupan mereka,” tambahnya.
Yusron Aminulloh memberi tips; untuk dapat menjadi penulis yang baik harus lebih dulu menjadi pembaca yang baik. Banyak membaca bisa menjadi modal penting untuk dituangkan kembali dalam bentuk tulisan.
”Membaca itu mencerahkan. Banyak orang gelap hidupnya, tidak jelas arah hidupnya, kabur pandangannya. Maka, dengan membaca, mereka akan menemukan lampu penerang jalan. Pandangan masa depan bisa tergambar lewat bacaan,” tambahnya.
Bambang Prakoso mengungkapkan, orang-orang yang berpengaruh di dunia juga karena mereka adalah pembaca-pembaca ulung. Mahatma Gandhi, Elon Musk hingga Sukarno adalah di antara orang besar dengan kebiasaan membaca yang baik. ”Membaca akan meningkatkan skill literasi, yang di antaranya adalah memproduksi nalar kritis untuk menjawab persoalan dan tantangan hidup,” ungkapnya.
Pemapar terakhir, Teguh Wahyu Utomo, memaparkan bagiamana membuat karya yang baik dan layak terbit. Beberapa kriteria untuk penulisan popular antara lain unsur orisinalitas dan kebaruan.
”Menyajikan ide-ide orisinal atau data-data yang digali betulan. Bukan hoaks. Bukan abal-abal. Jangan menjiplak karya orang lain. Juga, tulisan harus mampu menawarkan perspektif baru atau informasi baru yang belum banyak dibahas sebelumnya,” tambahnya.
Sharing dari para narasumber ini menjadi informasi penting bagi para peserta sosialisasi yang akan berpartisipasi dalam kegiatan kepenulisan Inkubator Litrerasi di Jawa Timur.
Kepenulisan bertema ‘Ragam Pesona Jawa Timur’ ini didesain untuk mendorong, membina dan mempercepat kemampuan dan keberhasilan masyarakat untuk menghasilkan karya penulisan dengan tema kearifan lokal. Karya tersebut kemudian dibukukan, diterbitkan dan didiseminasikan ke tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari khazanah ilmu pengetahuan.
Inkubator Literasi ini sudah dilaksanakan tahunan sejak 2020 dengan menghasilkan 45 judul buku karya lebih dari 600 penulis. Begitu juga dengan Inkubator Literasi di Jawa Timur. Naskah terbaik yang lolos kurasi dan naskah terpilih juga akan dibukukan dan diterbitkan Perpusnas Press.


