Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Anak saya tidak terlalu suka matematika. Di sekolahnya, ia bahkan dua tahun nyaris tidak bersentuhan dengan matematika. Padahal, saya berharap ia cukup percaya diri menghadapi matematika. Buat saya, matematika itu penting sebagai metode berfikir; bukan sekadar hitung-menghitung.
Maka, hati saya berbunga-bunga saat menemukan artikel ‘The gendered maths confidence gap, social influence and social integration‘. Artikel ini hasil kajian sosiolog Isabel J. Raabe dari Institute of Sociology, University of Zürich, di Swiss, dan mitranya Per Block yang juga mengajar di Leverhulme Centre for Demographic Science, University of Oxford, Inggris.
Bukan rumusan atau soal-soal matematika yang mereka bahas. Karena keduanya sosiolog, yang diungkapkan justru mekanisme sosial yang berkontribusi terhadap kondisi objek penelitian terhadap matematika. Maka, studi yang menganalisis data 8.812 individu di 358 ruang kelas dalam analisis jaringan sosial longitudinal ini menemukan kesenjangan kepercayaan diri berdasarkan gender terkait matematika.
“Khusus pada masa remaja, teman sebaya merupakan rujukan sosial utama bagi perkembangan individu. Proses teman sebaya yang dilakukan melalui jaringan pertemanan menentukan berbagai hasil individu,” kata Isabel Raabe.
Lebih rinci, mereka menemukan bahwa kepercayaan diri anak laki-laki terhadap matematika sangat dipengaruhi oleh perbandingan dengan teman sebaya. Meski tidak hebat-hebat amat, anak lelaki bisa jadi lebih pede menghadapi matematika saat ada teman-temannya. Ini berbeda dengan anak perempuan yang lebih mendasarkan penilaian diri berdasarkan kinerja sebenarnya.
Temuan mereka juga menunjukkan, anak perempuan seringkali kurang percaya diri terkait matematika jika dibandingkan anak laki-laki meski mereka memiliki kemampuan yang boleh dikata setara. Kesenjangan kepercayaan diri ini bisa berdampak pada pilihan karier, sehingga menyebabkan lebih sedikit perempuan bekerja di bidang STEM (Sains, Teknologi, Enjiniring, dan Matematik).
Mengapa demikian? Menurut peneliti, anak laki-laki cenderung terlalu percaya diri dalam proses sosial. “Secara umum, anak laki-laki lebih peka terhadap proses sosial dalam persepsi diri. Anak laki-laki lebih bisa membandingkan diri mereka dengan orang lain untuk mendapatkan validasi dan kemudian menyesuaikan kepercayaan diri mereka,” jelas Raabe.
Tapi, penelitian ini lebih menunjukkan kondisi di masyarakat Barat. Rata-rata anak perempuan sekolah menengah kurang percaya diri terhadap kemampuan matematika dibandingkan rata-rata anak laki-laki pada usia yang sama. Padahal, pada saat yang sama, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara prestasi matematika anak perempuan dan anak laki-laki.
Meski kondisinya belum pasti sepenuhnya berlaku di sini, tentu saya dapat memanfaatkan hasil temuan itu. Setidaknya, saya mungkin bisa mengasah naluri matematik anak saya dengan cara mendatangkan teman-temannya untuk adu argumen tentang matematika.


