Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Aduh, aduh, aduh…saya begitu tertekan belakangan ini. Segala sesuatu terasa begitu berat. Semua terasa menumpuk. Pekerjaan, masalah hubungan, keuangan, bahkan sakit pinggang. Saya nggak punya cukup waktu mengatasinya. Saya kewalahan,” begitu keluh seorang teman.
“Loh, koq seperti gejala stress berat?” saya mencoba bercanda menenangkannya.
“Sudah tahu gitu, gak segera menolong?” dia ngambek.
“Oh, ada cara sederhana yang bisa meredakan tekanan itu.”
………..
Pembaca yang budiman, gejala tekanan mental semacam kecemasan, ketegangan, stress, bahkan depresi, memang semakin sering dirasakan orang di zaman yang serba instan ini. Orang bisa mengeluarkan biaya besar dan waktu banyak untuk keluar dari tekanan itu.
Sebenarnya, ada banyak cara yang bisa kita lakukan sendiri tapi cukup lumayan hasilnya untuk meredakan ketegangan mental. Mau tahu? Nih, beberapa cara yang bisa kita praktikkan sendiri.
Sebagai umat Tuhan, cara paling mutlak adalah tawakal. Kita sejak awal harus mengembangkan keyakinan kuat bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin dan kehendak Allah SWT. Dalam kondisi begini, kita bisa merelakan atau mengikhlaskan kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, lalu meningkatkan rasa ketenangan dan kepercayaan diri.
Lalu, kita perlu menjaga kesehatan fisik dan mental, antara lain menjaga pola makan sehat, berolahraga secara teratur, tidur cukup, dan sejenisnya. Jangan lupa, sebagai makhluk sosial, kita juga perlu menjalin hubungan yang baik dengan keluarga, teman, tetangga dan komunitas, sehingga bisa mendapat dukungan sosial dalam mengatasi masalah mental.
Sebenarnya, ada juga praktik kecil-kecilan rutin harian yang bisa membantu mengatasi stres dan kecemasan. Ada hasil studi terbaru yang mengungkap, self-compassion micropractice alias praktik kecil-kecilan welas asih pada diri sendiri dapat menurunkan kecemasan dan stres.
Untuk efektif mengatasi stress, praktik ini tidak memakan waktu lama setiap hari. Bahkan bisa cuma 20 detik tapi rutin. Misalnya, dengan meletakkan tangan di atas jantung atau perut sambil berfikiran positif, dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi kadar hormon stres.
Inovasi disruptif ini dapat dilakukan dan nyaman dipraktikkan di mana saja dan kapan saja. Bisa di tempat kerja, sebelum tidur, saat sibuk penuh appoinment dan rapat, hingga saat santai. Ketika sudah mendapatkan suasana hati positif, Anda akan bisa menghadapi situasi stres atau tugas yang menekan.
Studi oleh tim peneliti Departemen Psikologi di University of California Berkeley, Amerika Serikat, ini menemukan, orang yang melakukan praktik mikro self-compassion secara teratur memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan suasana hati mereka setelah sebulan. Sebagai perbandingan, orang yang tidak mempraktikannya secara teratur bakal tidak mengalami kemajuan keadaan mental mereka.
Terus, bagaimana cara melakukan micro self-compassion 20 detik itu?
Marlynn Wei MD JD, psikiatris lulusan Universitas Harvard dan Universitas Yale serta praktisi yoga, memberi contoh praktik micro self-compassion.
Dengan lembut letakkan satu tangan di atas jantung dan/atau satu tangan lainnya di atas perut. Terserah, mana yang lebih nyaman. Lalu, tarik napas dalam-dalam perlahan, dan rasakan hubungan lembut antara tangan dan tubuh Anda. Fokus pada sensasi hangat tangan Anda di dada dan/atau perut. Tarik napas dalam-dalam dan perhatikan gerakan, suara, suhu, dan sensasinya.
Berikutnya, silakan memikirkan afirmasi welas asih pada diri sendiri yang Anda mau. Misalnya;
- “Saya akan bersabar dan baik pada diri saya sendiri.”
- “Saya menggunakan waktu ini untuk menghargai diri saya.”
- “Tidak ada orang yang sempurna, maka saya memaafkan diri sendiri.”
Kalau saya, afirmasi yang lebih mantap adalah doa mendekatkan diri pada Tuhan untuk minta tolong menyelesaikan semua masalah. Misalnya;
- Aku berserah diri kepadaMu, aku bertawakal kepadaMu, aku bertaubat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu.
- Lalu, sebutkan permasalahan yang menekan batin itu dan minta tolong pada Tuhan untuk membantu menyelesaikan.
Bagi yang belum terbiasa, micro self-compassion mungkin terasa asing pada awalnya. Tapi, jika dilakukan teratur, ini akan menjadi lebih mudah seiring waktu. Tekanan dalam mental akan berkurang jika kita menghubungkan diri dengan Tuhan yang jauh lebih besar sambil mensyukuri diri sendiri apa adanya.


