mepnews.id – Setiap berlangsungnya pemilihan umum (pemilu), bermunculan buzzer di berbagai media sosial. Kehadiran para ‘pendengung’ ini kadang menyegarkan, tapi lebih sering menjengkelkan. Informasi yang didengungkan bisa mencerahkan, bisa pula menghasut yang berpotensi kekacauan.
Secara garis besar, buzzer bisa dibagi ke dalam dua kelompok besar. Organic dan unorganic. Yang organic, biasanya berasal dari partai politik tertentu, dan bukan bayaran, serta pengikut akun media sosialnya adalah pengikut asli dan bukan bot. Yang unorganic biasanya punya pengikut tidak asli, dan biasanya bot.

Ali Sahab, dosen Ilmu Politik Unair.
Ali Sahab SIP MSi, pengamat politik Universitas Airlangga, melalui fenomena buzzer memang saat ini tidak dapat dihindari terutama menjelang Pemilihan Umum. Akan tetapi, permasalahan terkait buzzer ini dapat disiasati dengan pencerdasan pemilih.
“Kita tidak bisa melarang para kandidat membuat pasukan buzzer. Maka, yang kita harus fokus pada pencerdasan pemilih. Jika pemilih di Indonesia cerdas, buzzer kekuatan dengan sebesar apa pun tidak akan berpengaruh,” ujar dosen Ilmu Politik itu.
Esensi hadirnya buzzer itu sendiri, menurut Ali, pasti ingin mempengaruhi opini publik. Tujuan adanya buzzer yang organic maupun yang unorganic adalah menyasar pemilih yang belum mempunyai pilihan pasti.
“Pemilih yang belum tahu mau memilih siapa akan mudah dipengaruhi akun-akun buzzer yang tersebar di media sosial. Maka, perlu pencerdasan pemilih agar pemilih tidak tertipu akun buzzer yang kerap menyebarkan hoax,” tutur Ali.
Ali mengingatkan, buzzer biasanya menyasar pemilih yang menggunakan internet atau media sosial. Padahal, mayoritas pemilih di Indonesia termasuk tidak intens menggunakan internet atau media sosial. “Jadi, agak beda realitas di dunia maya dengan realitas di dunia nyata,” ucap Ali.
Ali menekankan, akademisi seharusnya ikut mendorong kegiatan yang mencerdaskan pemilih sehingga dapat membedakan calon mana yang pantas serta layak untuk dipilih dan mana yang tidak. “Memang belum ada aturan tentang buzzer, tetapi kita tidak usah pusing. Yang perlu didorong adalah mencerdaskan pemilih,” tegas Ali.
Ali menjelaskan, karena akun buzzer kerap membawa isu-isu emosional maka pemilih harus mengecek agar tahu apakah isu yang disebarluaskan itu benar atau tidak. “Akun buzzer kebanyakan unorganic dan anonim. Maka dari itu, pemilih harus cerdas. Bahkan, harus bisa mensortir berita dari media mainstream. Setiap media pasti punya agenda setting masing-masing,” kata Ali. (*)


