mepnews.id – Program pertukaran mahasiswa menjadi bagian dari ajang berbagi pengalaman serta menambah jejaring dari perguruan tinggi lain. Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Modul Nusantara, bagian dari program nasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka, memberi kesempatan bagi mahasiswa ikut merasakan kuliah di perguruan tinggi lain di seluruh Indonesia.
Aza Khiatun Nisa, mahasiswi Program Studi Ilmu Filsafat, Uiversitas Gadjah Mada, ikut program tersebut. Sejak awal September 2023, ia mengikuti perkuliahan di Universitas Khairun, Ternate. Selama satu semester, ia mengikuti perkuliahan Antropologi Sosial, Ilmu Sejarah dan Sastra Indonesia.
Empat bulan setelah mengikuti perkuliahan, Aza mengaku menimba pengalaman. Ikut PMM Modul Nusantara, ia berkesempatan belajar kebudayaan di wilayah tujuan. ”Saya belajar langsung kebudayaan Maluku Utara, mengikuti perkuliahan di kampus yang berbeda, memiliki mama dan papa piara, serta memiliki teman dari seluruh Indonesia,” ungkapnya, lewat situs resmi ugm.ac.id.
Aza juga mempelajari empat sub dalam Modul Nusantara. Salah satunya kebhinekaan. Atas arahan Dosen Pendamping, Aza mengunjungi Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo, dan Kesultanan Bacan.
”Saya juga mengeksplorasi wisata di sekitarnya. Ini sangat bermakna bagi saya dalam memahami kontribusi kesultanan di masa kolonial dan mengetahui berbagai potensi yang dimiliki Maluku Utara,” kata Aza.
Melengkapi sub modul inspirasi, Aza belajar tentang pariwisata berbasis masyarakat. Ia belajar bersama penggagas Cengkeh Afo, sebagai kekayaan kuliner tradisional di Ternate.
Untuk sub modul refleksi, metode belajar yang dilakukan dengan cara menghadiri undangan pernikahan adat masyarakat Ternate. ”Setelahnya, para peserta diajak berkumpul dan berdiskusi, menceritakan pengetahuan baru tentang adat pernikahan di Ternate. Peserta PMM lainnya juga diajak menceritakan tradisi pernikahan di daerah masing-masing,” kenangnya.
Di luar aktivitas PPM Modul Nusantara, Aza aktif menulis kuratorial pameran yang didanai Balai Pelestari Kebudayaan XXI di Ternate. Aza juga didaulat mewakili mahasiswa PMM inbound Universitas Khairun untuk menjadi narasumber talkshow di RRI Pro 2 Ternate. Ia juga didapuk mengisi workshop penulisan ilmiah bagi mahasiswa Universitas Khairun yang memperoleh beasiswa Bank Indonesia.
Bagi Aza, pembelajaran PMM Modul Nusantara di Ternate memunculkan refleksi adanya isu ketimpangan pendidikan Indonesia area barat dan timur. Ketimpangan dari sisi tenaga pengajar, mahasiswa, fasilitas perkuliahan maupun prosedur layanan akademik.
”Saya menyadari betul bahwa ketidaksetaraan pendidikan terkait akses dan motivasi itu benar adanya. Timpang. Kondisi ini menjadi poin penting bagi pemerintah. Barangkali program pertukaran bisa menjadi salah satu cara mahasiswa untuk belajar dan mengamati ketimpangan ini, kemudian diperbaiki,” tegasnya. (Diah Listianingsih)


