Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM
mepnews.id – Yang saya bahas di sini hasil penelitian terhadap orang-orang Barat lho ya. Bukan orang sini. Responden dan penelitinya dari Eropa, bukan Indonesia. Tapi koq ada sejumlah kemiripan dengan kita ya?
Dalam masyarakat Barat, uang dapat mempunyai dampak besar bagi kesejahteraan mental. Antara lain terkait; keamanan finansial, ketenangan pikiran, kemampuan memenuhi impian, meningkatkan status sosial, mengurangi stres dan tekanan, hingga bisa memilih prioritaskan nilai dan tujuan.
Nah, Wiebke Bleidorn dan kawan-kawan melakukan penelitian menjawab pertanyaan tentang hubungan antara harga diri dan pendapatan. Penelitian mereka bertujuan menjawab pertanyaan apakah peningkatan pendapatan bisa meningkatkan harga diri atau apakah orang dengan harga diri tinggi mampu menghasilkan lebih banyak uang.
Studi longitudinal empat tahun ini mengamati responden dewasa di Belanda, menilai perasaan harga diri mereka setiap tahun, serta pendapatan yang mereka laporkan sendiri. Analisis data menunjukkan, ketika orang memperoleh lebih banyak uang maka hal ini bisa meningkatkan harga diri mereka. Mungkin karena hal ini dikaitkan dengan rasa pencapaian atau peningkatan status sosial. Penelitian menunjukkan, hubungan antara pendapatan dan harga diri adalah konsisten tanpa memandang tingkat pendidikan, usia, atau jenis kelamin peserta.
Berikutnya, bisakah uang membeli kebahagiaan?
Serangkaian penelitian oleh Sandra C. Matz dan rekan-rekan menunjukkan, jawabannya adalah tergantung pada kondisi kepribadian dan bagaimana uang dibelanjakan.
Dalam studi pertama, nasabah bank Inggris mengisi kuisener tentang pengukuran kepribadian, pengukuran kepuasan hidup, dan kemudian kebiasaan belanja mereka. Hasil penelitian menunjukkan, orang ekstrover menghabiskan lebih banyak uang untuk aktivitas seperti pergi ke pub, orang yang teliti menghabiskan lebih banyak uang untuk aktivitas dan produk kesehatan dan kebugaran. Yang umum, membeli produk sesuai dengan kepribadian membuat peserta penelitian melaporkan kepuasan hidup lebih tinggi.
Dalam studi kedua, peserta dinilai berdasarkan ciri kepribadian ekstraversi-introversi dan kemudian ditawari pilihan salah satu dari dua voucher hadiah; untuk toko buku atau untuk bermalam di bar. Lalu, peserta penelitian mengisi pengukuran pengaruh positif dan negatif.
Hasilnya, orang ekstrover yang diberi voucher untuk keluar malam di bar lebih bahagia dibandingkan jika diberi uang untuk membeli buku. Hal sebaliknya terjadi pada orang introver. Mereka lebih senang dengan hadiah voucher untuk ke toko buku.
Seberapa banyak uang yang bisa menghasilkan kebahagiaan?
Daniel Kahneman dan Angus Deaton, keduanya profesor di Universitas Princeton dan peraih Hadiah Nobel, menerbitkan makalah penting. Hasil penelitian mereka menunjukkan, peningkatan pendapatan memang bisa meningkatkan rasa kesejahteraan. Namun, peningkatan yang hanya sampai batas $75.000. Lebih dari itu, sudah tidak ada peningkatan rasa kesejahteraan. Uang banyak dianggap hal biasa saja.
Kebahagiaan memang cenderung meningkat saat pendapatan meningkat. Namun, saat sampai titik tertentu, bakal ada semacam stagnasi. Tambahan pendapatan tidak lagi meningkatkan rasa kebahagiaan secara signifikan.
Maka, coba renungkan nilai-nilai pribadi dan tujuan hidup Anda dalam hubungannya dengan uang. Apakah uang adalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar, ataukah uang sekadar menjadi tujuan utama dalam hidup? Jika memahami itu, Anda bisa mengelola uang dengan optimal dan membantu mencapai kesejahteraan mental yang seimbang.
Yang juga penting, uang bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kebahagiaan dan kesejahteraan mental. Masih banyak faktor lain, misalnya rasa bersyukur, kedekatan dengan Tuhan, hubungan sosial yang baik, fisik yang sehat, dan berbagai aspek lainnya juga memainkan peran penting.


