Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Akhir-akhir ini, perilaku suami saya banyak berubah,” seorang teman curhat ke saya.
“Sejak kerja shift malam tiga bulan lalu, selera makannya tidak teratur. Di rumah, kadang makan banyak, kadang nggak makan sama sekali. Ngakunya makan di tempat kerja, sih. Tapi, aku khawatir karena dia berrisiko gula darah.”
“Oh, gitu? Ada perubahan yang lain?” tanya saya.
“Ya ada juga. Tapi, yang paling saya rasakan cuma perubahan nafsu makan.”
“Ada perubahan di nafsu yang lain?”
…………..
Pembaca yang budiman, saya tidak membeberkan lebih jauh obrolan saya dengan teman itu. Saya hanya ingin menulis tentang perubahan jam kerja dengan perubahan nafsu makan. Tidak membahas nafsu-nafsu lainnya.
Ada penemuan ilmiah terbaru dari tim peneliti dari Bristol University di Inggris dan University of Occupational and Environmental Health di Jepang. Mereka mengungkap bagaimana kerja shift malam mempengaruhi perubahan nafsu makan. Temuan ini bisa bermanfaat bagi jutaan orang yang bekerja malam dan berjuang melawan masalah berat badan.
Saat harus melek malam sampai lama, tentu terjadi perubahan ritme kerja tubuh yang biasa disebut ‘ketidaksejajaran sirkadian’ alias jetlag. Gangguan jam biologis ini memengaruhi hormon di otak yang mengatur nafsu makan dan rasa lapar. Jika gangguannya besar, ini bisa merugikan kesehatan metabolisme.
Yang dibidik tim peneliti adalah hormon glukokortikoid di kelenjar adrenal yang mengatur banyak fungsi fisiologis termasuk metabolisme dan nafsu makan. Glukokortikoid ini langsung mengatur sekelompok peptida otak yang mengendalikan perilaku nafsu makan. Perilaku itu berupa peningkatan nafsu makan (orexigenic) dan penurunan nafsu makan (anorexigenic).
Mereka melakukan percobaan dengan model hewan, yang terdiri dari tikus kelompok normal sebagai kontrol dan tikus kelompok jetlag yang melek malam. Peneliti menemukan ketidakselarasan antara isyarat terang dan isyarat gelap yang menyebabkan kekacauan neuropeptida hipotalamus orexigenic (NPY) kelompok jetlag.
Kekacauan ini mendorong peningkatan keinginan makan lebih banyak selama fase tidak aktif di hari itu. Tikus dalam kelompok kontrol mengonsumsi 88,4% dari asupan harian mereka selama fase aktif, dan hanya 11,6% selama fase tidak aktif. Sebaliknya, kelompok jetlag mengonsumsi 53,8% kalori harian mereka selama fase tidak aktif (tanpa peningkatan aktivitas selama waktu tersebut). Jumlah ini setara dengan hampir lima kali lebih banyak dibandingkan jumlah yang dikonsumsi kelompok kontrol selama fase tidak aktif. Hasil ini menunjukkan bahwa yang terpengaruh adalah waktu konsumsinya.
Hasil penelitian ini mengungkapkan betapa kacaunya neuropeptida secara keseluruhan ketika kadar glukokortikoid harian tidak selaras dengan isyarat terang dan gelap. Di sisi lain, neuropeptida yang diidentifikasi dalam penelitian ini juga bisa menjadi target yang menjanjikan untuk pengobatan gangguan makan dan obesitas.
Dr Becky Conway-Campbell, peneliti di Bristol Medical School: Translational Health Sciences (THS) yang jadi penulis senior penelitian itu, menjelaskan, “Bagi orang yang bekerja sepanjang malam, perubahan drastis jam biologis dapat berdampak buruk pada kesehatan. Maka, bagi mereka yang harus bekerja shift malam dalam jangka panjang, kami rekomendasikan untuk menjaga paparan sinar matahari, olahraga kardiovaskular, dan disiplin mengatur jam waktu makan. Namun, pesan internal dari otak untuk mendorong nafsu makan masih sulit untuk dikesampingkan dengan sekadar ‘disiplin’ atau ‘rutin’. Jadi, kami kini merancang penelitian untuk strategi penyelamatan dan intervensi farmakologi untuk isyarat otak itu.”


