Bersama IISMA, Belajar ke Balik Dunia

mepnews.id – Sarah Widodo, mahasiswa Fakultas Hukum (FH), Universitas Airlangga (Unair), berkesempatan mengikuti study outbound di Facultad de Derecho, Pontificia Universidad Católica de Chile (UC Chile), Santiago, Chile. Dengan fasilitas Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA), ikut perkuliahan Agustus-Desember 2023.

Chile salah satu negara di Amerika Selatan, memanjang di sisi barat Samodra Pasifik. Dilihat dari Indonesia, Chile itu seperti berada di balik bola dunia.

Sarah memilih host university di Chile yang berbahasa Spanyol untuk mengasah kemampuan bahasanya setelah mengikuti program AFS ke Spanyol di tahun 2018.

“Sejak itu, bisa dibilang saya jatuh cinta pada bahasa Spanyol. Kali ini saya ingin mengetahui perbedaan antara Spanish di Eropa dan Amerika Latin langsung dari negaranya,” ungkapnya.

Sarah memilih UC Chile karena kampus terbaik di Amerika Latin lima tahun berturut-turut dan peringkat 103 menurut QS World University Rankings. Menurutnya, Chile juga tidak semenakutkan yang dibayangkan.

Kegiatan pembelajaran di UC Chile mengutamakan diskusi daripada teori. Dosen selalu mengirimkan pre-reading yang dibahas keesokan harinya.

“Di sini dosen bertindak sebagai learning partner. Mahasiswa bebas berpendapat, bertanya, atau berdebat tanpa rasa takut opininya mempengaruhi nilai. Dosen sangat peduli dengan kesehatan mental mahasiswanya. Seringkali dosen mengirimkan e-mail ke masing-masing mahasiswa untuk menanyakan kondisi kesehatan, hambatan apa yang mungkin dirasakan, serta evaluasi selama mengikuti kegiatan belajar mengajar,” tutur Sarah.

Bersama sesama IISMA awardee, memperkenalkan Indonesia ke Chile.

UC Chile juga menyediakan banyak kegiatan untuk IISMA awardees. Seperti halnya tur ke destinasi wisata Valparaíso, Viña del Mar, dan Palacio de La Moneda. Para peserta IISMA juga berpartisipasi dalam cultural week dan mengenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa UC Chile.

Menariknya, para awardee IISMA UC Chile memiliki hubungan dengan para romo dan suster yang bekerja di Chile. Bahkan mereka juga sering diajak makan malam bersama, hingga terlibat menjadi volunteer di sekolah milik kongregasi gereja, tanpa sedikitpun memandang perbedaan identitas antara satu sama lain.

“Saya rasa hal ini sangat menarik. Faktor agama dan suku menjadi isu sensitif di Indonesia. Di sini kami bagaikan keluarga yang sudah kenal lama. Saya banyak belajar mengenai toleransi dan cross-cultural communication dari para romo dan suster. Setelah puluhan tahun belajar mengenai teori Bhinneka Tunggal Ika, program ini mengantarkan saya bagaimana cara menerapkannya secara langsung,” tutur Sarah.

Perbedaan dialek bahasa Spanyol di Eropa dan Chile menjadi tantangan tersendiri bagi Sarah dalam berkomunikasi. Pasalnya, Sarah harus belajar Bahasa Spanyol dari awal karena terdapat perbedaan cukup signifikan.

Sarah mengakui juga culture shock dengan budaya work-life balance.

“Di sini para pekerja atau mahasiswa menikmati fin de semana atau weekend dan memanfaatkan waktu istirahat tanpa ada distraksi sedikitpun. Para dosen maupun pemilik perusahaan menghargai pentingnya fin de semana. Sehingga, mereka memberikan tugas atau pekerjaan tambahan di hari weekend,” tutur Sarah.

“Melalui program IISMA, saya Juga mulai self-discovery, belajar untuk mandiri, percaya dengan intuisi, dan mulai menemukan perspektif yang berbeda dalam memandang dunia,” imbuh Sarah.

Sarah juga melihat peluang karir di bidang hukum. Ia juga mempertimbangkan diri untuk melanjutkan studi magister dan berkarir di Chile.

Sarah juga berencana menitikberatkan pengalaman dan pengetahuannya melalui pelatihan kelas Bahasa Spanyol di Indonesia ketika kembali dari program.

Article Tags

Facebook Comments

Comments are closed.