Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Suatu hari, saya berkesempatan bertamu ke rumah seseorang. Di situ, saya lihat ada seorang anak sedang belajar. Anak itu tampak disemangati ibunya yang berkali-kali bilang, “Ayo, kamu harus sempurna. Harus mendapat nilai terbaik.”
Saya berkunjung ke rumah itu, selain untuk menyambung silaturrahim, juga untuk memenuhi undangan teman saya. Teman saya itu guru yang mengamati sendiri si anak ternyata tidak bisa bergaul di sekolah, sulit menempatkan diri di antara teman, dan wajahnya tidak ceria.
Dari kunjungan sekejab itu, saya menduga si anak berperilaku sosial kurang bagus karena sering mendapat kata-kata bernada negatif. Tentu saja, itu masih bersifat dugaan karena saya baru bertemu sekali. Perlu penelitian lebih dalam untuk memastikannya.
…………
Pembaca yang budiman, apa yang dimaksud dengan ‘kata-kata negatif’ itu?
Kata-kata negatif merujuk pada ungkapan, istilah, atau frasa yang memiliki konotasi merendahkan, menghakimi, atau merugikan si objek perkataan. Itu termasuk celaan, hinaan, ejekan, ancaman, umpatan, olok-olok, kata-kata kasar, hingga sindiran. Selain pilihan kata-katanya, negativitas juga bisa ditunjukkan lewat ekspresi wajah, gerak tubuh, hingga nada bicaranya. Bisa saja pilihan kata-katanya positif, tapi saat diungkapkan dengan ekspresi wajah atau nada tertentu, maka maknanya bisa jadi negatif.
Kata-kata negatif dapat memiliki dampak signifikan pada individu, terutama pada anak yang dalam perkembangan. Kata-kata ini dapat merusak perasaan, harga diri, dan kesejahteraan mental. Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri. Anak menginternalisasi kata-kata itu lalu menganggap dirinya tidak berharga atau tidak kompeten.
Secara langsung, pengucapan kata-kata negatif pada anak dapat menyebabkan masalah emosional antara lain kecemasan, depresi, kemarahan terus-menerus, sedih, kesal, hingga putus asa. Anak mengembangkan pola pikir negatif tentang diri sendiri dan dunia di sekitarnya. Ia mungkin menjadi pesimis dan melihat segala sesuatu dari sisi buruk sehingga sulit melihat hal-hal positif dalam hidup.
Dampaknya, ia kesulitan berinteraksi sosial, merasa tidak percaya diri, takut berbicara dengan orang lain karena menghindari diejek atau dikritik. Motivasi dan minat belajar bisa hilang sehingga performa akademiknya terpengaruh secara negatif.
Jadi, apa saja kata-kata dalam kalimat negatif yang harus kita hindari agar anak berkembang lebih positif? Ada banyak, tapi saya beri contoh sedikit saja. (Jangan ditiru, ya. Cukup untuk pemahaman diri.)
- “Dasar, anak tak berguna!”
Kata-kata semacam ini dapat merusak rasa kompetensi anak. Ia akan merasa serba bersalah. Merasa dirinya tidak berguna di mata orang yang mencelanya. Kata-kata itu bisa menghilangkan motivasi anak untuk melakukan sesuatu atau mencoba hal-hal baru.
- “Kenapa sih kamu koq bodoh banget?!”
Kata-kata semacam ini merendahkan kemampuan dan kecerdasan anak. Jika si anak tidak bermental baja, kelak ia tidak akan mau belajar karena merasa selalu dianggap bodoh. Ia bisa merasa tidak berharga, rasa kepercayaan dirinya terhambat.
- “Hai, Gendut…”
Mengomentari penampilan fisik anak dapat menyebabkan masalah citra tubuh negatif dan bisa mengganggu pola makan sehat. Jika si anak tidak bermental baja, citra tubuh negatif ini bisa terbawa sampai dewasa sehingga ia jadi orang minder.
- “Si Fulan juara nyanyi, lha kamu bisanya cuma nangis.”
Membandingkan anak dengan anak lain dan menggunakannya sebagai kata-kata negatif dapat menyebabkan perasaan cemburu, persaingan yang tidak sehat, dan konflik antar anak. Kata Farel Prayoga, “Wong ko ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke, yo mesti kalah.”
Ada juga kata-kata yang terkesan positif tapi ternyata negatif. Ini juga bisa memberi dampak negatif pada perkembangan anak. Berikut ini adalah beberapa contoh. (Sekali lagi, jangan Anda tiru).
- “Kamu selalu menjadi yang terbaik”
Meski terdengar seperti dorongan untuk mencapai prestasi tinggi, meminta anak harus sempurna itu bisa menimbulkan tekanan berlebihan dan kecemasan. Bagaimana jika anak kemudian tidak selalu dapat memenuhi standar yang ditetapkan? Ini memberi beban yang tidak realistis dan meningkatkan rasa takut akan kegagalan.
- “Kamu harus menyenangkan semua orang”
Nasihat ini memang bagus. Tapi, kata ‘harus’ itu bisa menghasilkan kecemasan sosial dan ketidakmampuan untuk menetapkan batasan yang sehat. Anak mungkin merasa perlu mengorbankan kebutuhan dan keinginan diri sendiri demi kepuasan orang lain. Jadi, akan lebih baik jika dikatakan, “Berupayalah untuk bisa menyenangkan semua orang.”
So, kita perlu bijaksana memilih dan mengucapkan kata-kata untuk mengkomunikasikan harapan dan dorongan kepada anak. Perhatikan dulu kondisi mental, jenis kepribadian anak, dan waktu yang tepat, agar kata-kata yang kita pilih itu sesuai dengan harapan.
Kata-kata dan cara berkata yang memberikan dorongan seimbang, mendorong kepercayaan diri, dan membangun keterampilan sosial dan emosional sehat, merupakan pendekatan yang lebih baik dalam mendukung perkembangan anak secara holistik.


