mepnews.id – Keberhasilan tim sepakbola Indonesia mengalahkan Thailand di final SEA games 2023 Kamboja lebih disebabkan mentalitas, kolektivitas, dan semangat juang tim. Hal itu diungkapkan Yunan Syaifullah pengamat yang menulis buku Filosofi Bola.
Mentalitas tim garuda muda patut diakui jempol. Meski kemenangan yang sudah di depan mata mendadak buyar karena gol menit akhir Thailand, tapi mereka terus berjuang hingga memastikan kemenangan di babak tambahan waktu dengan skor 5-2.

Yunan Syaifullah
Yunan berpendapat, final di Olympic Stadium itu bukan hanya tentang sepakbola tapi soal harga diri. Siapa yang konsisten dan konsekuen bisa memetik hasil terbaik. Penentuan kemenangan seringkali terjadi di menit krusial. Dalam kasus ini, banyaknya gol yang tercipta di waktu tambahan.
Dosen ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang ini juga menilai faktor pemain memang merupakan kelebihan. Namun, faktor utama yang lebih menentukan kemenangan adalah kolektivitas para pemain. Timnas tidak bergantung pada satu atau dua pemain seperti Marselino atau Witan saja.
“Coba lihat Haykal, Taufany, dan Ananda Raehan. Mereka bukan dari tim besar atau jadi starter di klub masing-masing. Namun ketenangan dan kerjasama bisa mereka lakukan di lapangan. Kombinasi mereka dengan Marselino, Sananta, atau Rizky Ridho patut diacungi jempol,” kata Yunan, lewat situs resmi umm.ac.id.
Ia menilai pertumbuhan sepakbola Indonesia tiga tahun terakhir terlalu cepat bahkan di luar ekspektasi negara-negara lain. Pertumbuhan ini terutama dalam hal teknologi, cara bermain, makanan, dan lainnya. “Sebelumnya, Vietnam dan Thailand sering dianggap sebagai yang terkuat di Asia Tenggara. Namun kini pertumbuhan mereka melambat bahkan stagnan. Malah Timor Leste dan Kamboja tumbuh lebih pesat,” tambahnya.
Pertumbuhan di Indonesia ini bukan mutlak karena sosok tertentu seperti coach Shin Tae Yong maupun Indra Syafri. Namun, hadirnya STY membuat pengelolaan sepakbola sedikit demi sedikit berubah. Dulu, pola pikir sepakbola Indonesia adalah hasil. Kini, pemahaman bergeser bahwa sepakbola adalah proses. Proses panjang yang dimulai dari dasar seperti gizi, makanan, pemanasan, cara bermain, teknik dan lainnya.
Kemudian, Yunan menyoroti potensi pemain yang hilang saat nanti kembali ke klub. Ia berharap pemain yang bagus di timnas diharapkan makin moncer di klub masing-masing. Namun, bisa jadi karena kurang jam terbang maka mereka tenggelam oleh pemain senior lain. Apalagi klub-klub di Liga 1 Indonesia dinilai pragmatis dan fokusnya hanya juara.
Menurut Yunan, banyak posisi strategis di klub-klub diisi oleh pemain asing sehingga menekan potensi pemain lokal untuk bersinar. Padahal, klub seharusnya memberi porsi kepada pemain muda agar bisa berkembang dan mampu melahirkan pemain berkualitas untuk timnas.
“Ada banyak posisi striker diisi pemain asing. Pemain tengah dan winger bagus lokal juga jarang kita lihat di Liga 1. Mungkin, posisi yang masih aman untuk pemain lokal saat ini hanyalah kiper. Terbukti dengan melimpahnya stok kiper kita di berbagai kategori umur dan tim senior,” katanya. (wil)


