mepnews.id – Tim Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Surabaya, yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, membuat mesin presto otomatis yang diklaim lebih efektif dan efisien dibanding panci presto manual.
Mesin presto otomatis ini karya Bagas Wildan, Andrew Farrel A., Devano Indata, Muh. Farhan Hidayat, dan Baihaqi Bintang Parikesit. Mereka dibimbing Bellina Yunitasari SSi MSi dan Agung Prijo Budijono ST MT. Pembuatan juga juga melibatkan Fendi Achmad SPd MPd, Dr Yunus MPd, dan Ita Fakhtur Romadhoni SPd MPd.
Bellina Yunitasari, ketua tim inovasi, mengatakan mesin ini dilengkapi pengaturan waktu, tekanan hingga suhu. “Ini membuat proses memasak lebih efektif tanpa perlu kekhawatiran makanan menjadi hancur. Kan presto itu gak gampang. Kalau gak otomatis, kadang hasilnya gak sama, kadang terlalu matang. Ini yang dikeluhkan banyak UMKM di Sidoarjo,” ujarnya, lewat situs resmi unesa.ac.id.
Inovasi produk ini hadir dalam skema program Kedaireka, Kemendikbudristek. Ini hasil kerja sama Tim FT dengan dunia usaha dan industri yakni CV Cipta Perdana Teknologi. Mesin presto otomatis ini diproduksi enam unit, dengan tiga ketinggian berbeda, yaitu 30, 40, dan 50 cm. Kapasitas mesin ini dapat menampung hingga 10 kg bahan sekali masak.
Temperatur diatur tidak melebihi 100 derajat, karena uap yang dihasilkan air mendidih menyebabkan kenaikan tekanan pada panci presto. Tekanan dalam panci presto dapat diatur hingga 1,5 bar sehingga tingkat kematangan olahan bisa sesuai kebutuhan.
“Kalau tekanan dan waktu sudah diatur, proses jadi lebih praktis. Rasa dan nutrisi bahan makanan yang dipresto juga lebih terjaga. Tidak ada lagi namanya kematengan,” kata dosen kelahiran Jombang itu.
Agung Prijo Budijono menambahkan, bila tekanan dalam panci masih kurang maka dapat ditambahkan udara dari luar. Ini membuat pengguna tidak perlu mengatur secara manual, dan lebih hemat waktu. “Sebelum masuk panci, udaranya difilter dulu sekitar 95% untuk membunuh kuman. Proses atau teknik ini sekaligus membuat presto yang dihasilkan lebih higienis.”
Kendala yang dialami tim saat pembuatan mesin selama dua bulan itu antara lain susah mendapatkan sistem hidrolik untuk menghasilkan dum atau tekukan yang tepat pada tutup alatnya. Pengkondisian pengemasan juga menjadi perhatian khusus.
“Tapi semua kendala sudah teratasi. Mesin ini sudah digunakan UMKM. Ke depan, kami terus lakukan pengembangan, seperti penambahan fitur yang dibutuhkan,” kata Agung. (M. Dian Purnama)


