Mengenal Pribadi Echoist yang Sangat Kontras dengan Narsis

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Kalau istilah ‘narsis’, saya kira banyak orang mengenalnya. Saat ada orang berlama-lama di depan cermin atau sering pamer foto di medsos, kita biasa menyebut orang itu ‘narsis.’ Secara konseptual, narsisme bisa disebut sebagai perilaku memuji diri sendiri dan butuh perhatian orang lain. Jika perilaku atau pola pikir ini berlebihan, namanya narcistic personality disorder (NPD) alias gangguan kepribadian narsistik.

Lalu, apa itu istilah ‘echoism‘?

Asal kata ‘echoism‘ dari mitologi Yunani tentang tokoh Echo dan Narcissus yang karakternya bertentangan. Nama tokoh Narcissus ini kemudian menjadi istilah ‘narcism‘ alias ‘narsisme’ dan orang yang melakukan ini disebut ‘narcist‘ alias ‘narsis’. Nama tokoh Echo ini menjadi istilah ‘echoism‘ dan pelakunya disebut ‘echoist‘.

Konon, Echo adalah bidadari yang dikutuk Dewi Hera. Kutukan itu membuat Echo tidak dapat lagi berbicara untuk dirinya sendiri dan hanya bisa mengulangi kata-kata terakhir dari apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Karena kehilangan rasa percaya dirinya, Echo lalu bersembunyi jauh di dalam hutan.

Setelah lama kemudian, pemuda tampan masuk hutan. Pemuda bernaa Narcissus itu berteriak, “Hai, apakah ada orang di sini?” Dengan gembira, Echo menjawab. Tapi, kata yang keluar dari mulutnya hanya menggemakan kata terakhir dari Narcissus. “Di sini!” kata Echo.

Mereka pun bertemu. Harusnya mereka bahagia. Namun, karena kehilangan kemampuan berinteraksi dan berbagi pemikiran, Echo pun mulai memudar. Tak pelak, Narcissus menolaknya dan meninggalkannya di hutan.

Dongeng mitologi Yunani ini bisa menggambarkan bagaimana kondisi seorang echoist. Seperti Echo, ia berjuang untuk mengekspresikan diri, namun sulit. Ia mungkin tidak memiliki identitas diri yang jelas atau keinginan yang tegas. Karena khawatir jika terlihat membutuhkan, maka ia sering tampak puas hanya untuk mendukung orang lain.

Echoist seolah berada di ujung lain dari spektrum narsisme. Di tengah spektrum, ada orang-orang dengan tingkat narsisme yang sehat. Di ujung spektrum, ada orang yang memenuhi kriteria gangguan kepribadian narsistik (NPD). Nah, echoist ada di ujung satunya yang sangat jauh dari NPD.

Jadi, echoism menggambarkan pola perilaku atau karakteristik individu yang cenderung menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dia sendiri. Echoist cenderung sangat memperhatikan perasaan dan kebutuhan orang lain. Ia cenderung menempatkan diri dalam posisi selalu membantu orang lain dan mengakomodasi kebutuhan orang lain.

Orang berkarakter seperti ini sering merasa tidak nyaman ketika mendapat perhatian atau pujian dari orang lain. Ia juga cenderung menghindari konflik atau memperjuangkan kebutuhannya sendiri, dan lebih suka menahan diri daripada mengekspresikan perasaan atau pendapat jika berbeda dengan pendapat orang lain.

Dalam kondisi normal, karakristik echoism memiliki kesamaan dengan sifat empati dan keprihatinan terhadap orang lain. Ini baik. Namun, dalam kondisi berlebihan, tentu echoism ini tidak baik. Ganguan echoistic personality disorder ini setara dengan NPD namun perwujudannya sangat berlawanan.

Gangguan echoism ekstrim ini bisa terkait dengan sejumlah gangguan kesehatan mental lain, termasuk gangguan depresi dan kecemasan di masa kini. Bisa jadi gangguan ini juga terkait dengan riwayat trauma atau pengalaman pribadi menyakitkan di masa lalu.

Karena terbiasa mengecilkan diri atau meremehkan kemampuan dan kontribusi diri sendiri, seorang echoist cenderung kurang percaya diri. Dalam interaksi sosial atau interpersonal, ia biasa menjadi korban karena sering kesulitan memperjuangkan kebutuhan dan hak diri sendiri. Dampak berikutnya, ia jadi tergantung pada dukungan dan persetujuan orang lain karena sulit mengambil inisiatif sendiri. Selain itu, echoist ekstrim juga kurang empati terhadap diri sendiri. Bahkan, ia cenderung menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah dalam situasi yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabnya.

Facebook Comments

Comments are closed.