mepnews.id – Seperti biasa, menjelang hari lebaran, harga beberapa komoditas di pasar mengalami lonjakan. Tentu, lonjakan ini dapat memengaruhi stabilitas harga pasar terutama jika daya beli masyarakat menurun
Dr Tika Widiastuti SE MSi, dosen Ekonomi Islam Unair, mengatakan lonjakan harga bahan pokok sebenarnya tidak hanya terjadi menjelang Lebaran tahun ini. Sudah umum terjadi pada momen-momen hari besar keagamaan, termasuk Idul Fitri atau Natal.

Dr TikaWidiastuti dosen ekonomi Islam Unair.
Menurut Tika, melonjaknya harga bahan pokok disebabkan inflasi yaitu kenaikan harga rata-rata yang berlangsung terus-menerus. Kenaikan inflasi disebabkan dorongan biaya (cost push inflation) dan tarikan permintaan (demand pull inflation).
Tarikan permintaan ini biasanya menyebabkan lonjakan harga menjelang Lebaran. Dalam hal ini, permintaan terhadap suatu komoditas cenderung naik atau tinggi, sementara jumlah sediaan barangnya dalam jumlah tetap.
“Inflasi ini memicu kenaikan harga. Kita tidak kaget bila harga-harga menjelang Lebaran naik karena masyarakat cenderung mengonsumsi barang sama,” ujar Tika.
Untuk mengantisipasi lonjakan, Tika membagikan tiga tips.
Pertama, masyarakat harus bisa mengevaluasi keputusan pembelian. Artinya, masyarakat harus lebih cermat dalam menentukan pembelian suatu barang yang bersifat kebutuhan maupun keinginan.
“Kalau pembelian tidak sesuai kebutuhan, atau hanya untuk keinginan, maka lebih baik ditunda dulu. Jadi, kita harus pandai-pandai memilah kebutuhan dan keinginan,” katanya.
Kedua, dari sisi pemilihan komoditas barang. Pilih barang-barang yang relatif umum didapatkan (normal good). Pemilihan normal good ini tidak hanya berpengaruh pada tingkat kesulitan mendapatkannya, tetapi juga berpengaruh pada tingkat harga yang ditawarkan.
Ketiga, harus lebih bijak dan cerdas dalam mengalokasikan anggaran. Dahulukan belanja kebutuhan yang bersifat dharuriyah, yaitu yang harus dipenuhi karena berkaitan dengan keseimbangan hidup. Misalnya, kebutuhan pendidikan.
“Sebentar lagi kan, tahun ajaran baru. Kita dihadapkan pada kebutuhan pendidikan. Jadi, tolong lebih diperhatikan kebutuhan jangka menengah dan jangka panjangnya,” tutur Wakil Dekan I Fakultas Vokasi itu.
Intervensi Pemerintah
Di sisi lain, pemerintah sebagai pemangku kebijakan jangan tinggal diam. Diperlukan intervensi pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan harga barang.
Pemerintah berperan dalam mengarahkan masyarakat untuk mengelola anggaran belanjanya dengan bijak dan tidak konsumtif. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kampanye literasi ekonomi secara masif dengan tujuan membantu masyarakat menekan angka konsumsi yang tinggi.
“Jadi, pemerintah perlu mengarahkan perilaku masyarakat agar tidak konsumtif. Misalnya dengan mengampanyekan literasi ekonomi. Pemerintah bisa menggandeng influencer misalnya, atau dengan membuat konten edukatif melalui media sosial,” terangnya.
Pemerintah juga perlu intervensi pasar. Perlu dilakukan pengecekan harga komoditas vital sehingga dapat mengantisipasi lonjakan harga. Pemerintah harus menerapkan kebijakan batas minimum dan batas atas harga.
“Jika harga cenderung naik, ditetapkan saja batas atasnya. Mengapa? Jika tidak ada ketentuan batasan harga, nanti menimbulkan kerugian. Harga cenderung naik terus. Ini bisa merugikan baik konsumen maupun produsen,” ungkapnya. (*)


