Oleh: Teguh W. Utomo
mepnews.id – Mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, tujuanku sudah mantap; Rammang-rammang. Jarak tempuh dengan mobil sekitar 32 kilomter atau satu jam ke arah utara. Tidak terlalu jauh. Aku penasaran untuk menantang adrenalin mendaki bukit karst.
Bukit Karst adalah formasi geologi dari batuan kapur (limestone) yang tererosi air dan karbon dioksida selama ribuan tahun. Proses erosi ini membentuk lereng curam, bukit, dan bahkan gua. Erosi di tanah ini menimbulkan relief permukaan yang tajam.
Karst terbentuk di daerah dengan tingkat curah hujan tinggi dan tanah tidak terlalu padat. Beberapa yang terkenal di Indonesia adalah Taman Nasional Gunung Api Batur di Bali, Gunung Sewu di Jawa Tengah, dan Rammang-Rammang di Sulawesi Selatan.
Selain Rammang-rammang, Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan punya banyak Kawasan wisata alam. Antara lain; Goa Batu Cermin penuh stalaktit dan stalakmit di Desa Tinggi Moncong, Bukit Bulusaraung di Desa Padang Sappa yang dekat formasi karst, Taman Negeri Bantimurung yang kaya kelelawar, burung, dan kupu-kupu, hingga Pantai Tanjung Bira di Kecamatan Bonto Bahari.
Tapi, aku fokus ke Rammang-ramang dulu sebelum melirik destinasi lainnya. Maka, aku menuju di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa. Berhenti di dermaga Sungai Pute, aku isi perut dulu. Karena gerimis, menu soto hangat sangat nyaman bagi perutku.
Warung di dermaga ini juga menjadi pintu gerbang untuk menyusuri sungai menuju perbukitan karst. Pengelolanya menyediakan perahu dan jas hujan untuk melawan gerimis. Tentu saja dengan membayar sejumlah uang.

Penduduk setempat mau ke mana-mana musti naik perahu.
Menyusuri sungai Pute membawa imajinasi ke masa Jurasik. Air sungai berwarna kehijauan dan beraroma tipis-tipis gas metana, mengingatkanku para proses kimiawi yang terjadi ribuan tahun lalu. Banyak tanaman mangrove hingga palem-paleman (Arecaceae) di kanan-kiri sungai yang berkelok-kelok. Sesekali kami memberi tanda salam saat perahu bersimpangan dengan perahu penduduk setempat.
Tiba di Kampung Berua, aku saksikan bentangan bukit karst di sekeliling. Dari dermaga kecil tempat aku berdiri, yang tampak seolah hanya bentangan air dikelilingi bukit-bukit tinggi berwarna hijau kecokelatan. Itu lah bukit-bukit karst.
Petualangan di ‘alam Jurasik’ ini tambah menarik dengan trekking di sekitar lembah. Gerimis dan luapan air tidak terlalu mengganggu aktivitas trekking. Ya, karena fokusku lebih ke pemandangan alam sangat menakjubkan sekaligus menantang. Tebing-tebing karst tinggi ini menjadi latar belakang sempurna untuk berfoto.
Mendaki puncak bukit karst tentu menjadi pengalaman menantang. Ada ratusan anak tangga yang bisa ditapaki. Dibanding anak tangga di Gunung Kelimutu atau Gunung Bromo, anak tangga di bukit karst Rammang-rammang umumnya lebih terjal. Terus, bebatuan di sekitar anak tangga tampak lebih tajam.
Petualangan menantang ini langsung terbayar dengan pemandangan indah dari puncak bukit. Rasanya aku ingin sekali berlama-lama menikmati keindahan alam spektakuler dari puncak. Tapi, kondisi dan waktu tidak memungkinkan.
Bukit Karst di Rammang-Rammang sangat recommended untuk pengunjung yang bernyali menikmati keindahan alam unik dan spektakuler. Tapi, jangan lupa, nikmati keindahannya dan jaga kelestariannya. Jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak ukiran alam di batu-batu.
Semoga kawasan ini terjaga dari ancaman industrialisasi.


