Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Tante, di sekolahku ada murid baru. Aku susah nyebut namanya. Cara dia ngomong juga susah,” kata ponakan saya yang masih SD.
“Anak mana? Pindahan dari mana?” saya tanya.
“Nggak tahu. Dia di kelas sebelah. Jadi, nggak ada perkenalan di kelasku. Sepertinya dia dari jauh sekali. Wajahnya saja sangat beda dengan teman-teman lain.”
…………
Pembaca yang budiman, pengalaman ponakan saya itu bisa saja dialami oleh anak Anda atau bahkan Anda juga. Konteks pertemuannya tidak harus di sekolah, bisa juga di tempat kerja, di kompleks tempat tinggal, di klub kebugaran, atau di kesempatan-kesempatan lainnya. Atau, sebaliknya, justru kita pindah ke suatu tempat yang jauh dari tempat kita biasa tinggal sehingga kita dianggap ‘orang asing’ bagi penduduk di lokasi yang kita datangai. Intinya, kita bertemu dan harus berinteraksi dengan orang yang berasal dari etnis, kultur, tempat, yang berbeda dengan kita. Bisa jadi, bedanya sangat banyak.
Nah, perjumpaan dengan orang yang beda ini bisa menjadi salah satu cara untuk pendidikan karakter bagi anak atau bagi kita sendiri. Pengembangan karakter yang kuat dan positif ini penting dalam upaya membentuk generasi muda yang berakhlak baik dan bertanggung jawab. Dari orang yang berbeda ini, kita bisa belajar tentang toleransi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Boleh dikata, murid baru di sekolah ponakan saya itu memang beda secara penampilan fisik, bahasa, kultur, hingga tata cara perilakunya. Tapi, dia tetap saudara karena sesama orang Indonesia. Kalau toh dia pindahan dari luar negeri, dia juga tetap saudara sebagai sesama manusia. Sepanjang dia baik, kita patut menanggapinya dengan baik pula. Kalau misalnya ada perilaku yang dianggap tidak biasa, kita perlu mengenalnya lebih dalam untuk bisa bertoleransi.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam, kita perlu lebih mengenal orang asing itu dan budayanya. Kita bisa baca buku, nonton film, dengar ceramah, terkait dengan budaya orang itu. Jangan lupa, kita juga perlu mengobrol langsung dengan orang itu tentang kebiasaannya di tempat sebelumnya. Jika ada kebiasaan yang beda, kita bisa memahaminya lalu mencari penyesuaiannya. Ini juga bisa membuat dia lebih beradaptasi dengan tempat baru.
Bagi anak-anak, ada baiknya untuk menjalin persahabatan lintas budaya, berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, agar lebih mudah membangun pengertian dan perspektif yang lebih baik terhadap perbedaan. Anak-anak juga perlu diajarkan untuk berkomunikasi terbuka dan jujur tentang perasaan terhadap perbedaan. Orang tua dapat membantu anak untuk memahami perbedaan dan merespons dengan bijak ketika menghadapi situasi yang berbeda.


