Hati-hati Itu Baik, Terlalu Berhati-hati Tidak Baik

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Ca, presentasi sudah dekat lho. Waktunya berangkat sekarang,” saya ingatkan teman seprofesi.

“Siap, Mbak,” jawabnya. “Tapi, cuaca sedang ekstrim begini. Jangan-jangan nanti hujan lebat.”

“Lah… kan bisa pakai mobil. Nggak kehujanan.”

“Bukan begitu. Aku perhitungkan kawasan barat bisa banjir. Kalau mobilnya terhambat karena air, bagaimana?”

………..

Saya kenal betul teman yang satu itu. Ia cakap berbicara, sehingga presentasi bakal sukses. Tapi ia sering perhitungan. Dia terlalu berhati-hati bahkan soal cuaca mendung yang belum tentu hujan, apalagi banjir.

Pembaca yang budiman, berhati-hati adalah kekuatan, tetapi terlalu berhati-hati malah bisa menjadi hambat. Berhati-hati bisa meningkatkan peluang keselamatan, tapi terlalu berhati-hati bisa menghilangkan banyak peluang. Orang yang terlalu berhati-hati mungkin akan kecewa di masa depan karena sebelumnya tidak cukup berani mengambil risiko sejumlah tindakan.

Saya sependapat dengan Alice Boyes PhD penulis buku The Anxiety Toolkit dan The Healthy Mind Toolkit dalam artikelnya yang diterbitkan Psychology Today. Ia memaparkan;

  • Sebagian sangat besar dari apa yang kita coba bakal berhasil.

Kalau tidak mau mencoba, tidak mau bereksperimen, kita mungkin tidak akan berhasil di berbagai hal.

  • Sebagian sangat besar orang yang kita jangkau mau menanggapi kita.

Dalam urusan antarpribadi, kalua kita terlalu berhati-hati, maka kita memperkecil peluang kita dilihat atau diperhatikan orang lain. Kita sering meremehkan seberapa banyak yang orang lain ingin didengar dari kita.

  • Orang yang terlalu berhati-hati itu hanya sedikit.

Dalam kelompok besar 40-100 orang, yang terlalu berhati-hati paling hanya ada satu atau dua orang.

  • Orang yang terlalu berhati-hati sudah mendapat saran atau nasehat bagus, tapi sering kali tidak mau mengambilnya.

Mereka begitu tentatif sehingga selalu menemukan alasan untuk tidak dapat atau tidak mau bertindak berdasarkan saran atau nasihat yang baik, meski itu sebenarnya sangat membantu.

  • Orang yang terlalu berhati-hati selalu memilih versi yang lebih diredam dari yang sebenarnya disukai.

Misalnya, mereka ingin mengenakan warna lebih cerah, memesan makanan yang lebih berani, atau memilih nama bayi yang kurang umum. Namun, mereka lalu berbicara dalam hati sendiri lalu menentukan pilihan yang lebih aman. Meski aslinya selera mereka cenderung lebih berani, tapi sikap terlalu berhati-hati menyebabkan jarang jarang memilih apa yang sebenarnya paling paling inginkan.

  • Orang yang terlalu berhati-hati tidak menyesali apa yang telah dilakukan dalam enam bulan terakhir.

Mereka tentu sudah memikirkan dan meneliti semuanya sehingga tidak menyesali apa pun yang sudah terjadi. Namun, memikirkan dan megkaji banyak hal itu bisa sangat menguras tenaga dan menghabiskan waktu jika tidak diperlukan. Peluang bisa hilang karena kelamaan dipikir.

  • Orang yang terlalu berhati-hati tidak menyesali banyak hal yang belum mereka lakukan di masa lalu.

Intuisi umum orang biasa tentu menyesal karena kehilangan banyak kesempatan karena tidak mencobanya. Tapi, orang yang terlalu berhati-hati dapat dengan mudah mendapat alasan mengapa hal-hal yang tidak mereka lakukan itu berisiko, atau merugikan, atau tidak berjalan dengan baik. Mereka mungkin berpikir, “Wow, saya berhasil menghindari banjir di sana saat menuju tempat presentasi,” tanpa benar-benar tahu apakah masalahnya memang jalan yang kebanjiran. Maka, ketika banyak waktu berlalu, persepsi tentang risiko akan berubah ke titik di mana mereka menyesal karena tidak melakukan sesuatu di masa lalu.

Jadi, boleh berhati-hati karena bisa membuat kita lebih waspada terhadap hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Hati-hati yang wajar saja. Namun, hati-hati yang berlebihan bisa menjadi mindset yang negatif sehingga berpeluang menghambat kemajuan kita.

Facebook Comments

Comments are closed.