Jangan Cemas Saat Anak Mengalami Diskalkulia

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Duh, anakku sudah kelas 1 SD koq masih susah menghitung? Mengurutkan bilangan saja sering keliru. Menghitung jarinya sendiri kadang salah. Apalagi mengerjakan soal tambah, kurang, kali, bagi,”begitu curhat seorang teman.

Saya jawab, “Oh, bisa jadi itu diskalkulia.”

“Apa itu?” tanya teman saya.

“Ada yang bilang, itu math disorder. Sederhananya, anakmu kesulitan memahami angka-angka sehingga sulit berhitung. Kalau diberi soal matematika, ia kesulitan memecahkannya.”

“Terus, bagaimana? Bagaimana kalau nanti nilai matematikanya kurang? Bagaimana kalau nggak naik kelas? Bagaimana masa depannya kalau nggak bisa ngitung uang? Bagaimana?”

“Tenang… tenang,” jawabku. “Di pelajaran lain, apa ia tidak tertinggal?”

“Tidak.”

“Begini, saya mau jelaskan dulu. Diskalkulia itu tidak disebabkan oleh kurangnya kecerdasan atau kurangnya usaha anakmu. Itu juga bukan akibat pendidikan yang tidak memadai. Anakmu tetap akan bisa menjalani kehidupan di sekolah dan kehidupan di dunia nyata kelak jika mendapat dukungan yang tepat.”

“Terus, apa penyebabnya?”

“Para ilmuwan belum sepenuhnya paham. Bisa jadi itu kombinasi berbagai penyebab. Bisa saja faktor genetik. Keturunan. Nilai matematikamu dulu berapa, sih?”

“Hehehe, mungkin iya. Nilaiku selalu jeblok di matematika.”

“Selain genetik, bisa juga faktor neurologis, struktur dan fungsi otak, faktor lingkungan, pembelajaran yang beda, dan lain-lain. Jadi, tidak selalu karena kurang cerdasnya atau kurang upayanya si anak.”

“Lalu, bagaimana?”

“Kau, sebagai orang tua, harus hidup akrab dengan diskalkulia anak. Hidup tetap bisa dijalani meski kita susah bermatematika.”

“Apa yang aku harus lakukan?”

“Didik diri sendiri dulu. Pelajari lebih lanjut tentang apa itu diskalkulia. Pahami bagaimana pengaruhnya terhadap pembelajaran. Pahami bagaimana hidup dengan diskalkulia. Jika sudah cukup pahan, dukung anakmu sepenuhnya dengan benar.”

“Iya, hehe… Aku sendiri nggak jago matematika tapi bisa juga jadi atlet renang.”

“Terus, jangan lupa konsultasi dengan profesional. Contohnya, curhat dengan saya ini. Bisa juga curhat dengan psikolog pendidikan khusus untuk mendapatkan panduan penanganan sesuai untuk anakmu. Di rumah, sediakan lingkungan belajar yang mendukung anak diskalkulia. Ciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Semangati dan bantu anakmu mengembangkan mindset berkembang. Fokus pada kemajuan, bukan sekadar pada pencapaian.”

“Gurunya juga dong?”

“Jelas. Kau harus bekerjasama dengan gurunya. Kalau dipanggil ke sekolah, ya datang saja. Bicarakan tentang kekuatan dan kelemahan anakmu. Padukan metode belajar di sekolah dengan di rumah, agar anak tidak bingung.”

“Terus, apa lagi?”

“Coba gunakan aktivitas belajar multisensori dan langsung. Misalnya, menggambar, memasak atau bermain lalu hubungkan dengan berhitung. Saat menggambar burung, coba suruh dia hitung kakinya ada berapa. Bisa juga membentuk bangun dari batang, kubus, atau balok. Bermain sambil memahami konsep matematika. Lewat balok, anakmu bisa diajari menyatakan bilangan dan angka, melakukan penjumlahan dan pengurangan. Ini latihan praktis matematika dalam kehidupan nyata, dan latihan yang menyenangkan karena sambil bermain.”

“Oh, iya. Di laptop kan juga ada program atau aplikasi games berhitung?”

“Ya, itu boleh juga digunakan. Tapi tetap dalam pengawasan. Jangan sampai main yang lain-lain lebih banyak daripada belajar berhitungnya.”

“Iya, iya…aku paham.”

“Ingat, setiap anak itu unik. Setiap anak dengan diskalkulia juga unik. Tantangan belajarnya unik. Apa yang berhasil untuk satu anak mungkin tidak berhasil untuk anak lainnya. Maka, kau harus bisa bekerja dengan guru di sekolah, dengan teman-temannya, dengan profesional lain untuk tindakan tepat pada anakmu. Dukungan dan intervensi yang tepat membuat anak dengan diskalkulia dapat mengembangkan keterampilan matematika yang lebih kuat dan inshaAllah bisa sukses dalam kehidupan nyata kelak.”

Facebook Comments

Comments are closed.