Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pagi-pagi, seorang teman ngajak ghibah. “Eh, Mbak, Pak Boss makin ngeselin, ya. Sebulan ini, aku berkali-kali disuruh lembur. Capek banget aku, Mbak. Capek. Kenapa nggak orang lain yang diminta lembur?”
“Lha terus, bagaimana? Yang bidang kerjanya sesuai kan cuma kamu,” saya mencoba menggali.
“Aku jadi males, Mbak. Capek. Lemburan aku kerjakan, tapi pekerjaan rutin aku tinggalkan. Biarin saja mangkrak semua!” ia menjawab ketus.
“Sebentar…sebentar… Kau ini sedang jengkel pada lemburannya atau pada Pak Boss, sih?”
Pembaca yang budiman, saya tidak perlu mendetilkan kisah teman saya tadi. Saya hanya ingin menggambarkan, rupanya ia sedang terjebak dalam kondisi passive-aggressive. Dalam psikologi, kondisi pasif-agresif ini biasanya dipakai untuk mengungkapkan perasaan negatif secara tidak langsung. Ia merasa Pak Boss sedang memanfaatkan dia. Maka, ia jengkel tapi perasaan itu tidak ditampakkan secara langsung. Ia justru meluapkan perilaku agresif dalam diam untuk mengganggu Pak Boss. Saat diberi tugas, ia menghindari tanggung jawab, menunda-nunda atau bahkan melewatkan tenggat waktu. Karena sifatnya pasif, perilaku ini kadang sulit diidentifikasi. Tapi, jika dibiarkan, perilaku agresifnya bisa merusak hubungan di tempat kerja.
Kondisi passive-aggressive bisa terjadi pada siapa saja, bukan hanya pada teman saya itu. Kadang, saat kita merasa (entah benar atau tidak) didzalimi oleh pihak lain, maka kita memilih untuk bersikap diam tapi melawan sambil menyembunyikan apa yang sebenarnya kita rasakan. Salah satu tindakan yang mungkin muncul adalah memutus silaturrahim atau komunikasi dengan pihak lain itu. Kalau toh berkomunikasi, maka bahasa yang muncul biasanya sarkas atau penuh sindiran.
Mungkin, dalam jangka pendek atau dalam kondisi tertentu, sikap pasif-agresif ini bisa membuat pihak lain menyadari perilakunya terhadap kita. Tapi, dalam banyak kondisi dan dalam jangka lebih panjang, pola perilaku yang maldaptif ini justru merugikan. Lebih-lebih jika tidak ada yang menjadi penengah antara sikap kita dan sikap orang lain itu.
Nah, mengingat potensi baik dari silaturrahim, akan lebih baik jika kita bisa mengikis sikap agresif terutama pasif-agresif. Lalu, bagaimana cara untuk mengelolanya?
- Kendalikan fikiran
Fokuslah pada kondisi di sini dan saat ini, dan jangan terlalu menggeneralisasi. Saat merasa kesal atau marah, otak kita cenderung bekerja dalam mode biner. Hitam-putih. Kalau tidak ini ya pasti itu. Kalau tidak itu, ya pasti ini. Akibatnya, kita sering terburu-buru menilai atau menggeneralisasikan tindakan orang lain secara berlebihan. Maka, muncul kata-kata semacam, “Ia selalu memeras tenagaku.”
Dalam situasi ini, tenangkan diri dengan cara menarik napas dalam beberapa kali lalu membingkai ulang fikiran kita. Penelitian di Amerika Serikat menemukan, mindfulness berkontribusi pada kepuasan hubungan dengan mengembangkan repertoar emosional yang lebih terampil. Maka, coba pilih kata-kata, “Aku terpilih menjadi orang yang berkontribusi pada keberlanjutan perusahaan.”
- Cegah agresi, kelola pemicunya.
Jika menyadari tindakan agresif bisa menganggu diri sendiri dan seluruh sistem, maka kitab isa mengambil tindakan untuk mencegahnya. Jika berinteraksi Pak Boss yang terkesan memeras, cobalah bicarakan kondisinya agar kita memahami apa yang terjadi dan peluang di masa datang. Jika paham, kita bisa mengelola perilaku dengan lebih baik dan lebih benar.
Kemarahan mungkin tidak sepenuhnya bisa dihilangkan. Namun, dengan memilih mengubah bagaimana kejadian memengaruhi kita dan bagaimana kita bereaksi terhadapnya, maka kita dapat menghindari dorongan untuk menggunakan perilaku pasif-agresif.
- Lebih baik jujur.
Sangat penting untuk memahami emosi kita dan menemukan cara yang tepat untuk mengomunikasikannya pada pihak lain agar kita bisa menghentikan perilaku pasif-agresif. Kita perlu jujur tentang apa yang kita rasakan. Secara langsung mengungkapkan perasaan akan membantu kita menemukan kejelasan dan memberi kita ruang untuk mengatasi gesekan.
Meski konflik adalah aspek kehidupan yang tak terhindarkan, memahami cara mengekspresikan diri dengan tepat saat konflik dapat mengoptimalkan hasil.
Sekali lagi, kondisi pasif-agresif bisa terjadi pada siapa saja. Jika menimpa kita, cobalah untuk tidak meningkatkan situasi yang membuat kita kesal. Karena kita tidak bisa selamanya menyembunyikan emosi yang sebenarnya, maka emosi itu pasti menemukan cara untuk merembes keluar. Meski sudah sangat pasif, agresivitas itu pasti bisa dilihat atau dirasakan orang lain. Oleh karena itu, yang terbaik adalah bersikap langsung, terbuka dan jujur saat kita dihadapkan pada konflik. Ini jalan tercepat menuju resolusi yang saling menguntungkan.


