Menurut Riset di Cina, 6 Gaya Hidup Ini Bisa Cegah Pikun

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mana kacamata? Mana…?” kata seseorang paro baya sambil menggeladah meja kerjanya.

Di sudut lain ruang itu, seorang mahasiswa menahan tawa berbisik pada temannya, “Eh, Pak Dosen mulai pikun. Kacamata nempel di dahinya koq dicari-cari.”

Adegan semacam itu sering muncul di film-film zaman dulu untuk menggambarkan gejala pikun. Dalam kenyataan sehari-hari, kondisi itu juga biasa terjadi. Apa Anda juga pernah mengalaminya?

Pembaca yang budiman, pikun adalah menurunnya daya ingat yang umumnya disebabkan usia menua. Pikun yang parah umumnya mengarah ke demensia. Lebih jauh, demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi fungsi kognitif otak dalam mengingat (memori), berpikir, bertingkah laku, dan berbicara.

Semakin menua usia, semakin bertambah gejala kepikunan dan demensia itu. Hal itu normal, alami, dan biasa terjadi pada sebagian besar manusia. Masalahnya, kadang gejala itu sudah sering terjadi bahkan saat usianya belum tua-tua amat.

Apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kepikunan? Tentu ada. Banyak saran dari para ahli. Ada yang menggunakan cara medis, ada yang spiritual, ada yang herbalis, ada yang menyarankan perubahan perilaku.

Nah, saya ambil satu saran dari hasil riset terbaru yang dilakukan Profesor Jia Jianping dari Capital Medical University, di Beijing. Risetnya berkoordinasi dengan para pakar di sejumlah perguruan tinggi di Cina, Kanada dan Amerika Serikat. Repondennya lebih dari 29.200 orang usia 60 tahun ke atas di berbagai penjuru Cina selama 10 tahun.

Hasil riset mengisyaratkan, demensia dapat ditunda dengan perubahan gaya hidup. Apa saja? Antara lain, makan makanan yang sehat, latihan fisik dan kognitif, interaksi sosial serta tidak merokok atau minum minuman keras.

Hasil penelitian menunjukkan, faktor yang paling dapat dikendalikan adalah diet. Peserta yang makan tujuh dari 12 makanan sehat setiap hari ternyata mengalami penurunan daya ingat lebih lambat dibandingkan yang tidak makan sehat.

Faktor berikutnya adalah aktivitas kognitif setidaknya dua kali seminggu. Kegiatan tersebut antara lain membaca, menulis, bahkan bermain kartu dan games lainnya.

Lalu, aktivitas fisik yang konsisten. Jumlah yang sehat setidaknya seminggu berolahraga 150 menit dengan intensitas sedang atau 75 menit dengan intensitas kuat.

Interaksi sosial setidaknya dua kali seminggu berada di urutan keempat. Kegiatan sosial yang membantu memperlambat penurunan daya ingat antara lain menghadiri pertemuan orang banyak, mengunjungi teman atau kerabat, jalan-jalan dan chatting online.

Dua faktor terakhir adalah pantang merokok dan minum alkohol. Dua aktivitas ini memang banyak diketahui bisa mengganggu sel-sel otak sehingga menurunkan daya ingat. Repotnya, menurut penelitian itu, dua faktor ini yang paling susah dikendalikan.

Facebook Comments

Comments are closed.