Di Bawean, Kunci Motor Nggak Pernah Dicabut

Oleh: dr Ainul Rohman

mepnews.id – Bawean adalah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa antara Jawa Timur dan Kalimantan Tengah. Pulau seluas 196,97 km2 yang berada di bawah administrasi pemerintahan Kabupaten Gresik itu memiliki banyak kawasan wisata.

Saya tidak menulis tentang daya tarik wisata alamnya, tapi tentang kebiasaan unik masyarakat Bawean. Nah, begitu turun dari kapal cepat di pelabuhan, saya langsung melihat kebiasaan orang Bawean yang jarang ditemukan di daerah lain terutama di pulau besar atau di kota besar.

Dermaga pelabuhan Bawean.

Di Bawean, sepertinya rumah tidak pernah dikunci, dan kunci sepeda motor selalu tertancap di mana saja. Mengapa? Karena kriminalitas di Bawean sangat rendah. Kasus pencurian nyaris tidak ada.

Ini membuat masyarakat tidak pernah merasa perlu untuk melepas kunci motor. Saat pergi berbelanja, pergi ke masjid, ke rumah sakit, masyarakat memarkir motor lalu membiarkan kunci tertancap begitu saja.

Bisa dipahami jika pencurian kendaraan bermotor (curanmor) sangat minim terjadi di Bawean. Kalau terjadi pencurian, pelakunya akan mudah tertangkap. Bawean ini pulau kecil yang dikelilingi laut. Wilayahnya saja hanya terdiri dari dua kecamatan. Terus, pencurinya mau bawa kabur motor ke mana? Satu-satunya pintu keluar adalah pelabuhan. Namun, surat-surat kendaraan pasti diperiksa ketika ada penyebrangan.

Saat curanmor nyaris tidak ada, yang sering terjadi justru motor tertukar. Ini terjadi karena warga juga jarang memasang plat nomor kendaraan. Sementara, warna dan jenis kendaraan mungkin saja sama. Ketika berbelanja ke pasar atau ke masjid, motor yang dikendarai seseorang bisa saja tertukar dengan motor milik orang lain.

Diakui oleh beberapa penduduk Bawean, kasus tertukar ini tak jarang baru disadari beberapa hari bahkan minggu. Meski demikian, proses pencariannya mudah. Warga yang merasa motornya tertukar segera memberikan laporan kepada pihak polisi. Cara kedua yang sedang populer, masyarakat memanfaatkan medsos, antara lain grup Facebook ‘Info Bawean’. Tinggal posting foto motornya, beberapa saat kemudian ada orang yang memberi kabar keberadaannya.

Cerita teman saya warga Bawean, tetangganya pernah tertukar motor dengan warga kecamatan sebelah yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan. Warga yang motornya tertukar tersebut tidak menyadari di mana motornya tertukar. Mereka baru menyadari ketika sama-sama akan membayar pajak kendaraan karena berbeda nomor mesinnya.

Kebiasaan lain yang membuat saya takjub adalah proses menjamu tamu. Di tempat lain pada umumnya, jamuan makan ditata di atas meja. Di Bawean, jamuan makan digelar di seluas lantai ruang tamu. Yang disajikan juga luar biasa banyak dan beragam. Ada berbagai macam makanan dan minuman. Nasi hangat di termos, cemilan tradisional koncok-koncok, berbagai macam masakan hasil laut; tongkol, tenggiri, cumi, gurita, sotong, hingga telur penyu. Semua diolah dengan berbagai macam bumbu.

Saya, selaku penggemar rujak petis, agak kesulitan menemukannya di Bawean meski begitu banyak bahan alami berupa ikan. Di Kecamatan Tambak, ada pedagang rujak petis yang rasanya tidak ada tandingan dibanding tempat lain di Bawean. Aroma laut pada rujaknya memang beda.

 

  • Tulisan ini dipetik dari buku Catatan dari Bawean yang merekam aktivitas bakti sosial Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. 

 

Facebook Comments

Comments are closed.