mepnews.id – Gempa Cianjur 21 November 2022, yang meminta korban 635 nyawa manusia, masih menjadi trauma tersendiri bagi penduduk Jawa Barat sekitar bencana. Lebih-lebih, ancaman Sesar Lembang sulit diprediksi.
Sesar Lembang, yang membujur dari Padalarang hingga Jatinangor, merupakan zona rawan gempa. Di zona bahaya itu, terdapat 20 desa di empat kecamatan Bandung Barat.
Dikabarkan situs resmi itb.ac.id edisi 20 Desember 2022, jika pecah bencana di wilayah Sesar Lembang maka estimasi kerugian mencapai Rp 4 triliun dan 155.383 penduduk terancam.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kebencanaan, dilakukan sosialisasi penyelamatan gempa bumi. Ratusan siswa SDN Merdeka, Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, berpartisipasi dalam kegiatan edukasi dan simulasi penyelamatan gempa bumi Sesar Lembang.
SDN Merdeka merupakan 1 dari 93 sekolah yang dipetakan ada dalam zona bahaya Sesar Lembang. Sekolah-sekolah itu menjadi sasaran kegiatan edukasi dan pembiasaan sejak dini. Sosialisasi digagas Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL) berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung.
Anak-anak SDN Merdeka melakoni kegiatan dengan antusias. Penjelasan mengenai karakteristik patahan Lembang serta potensi gempa bumi disampaikan dengan metode yang mudah dipahami anak-anak.
“Saya jadi bisa mengetahui cara menyelamatkan diri ketika gempa terjadi. Salah satunya berlindung di kolong meja,” kata Ikhsan, salah satu siswa SDN Merdeka.
Para siswa juga diajarkan cara melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) kemudian mencari tempat berlindung. Mereka diajak tetap tenang dan mengikuti petunjuk jalur evakuasi agar dapat menyelamatkan diri.
Kegiatan dan simulasi gempa bumi Sesar Lembang ini bagian dari program Institutional Support System Mengajar Kemanusiaan dari Teknik Geodesi dan Geomatika.
“Selain SDN Merdeka, kami juga melakukan edukasi di SOS Children Village Lembang, SDN Pancasila, SDN Wangunsari, SDN Pasirwangi, dan SMP Islam Al Musyawarah,” tutur Dr. Alfita Puspa Handayani, dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, dikutip Jabar Ekspress.
Untuk meningkatkan ketangguhan terhadap bencana, harus dimulai dari anak-anak. Oleh karena itu, para siswa SD tersebut dibekali dengan kurikulum kebencanaan.
“Kurikulum kebencanaan diintegrasikan dengan kurikulum yang sudah ada. Diharapkan ini dapat membangun masyarakat sejak dini untuk lebih tangguh. Hal ini diaktualisasikan lewat pengenalan, pemahaman, dan kebiasaan,” jelas Dr. Alfita. (Maharani Rachmawati P.)


