Oleh: Agus Suprayitno
Apa transportasi favorit masyarakat Bondowoso puluhan tahun silam untuk di pinggiran kota? Orang-orang zaman dulu pasti menjawab; lin. Namun, tak banyak orang terutama generasi masa kini yang kenal nama itu.
Lin adalah sebutan untuk angkutan umum. Bentuknya sama dengan colt angkutan umum. Yang membedakan hanya warna. Lin memiliki warna khusus biru. Hal ini menjadi penanda bagi penumpang yang ingin menggunakan jasanya. Para penumpang langsung tahu karena lin warna biru dan mobil lain memakai warna umum.
Angkutan lin hanya melayani trayek pinggir kota yang tak dilalui jalan trans Jember-Situbondo. Jadi, trayek lin hanya dua yaitu Bondowoso-Pakisan dan Bondowoso-Tamanan. Penanda dua trayek ini adalah garis memanjang di samping bodi mobil. Garis merah untuk trayek Bondowoso-Tamanan (biasa disebut lin merah), garis kuning untuk trayek Bondowoso-Pakisan (biasa disebut lin kuning).
Untuk memikat penumpang, lin juga mengandalkan suara-suara khas sopir maupun kernet. Biasanya kernet mendampingi sopir bertugas memungut ongkos dari penumpang. Selama mencari penumpang, kernet berteriak-teriak tentang tahu arah tujuannya.
Semua lin maupun colt trayek Jember-Bondowoso dan trayek Situbondo-Bondowoso mangkal di terminal. Lin merah dan kuning mengitari pusat kota lewat jalan pinggir sebelum ke terminal dan meneruskan ke trayek tujuan.
Ada beberapa titik utama tempat lin berhenti cukup lama sekadar menanti penumpang. Titik-titik pemberhentian lin itu adalah:
- Pertigaan Nangkaan (Alun-alun Contong).
- Pertigaan RSU Dr. Koesnadi.
- Perempatan Gelanggang Olah raga Pelita.
- Perempatan Pasar Kota Bondowoso.
Menurut para sopir lin, tempat-tempat tersebut sangatlah strategis bagi penumpang yang mencari tumpangan. Penumpangnya, selain yang biasa butuh transportasi ke pinggiran kota, juga para pelajar, para pedagang dan pembeli dari pasar, atau bahkan penjenguk sekaligus pasien di sekitar rumah sakit.
Sejak sekitar tahun 1970-an, jumlah lin terus mengalami penyusutan. Dulu, setiap 15 menit, kita bisa melihat lin melintas di jalanan. Sekarang, mungkin dalam satu jam kita baru bisa temukan. Bahkan, dalam sehari dari pagi hingga sore, mungkin kita hanya melihat lima kali per-trayek lin.
Sepertinya, lin yang beroperasi semakin berkurang. Para pemilik lin hanya beroperasi dua sampai tiga saja. Karena itu, angkutan lin bisa dipastikan dua puluh tahun mendatang akan tersingkir dari daftar transportasi di Bondowoso.
Penyebab Menghilangnya Lin
Menghilangnya lin di Kabupaten Bondowoso pada masa mendatang tak lepas dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya;
- Menjamurnya Alat Transportasi
Dari waktu ke waktu alat transportasi di Kabupaten Bondowoso semakin berkembang dan bertambah. Kendaraan pribadi semakin banyak seiring pertumbuhan ekonomi masyarakat yang terus meningkat. Selain mobil pribadi, banyak sepeda motor untuk sarana bepergian. Orang-orang merasa lebih mendiri dan mudah bepergian ke daerah pinggir dengan kendaraan pribadi. Apalagi kendaraan pribadi lebih menghemat waktu dan langsung ke tempat tujuan tanpa harus berhenti di terminal.
Pada era digital, juga menjamur alat transportasi yang bisa dipesan secara online. Ojek online dan taksi online membuat penumpang lebih mudah menentukan kapan berangkat ke tujuan. Sementara, lin hanya lewat pada waktu tertentu bahkan tanpa patokan waktu kedatangan. Tak pelak, keunggulan taksi online membuat lin ditinggal penumpangnya.
- Mahalnya Biaya Operasional
Mengoperasikan serta merawat armada lin pasti butuh biaya. Perlu kekuatan finansial untuk mengisi bahan bakar yang seiring waktu harganya terus naik. Kekuatan finansial juga diperlukan untuk membayar tenaga sopir lin sekaligus kernetnya.
Berkurangnya penumpang membuat pengusaha lin melakukan perampingan untuk menekan biaya operasional. Dari mengurangi armada hingga mengurangi fungsi kernet. Saat ini, lin dioperasikan tanpa kernet. Sopir tak hanya nyetir, tetapi sekaligus melakukan tugas kernet dalam menarik ongkos sekaligus berteriak-teriak menyebutkan arah tujuan.
Pendapatan yang tak sepadan dengan jumlah penumpang tak memungkinkan pengusaha lin terus beroperasi. Kendaraan tak bisa terjaga dan terawat baik hingga akhirnya rusak. Maka, banyak pengusaha lin gulung tikar.
- Sopir dan Kernet Beralih Profesi
Menurunnya pendapatan membuat sopir maupun kernet lin banting stir beralih profesi. Ada yang ganti jadi petani, pedagang, tukang bangunan, bahkan ada yang bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi mereka, lebih baik bekerja apa saja asal ada pemasukan daripada menunggu hasil sebagai sopir dan kernet lin dengan pendapatan tak pasti. Pada akhirnya, kendaraan lin tak beroperasi karena tak ada yang mengemudikannya.
- Kondisi Lin
Kondisi lin yang masih ada pada masa kini dibandingkan dengan kondisi lin zaman dulu sangat berbeda. Dulu, lin tampak bagus dari segi tampilan eksterior maupun interiornya. Namun, coba kita lihat keadaan lin saat ini. Tak terawat dan terkesan apa adanya. Tidak menarik dipandang dan tidak nyaman diduduki. Lin semakin termakan waktu dan semakin tak terawat.
Sebenarnya, kondisi ini bisa dimaklumi mengingat biaya operasional merawat lin tak lagi ada. Pendapatan yang terus berkurang tak memungkinkan pengusaha mempercantik desain lin. Sekadar menjaga kondisinya pun tak bisa.
Karena merasa kondisi kendaraan tidak nyaman, para penumpang beralih ke transportasi lain. Pada masa mendatang, lin tak ada peminatnya lagi dan ditinggalkan penumpang.
Upaya dan Berdaya
Sebagai warga Bondowoso yang pernah mengalami masa keemasan transportasi lin, saya tentu merasa sangat sayang jika lin nantinya benar-benar hilang. Generasi masa depan tidak mengenalnya lagi. Jangankan generasi masa depan, generasi masa kini pun jika ditanya tentang lin sudah tidak banyak tahu.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso perlu bergerak aktif dalam upaya melestarikan alat transportasi ini. Harapannya, angkutan lin terus berdaya bagi pemilik maupun pemakainya. Perlu dicarikan solusi agar anak dan cucu kita bisa tetap mengenal bahkan menikmati kendaraan roda empat tersebut.
Kondisi saat ini serta beberapa faktor yang saya kemukakan sebelumnya, telah membuat para pengusaha lin tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk merawat dan mengoperasikan lin sebagaimana dahulu. Perlu suntikan dana bagi pengusaha lin. Pemerintah Kabupaten Bondowoso diharapkan bisa mencarikan solusi tepat.
Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah memberi solusi pendanaan bagi pemilik lin. Dana itu bisa untuk merenovasi tampilan lin sehingga jadi lebih menarik. Jika sudah tampil menarik, penumpang tidak akan enggan terus memakai jasanya.
Bisa pula meniru ide kreatif kota tetangga, yaitu mengalih-fungsikan lin sebagai angkutan wisata. Tentu lin harus didesain sebagus dan semenarik mungkin. Trayek yang ditempuh bisa tetap, bisa pula berubah di sekitaran kota. Terapkan tarif yang tidak mahal. Bisa dipastikan lin terus bertahan.
Sekali lagi, yang perlu ditekankan adalah mencari solusi pendanaan bagi pengembangan lin ke depan. Ini yang perlu menjadi pemikiran Pemerintah beserta pengusaha lin yang tersisa. Semoga lin yang berasal dari pinggir tak serta merta terus tersingkir.
- Penulis adalah guru di SDN Kotakulon 1 Bondowoso


