Menghadapi Anak yang Suka Memberontak

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Lho..lho..lho.. Koq ada ya anak yang suka memberontak? Seperti sekelompok bersenjata di ujung negeri sana? Tapi, yaaa, begitulah. Kenyataannya memang ada.

Para pembaca yang budiman, dalam tahap perkembangan tertentu ada saat si anak ‘memberontak’ alias membangkang yakni tidak mematuhi aturan atau ucapan orang tua atau aturan kemasyarakatan. Jika tidak ekstrim dan segera kembali ke normal, itu tidak masalah. Yang repot dan butuh penanganan khusus adalah saat perilakunya berlebihan sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Ada beberapa contoh anak yang tidak menghormati atau tidak mendengarkan otorita. Misalnya, saat kunjungan ke markas pemadam kebakaran, ada murid yang berulah terus sehingga gurunya kehabisan banyak waktu menanganinya daripada memberikan pembelajaran pada siswa lain. Ada murid yang tidak pernah mau membawa pensil berwarna, dan marah jika diingatkan. Ada juga anak yang suka mengajak temannya membolos sekolah.

Itu beberapa contoh di sekolah. Contoh di rumah bisa lebih banyak lagi. Anak tidak mau tidur pukul 21.00, anak menjambak saat dingatkan kakaknya untuk menata mainan, anak tidak pernah mau mendengar jika diberi tahu adiknya. Dan lain-lain.

Untuk mengatasi sikap ini, tentu harus dikaji akar permasalahan yang lebih mendasar. Apakah si anak punya keistimewaan terkait Oppositional defiant disorder (ODD) atau Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau ada masalah sosial di rumah atau di lingkungannya. Ini butuh beberapa tes khusus.

Meski demikian, ada beberapa cara umum yang bisa dpakai untuk mengendalikan perilaku itu;

Antisipasi Perilaku 

Setelah mempelajari kebiasaan perilaku anak, cobalah hindari situasi yang memicu si kecil menunjukkan perilaku membangkang atau memberontak atau perilaku buruk lainnya. Misalnya, jika anak cenderung rewel jika diganggu saat menggambar, maka coba bersabar untuk membiarkan ia tuntas mengambar dulu, lalu berikan sedikit waktu transisi untuk ia berpindah ke kegiatan lain.

Tetapkan Aturan yang Pas

Pastikan Anda jelas menetapkan aturan dan tugas rumah yang sesuai dengan usia anak. Anak balita mungkin kewalahan jika disuruh membersihkan kamar, dan karena itu menolak melakukannya. Mereka mungkin dapat melakukan lebih baik jika tugasnya lebih kecil. Misalnya, mengambil mainan dari lantai dan membantu Anda menyimpannya.

Perlakukan Anak Sebagaimana Anda Ingin Diperlakukan

Anak itu mudah sekali meniru orang dewasa. Sama seperti orang dewasa, anak bisa berperilaku baik juga bisa ngambek. Anak bisa juga dalam suasana hati yang tak nyaman, atau merasa kewalahan sehingga butuh istirahat. Maka, beri contoh pada anak untuk bertindak atau bersikap. Ketika Anda memberi contoh yang baik bagaimana mengungkapkan pendapat atau ketidaksetujuan, anak tentu akan mengikuti.

Manfaatkan Keterampilan Verbal 

Ketika usia anak bertambah, kemampuan komunikasinya tentu bertambah. Maka, Anda bisa melatih anak untuk membicarakan segala hal termasuk yang memicu perilaku pembangkangan. Diskusikan dengan anak tentang apa yang ia inginkan dan kemudian cobalah cari solusi yang cocok.

Boleh Sesekali Berkompromi 

Misalnya, anak bersikeras mau berpakaian sepakbola saat sesi foto keluarga berpakaian formal. Jika tidak terlalu prinsip, kompromi saja. Bisa jadi si kecil punya imajinasi kreatif sehingga ogah diseragamkan. Maka, Anda tinggal memberi beberapa sentuhan formal pada kostum sepakbola yang dipilih anak. Tunjukkan pula foto beberapa pesepakbola dalam pakaian formal agar si kecil juga mau berkompromi.

Tentu saja, cara-cara di atas hanya bisa diterapkan dalam kondisi yang sesuai dengan keadaan anak. Itu karena semua anak tidak sama. Metode yang manjur bagi satu anak belum pasti manjur untuk anak yang lain.

Tetaplah bersabar saat menghadapi anak yang suka memberontak. Yakinlah bahwa Tuhan memberikan sifat tertentu pada anak dengan berbagai hikmah di baliknya.

Facebook Comments

Comments are closed.