Tradisi Arebbe untuk Minta Keselamatan

Oleh: Rofiqatus Syarifah

mepnews.id – Rona jingga di ufuk barat. Mentari mulai bersembunyi di balik awan. Seolah merasa kelelahan setelah seharian menyinari alam. Burung-burung kembali ke sarang. Tampak, di ujung jalan, para bapak melangkah santai membawa tas kresek berisi kotak nasi. Mereka berduyun-duyun menuju ke musholla untuk mengikuti acara arebbe.

Ini adalah tradisi awal bulan Ramadan yang masih melekat pada masyarakat Bondowoso. ‘Arebbe’ adalah istilah dalam bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan dengan ‘selamatan’. Di dalam KBBI, ‘selamatan’ mempunyai arti: kenduri untuk meminta selamat dan sebagainya. Nah, arebbe adalah tradisi selamatan yang sering dilakukan masyarakat Bondowoso.

Tradisi ini sudah mendarah daging di masyarakat dan masih terjaga sampai sekarang, terutama di pedesaan. Bukan hanya saat Ramadhan, tapi hampir tiap bulan ada arebbe. Bahkan, ada yang arebbe tiap malam Jumat.

Sebenarnya, dari mana asal-usul tradisi arebbe? Kalau melihat komunitasnya, rata-rata masyarakat Bondowoso beragama Islam. Padahal, dalam agama Islam sendiri tidak ada istilah arebbe. Lalu, dari mana?

Jika kita membaca sejarah, Islam di Jawa disyiarkan Walisongo. Waktu itu, mayoritas penduduk Jawa beragama Hindu atau Budha. Tradisi Hindu atau Budha sangat familiar dengan berbagai sesaji. Nah, tradisi memberikan sesaji itu masih melekat di kalangan masyarakat. Ketika para walisongo datang menyiarkan Islam, mereka tidak bisa sekaligus menghapus tradisi yang sudah ada. Mereka menyiasati bagaimana tradisi itu tetap ada namun nuansanya jadi islami. Belakangan, sejumlah ulama memperbolehkan tradisi itu selama tidak melanggar syari’at.

Hal inilah yang tetap bertahan sampai sekarang. Tradisi arebbe tetap ada dan tak lekang oleh waktu. Arebbe biasa dilaksanakan di musholla, masjid atau dalam anjangsana dari satu rumah ke rumah lain secara bergantian. Masyarakat yang ingin arebbe membawa berkat.

Berkat itu apa? Berkat adalah beragam makanan yang ditempati dalam kotak atau wadah tertentu. Isinya, menyesuaikan. Terkadang berupa nasi plus lauk dan aneka ragam kue, buah-buahan, bubur ketan hitam atau bubur dari beras.

Apa saja yang dilakukan masyarakat saat arebbe? Biasanya masyarakat membawa makanan untuk dikumpulkan kemudian mengadakan doa bersama.

Macam-macam arebbe: 

  • Di awal bulan Muharram yang dikenal dengan tajin sorah.
  • Di bulan Safar ada tajin mera atau tajin etem.
  • Pada bulan Maulid, biasanya arebbe menggunakan nasi, kue dan buah-buahan.
  • Di bulan Rajab, masyarakat memperingati isra’ mi’raj juga arebbe.
  • Pada bulan Sya’ban, masyarakat melakukan tradisi arebbe.
  • Menjelang 1 Ramadan, tradisi arebbe masih dilakukan.
  • Saat Idul Adha dan Idul Fitri.
  • Dalam acara pernikahan.
  • Saat akan panen di sawah.
  • Ketika anak baru lahir.
  • Setiap malam Jumat.

Beberapa hikmah yang bisa dipetik dari tradisi arebbe:

  • Silaturrahmi antar sesama warga.
  • Saling berbagi dengan sesama
  • Saling mendoakan.
  • Gotong-royong.

 

* Penulis adalah guru di SDN Dabasah 1 Bondowoso. 

Facebook Comments

Comments are closed.