Gempa Cianjur; Perlu Bisa Menolong Diri Sendiri

mepnews.id – Indonesia dikejutkan dengan bencana gempa di Kabupaten Cianjur, Senin siang 21 November 2022. Gempa bermagnitudo 5,6 hingga menelan setidaknya 268 korban jiwa dan kerusakan ribuan bangunan.

Dr Ir Amien Widodo MSi

Menurut peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo MSi, gempa Cianjur terjadi akibat lempeng tektonik yang bergerak dan menekan wilayah Indonesia sejak jutaan tahun lalu. Namun, sumber gempa darat dari sesar aktif ini masih belum diketahui secara pasti.

Berdasarkan peta, dekat Cianjur ada sesar Cimandiri yang membentang mulai dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga Cianjur. Sesar ini pernah mengguncang Sukabumi pada 2001.

“Namun, letak sesar yang jauh di sebelah utara tempat kejadian dipastikan bukan penyebab dari gempa Cianjur,” Amien memastikan.

Gempa Cianjur, meski kerkekuatan tergolong kecil, berdampak cukup besar. Itu karena pusat gempa relatif dangkal di daratan. Untungnya, gempa tidak berpotensi tsunami.

Dosen Departemen Teknik Geofisika ini mengatakan, kemunculan gempa belum bisa diprediksi. Namun, berkaca dari peristiwa gempa beberapa kali di Indonesia, seharusnya bisa dijadikan acuan mitigasi.

Ia menjelaskan, mitigasi dibagi menjadi dua jenis. Mitigasi struktural berfokus pada pembangunan infrastruktur dan mitigasi nonstruktural berfokus pada edukasi masyarakat.

Amien juga menjelaskan dampak mitigasi nonstruktrural edukasi masyarakat Jepang. Berdasarkan hasil survei gempa Kobe 1995 dengan magnitude 7,3, pertolongan dari diri sendiri 35 persen, dari keluarga 32 persen, tetangga 28 persen, dan sisanya 5 persen dari luar.

Dapat disimpulkan, tanggung jawab terbesar akan keselamatan saat terjadi ya gempa berada pada diri sendiri. “Maka, tanamkan pengetahuan tentang gempa agar bisa selamat,” Amien mengingatkan.

Ia juga berharap pemerintah lebih memetakan sesar yang ada di Indonesia dan memberikan panduan bagaimana semestinya jarak dan model rumah dibangun.

“Perlu diingat bahwasa gempa tidak membunuh. Bangunanlah yang menyebabkan korban,” tegasnya.

Amien berharap masyarakat paham literasi kebencanaan. Jangan hanya berpikir bencana itu sekadar takdir, azab, maupun kutukan. “Penumbuhan pengetahuan akan ancaman di sekitar akan mengurangi risiko bencana,” kata Amien. (Silvita Pramadani)

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.