Menjadi Guru dan Orang Tua yang Dirindukan

mepnews.id

“Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta”

(Syair lagu Bongkar – Swami).

 

Kalimat-kalimat satir dari syair lagu ‘Bongkar’ tersebut menyiratkan bentuk keprihatinan kondisi anak-anak kita sekarang. Anak-anak jadi lebih percaya pada bentuk perhatian dan kasih sayang orang lain yang mereka temui di jalanan.

“Bagaimana anak-anak tidak mencari bentuk perhatian dan cinta di luar, ketika orang tua dan atau guru lebih sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri?” kata Isa Anshori – professional trainer MEP dalam acara ‘Gebyar PAUD: dalam rangka Pembinaan Kelembagaan dan Manajemen Paud dan Pengukuhan Bunda Paud’, di Kabupaten Bojonegoro, Kamis (13/10/2022).

Mantan announcer Radio Suara Surabaya itu juga mengingatkan, fenomena kasus-kasus kejahatan seksual ternyata tidak selamanya diawali dan disertai dengan kekerasan.

Ingat kasus kejahatan seksual yang dilakukan Dedi Santoso (Emon), pedagang cilok keliling yang melakukan tindak asusila terhadap puluhan bahkan ratusan anak, pada 2014 di Banyumas Jawa Tengah?

“Belum lagi kasus-kasus serupa bermunculan di banyak tempat dan juga di lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan keagamaan,” terang Isa Anshori.

Isa melanjutkan, ketika pelaku kejahatan tertangkap dan dibui untuk sebuah keadilan, justru sebagian korbannya menangis menyatakan kesedihan mereka atas pemenjaaran ‘kakak: mereka.

“Kok bisa ya? Dalam hal ini, guru atau orang tua kalah set dengan pelaku keburukan. Kenapa? Karena keburukan masuknya lewat/mendompleng bahasa cinta kasih yang tidak didapat anak di rumah dan sekolah,” jelas Isa,

Pada kesempatan acara tersebut, Isa Anshori menyampaikan lima bahasa cinta yang ditulis D. Gary Chapman dalam bukunya The Five Love Languages, menjelaskan sebagai berikut:

1. Bahasa Cinta Verbal

Pengguna Bahasa Cinta ini merasa dicintai dan mencintai dengan cara mengungkapkan cinta dan kasih sayang langsung melalui ucapan atau komunikasi. Sebagian besar perempuan lebih cenderung prioritas bahasa cintanya adalah bahasa verbal.

Pelaku kejahatan seksual melakukannya, hampir selalu mereka memuji anak-anak sebagai calon korbannya. Tak pernah mencela, mampu melihat kekuatan anak dan kemudian mengungkapkannya, serta tak pernah mengungkit kelemahan anak

2. Bahasa Cinta Sentuhan

Menurut penelitian, dalam sehari setidaknya kita membutuhkan 8 – 12 kali sentuhan dari orang tua atau pasangan yang halal. Sentuhan ringan dan lembut, misalnya diusap kepalanya, dipeluk dan dicium di kening akan sangat berharga bagi seseorang yang cenderung ke bahasa cinta sentuhan.

Semakin kecil bocah, maka semakin besar kebutuhannya akan cinta dengan kedekatan fisik. Lagi-lagi pelaku kejahatan melakukan hal tersebut.

3. Bahasa Cinta Waktu Yang Berkualitas

Waktu berkualitas dipahami sebagai right here right now. Tubuh, jiwa, pikiran, fokus pada saat bersama. Tidak tersela oleh apapun. Kualitas tanpa kuantitas pastilah tidak mungkin. Syarat adanya kualitas adalah kuantitas.

Anak perempuan akan merasa dicintai jika orang tua ada waktu right here right now-nya dengan mengajak mengobrol. Mengobrol apa saja dan mendengarkan setiap cerita bahkan keluhan.

Bagi anak laki-laki, waktu berkualitas ketika orangtua mempunyai waktu untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Misal mencuci kendaraan dan lain-lain. Anak laki-laki merasa sudah cukup cintanya dari orangtua di rumah. Jadi tak perlu lagi mencari-cari cinta di luar rumah.

Pada kasus Emon, dia selalu punya waktu untuk membantu mengerjakan PR anak-anak calon korbannya.

4. Bahasa Cinta Hadiah

Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Saling memberikan hadiah-lah, maka akan timbul sayang di antara kamu semua.”

Hadiah yang dimaksud beda dengan reward/upah/imbalan. Hadiah adalah, semata-mata karena cinta yang tulus tanpa pernah berharap balasan. Misal, sepulang arisan sang ibu membawa sepoting roti yang tadi disuguhkan. Itu saja sudah hadiah yang lebih dari segalanya untuk anak-anak. Adapun reward/upah/imbalan itu semacam pemberian yang berharap sesuatu.

Lagi-lagi pelaku kejahatan seksual melakukanya dengan memberi hadiah-hadiah keci yang gak mbebaji versi orang dewasa nanum ternyata hadiah tersebut sangat berharga oleh anak-anak, karena itulah cinta versi anak-anak.

5. Bahasa Cinta Pelayanan

Mengungkapkan cinta dalam bentuk pelayanan. Ini lebih banyak dimiliki laki-laki sebagai prioritas bahasa cintanya. Sebagai ilustrasi, para bapak biasanya lebih nyaman dan lebih mengutamakan membuktikan cintanya dengan pembuktian pelayanan. Kerja keras banting tulang, berupaya setia, tanpa sepatah kata pun bilang lelah, capek dan sebagainya.

Menurut Isa Anshori, jika Bunda Paud juga orang tua mengintensifkan penggunaan lima bahasa cinta tersebut, Insya Allah anak-anak akan betah bersama orang tua dan gurunya.

Mereka tak akan mencari bahasa cinta di jalanan, seperti gambaran syair lagu Bongkar karya Sawung Jabo dan Iwan Fals. (ian)

 

 

Facebook Comments

Comments are closed.