Mitigasi Banjir, Ada Penakar Hujan Otomatis

mepnews.id – Inovasi teknologi bisa memberi solusi bagi berbagai permasalahan. Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan alat penakar hujan otomatis. Alat ini mengakomodasi warga memitigasi banjir yang sering terjadi di lingkungan sekitar.

Muhammad Hafiizh Imaaduddiin MT, Ketua Pelaksana KKN, menyampaikan ide inovasi ini timbul dari rendahnya elevasi rumah warga Desa Tambaksumur, Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, limbah cair bertumpuknya akibat bertumbuhnya perumahan di sekitar sehingga menyebabkan sedimentasi dan kenaikan muka air pada saluran. Permasalahan tersebut memerlukan pembersihan dan pemantauan rutin saluran drainase warga.

Pemasangan alat dan sensor AWLR oleh tim KKN ITS di salah satu saluran warga.

Dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil (DTIS) ini menjelaskan, untuk memantau keadaan saat hujan tim KKN ITS menciptakan Automatic Rainfall Recorder (ARR) dan Automatic Water Level Recording (AWLR). “Dengan alat ini warga dapat mandiri dan sigap dalam melawan banjir,” kata Hafiizh memastikan.

Penempatan kedua alat itu perlu perhitungan. Oleh karena itu, tim pemetaan mahasiswa KKN melakukan langkah survei dan pengukuran topografi. Hal ini untuk menentukan titik efektif dalam menempatkan kedua alat tersebut.

Tampilan data dari aplikasi yang sudah terintegrasikan dengan ALR

Menurut Hafiizh, ARR ditempatkan pada salah satu atap warga yang kemudian menampung air dan melaporkan berbagai data saat hujan melalui aplikasi yang sudah terpasang di smartphone warga. Saat penampung air ARR penuh, maka akan menampilkan data tinggi dan durasi hujan serta timbul genangan air setinggi berapa.

AWLR ditempatkan pada salah satu saluran drainase perumahan warga. AWLR berfungsi sebagai pemantau muka air saluran warga dengan sistem Internet of Things (IoT). Terdapat aplikasi smartphone yang dapat digunakan warga secara realtime memantau keadaan saluran saat hujan. “Dengan adanya aplikasi internet, warga tidak perlu datang ke lokasi untuk melihat keadaan saluran saat hujan,” tutur Hafiizh.

Tim KKN yang dipimpinnya terdiri dari 10 dosen dan 32 mahasiswa dari Fakultas Vokasi; Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) dan Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD). KKN ini kegiatan kolaborasi lintas bidang ilmu. Hafiizh dan mahasiswa DTIS paham curah hujan dan topografi dalam lingkup Teknik Sipil. Pemahaman mereka didukung ilmu dari Teknik Elektro Otomasi dan Teknik Instrumentasi ITS dalam merancang ARR dan AWLR. Perpaduan ilmu ini diharapkan dapat maksimal membantu warga Desa Tambaksumur.

Dengan adanya kedua alat tersebut diharapkan warga mampu melakukan upaya mitigasi saat hujan turun. Dengan adanya aplikasi yang terintegrasikan dengan ARR dan AWLR, warga lebih mudah mengupayakan mitigasi banjir.

“Harapannya, dalam jangka panjang terbentuk kesigapan warga dalam melawan banjir,” kata Hafiizh optimistis. (Gandhi Kesuma)

Facebook Comments

Comments are closed.