Aerator Fotovoltaic untuk Tambak Udang

mepnews.id – Penggunaan aerator tradisional oleh para petani tambak udang butuh sumber listrik cukup besar sehingga bisa menurunkan efektivitas produksi. Maka, tim Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat (KKN PM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan aerator berbasis fotovoltaic.

I Putu Eka Widya Pratama SSi MSc RWTH, Ketua Tim KKN PM,  menyampaikan aerator penting untuk pasokan oksigen dalam budidaya tambak udang. Maka, timnya menerapkan inovasi tersebut di Desa Gunung Anyar Tambak, Surabaya. Desa yang membudidayakan tambak udang ini diharapkan menjadi desa digital dengan mengembangkan energi terbarukan.

Dosen Departemen Teknik Instrumentasi ini mengungkapkan, anggota KKN yang dipimpinnya terdiri dari 14 mahasiswa dari Departemen Teknik Instrumentasi, tujuh mahasiswa Departemen Teknik Elektro, dan dua mahasiswa Departemen Statistika Bisnis. KKN sudah mulai dilaksanakan Juni lalu.

“Di sini, para mahasiswa dapat berkontribusi dengan mengembangkan energi terbarukan untuk Desa Gunung Anyar Tambak,” ujar Eka.

Tim ini membuat aerator berbasis fotovoltaic. Alat penghasil gelembung udara ini bertenagakan cahaya matahari. Gelembung udara ini berfungsi menghasilkan tambahan oksigen pada akuarium, yaitu tambak. Aerator fotovoltaic ini dapat meningkatkan jumlah dan mutu oksigen yang dibutuhkan udang di tambak. Dengan begitu, udang tumbuh lebih sehat dan cepat.

Selain menggunakan energi ramah lingkungan, aerator fotovoltaic menggunakan sistem yang bekerja otomatis. Ketika terkena sinar matahari, panel surya melepaskan listrik yang dikendalikan pengontrol untuk menstabilkan tegangan keluaran. Pengontrol menempatkan energi panel surya ke dalam baterai ketika mesin tidak bekerja, yang sering disebut pengisian baterai.

Saat mesin bekerja, daya dari motor diambil dari baterai dan melewati pengontrol. Saat tegangan pengisian di baterai telah mencapai keadaan penuh, maka pengontrol menghentikan arus listrik yang masuk ke dalam baterai. Penghentian ini untuk mencegah pengisian berlebihan sehingga ketahanan baterai akan jauh lebih lama. “Dengan begitu, baterai aerator ini akan bertahan 10 – 15 tahun,” ungkap Eka.

Komponen yang digunakan pada aerator ini terdiri dari panel surya 200 Wp 24VDC, rangka aerator sebagai tempat pemasangan panel surya, kincir delapan daun untuk pandayung air dan mengembalikan kadar oksigen, motor DC PG45 RPM 500 Torsi 25 kilogram sebagai penggerak kincir, pelampung sebagai pengangkat komponen, serta box panel sebagai pelindung alat yang menggunakan jaringan listrik.

Untuk mengaktifkan alat ini hanya perlu tombol power pada box panel yang berfungsi mengaktifkan dan menonaktifkan sistem. Saat diaktifkan, motor memutar kincir secara otomatis untuk menghasilkan gelembung udara. Aerator ini sendiri akan bekerja sesuai jam dan menit tertentu. “Alat otomatis berhenti beroperasi jam 11.00 sampai 14.00,” sebutnya.

Eka berharap dapat menerapkan Internet of Things (IoT) pada aerator tersebut sehingga petani dapat mengendalikan dan memantau dari rumah menggunakan smartphone yang sudah terintegrasikan. Untuk saat ini, Eka berharap aerator yang ada dapat meningkatkan efektivitas hasil produksi petani Desa Gunung Anyar Tambak. (Gandhi Kesuma)

Tim KKN PM ITS di Desa Gunung Anyar Tambak.

Facebook Comments

Comments are closed.