Jogja Gelut Day; Melawan Klitih

mepnews.id – Saat kawasan sisi selatan Jakarta dihebohkan dengan Citayam Fashion Week, diam-diam ada Jogja Gelut Day di Yogyakarta. Jika Citayam memamerkan glamor jalanan, Gelut jelas mempertontonkan adu kekerasan.

Jogja Gelut Day adalah turnamen yang diinisiasi vokalis band terkemuka serta komunitas Mix Martial Art Yogyakarta. Konon, fight club itu muncul dari reaksi atas keresahan masyarakat terhadap klitih yang meresahkan sekaligus menyalurkan hasrat klitih ke dalam turnamen.

Klitih, yang kadang ditafsrkan kliling golek getih, merupakan fenomena kejahatan jalanan di Yogyakarta dan sekitarnya. Perilaku agresif ini dilakukan dengan sengaja untuk melukai seseorang. Umumnya, pelaku masih berusia remaja.

Padahal, menurut sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito, makna asli istilah klitih adalah kegiatan keluar rumah di malam hari untuk menghilangkan kepenatan.

”Dulu, kata klitah-klitih tidak ada unsur negatif, tapi sekarang dipakai untuk menunjuk aksi kekerasan dan kriminalitas,” kata Pranowo, pakar bahasa Jawa sekaligus Guru Besar Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tuti Budirahayu

Merespons Jogja Gelut Day untuk melawan klitih, Tuti Budirahayu dosen Sosiologi Universitas Airlangga, menjelaskan hal itu diinisiasi figur atau tokoh atau kelompok masyarakat yang peduli terhadap kebaikan dan ketertiban masyarakat.

“Ide kreatif dan inisiatif Jogja Gelut Day dapat dikatakan sebagai salah satu saluran melakukan kontrol sosial terhadap perilaku yang cenderung menyimpang. Remaja yang cenderung mudah tersulut lalu tawuran, energinya disalurkan di panggung,” ujarnya.

Tuti menilai, Jogja Gelut Day memungkinkan untuk mengurangi tindak kekerasan remaja klitih. Kemungkinan itu bila terdapat inisiator dan penggerak fight club yang merangkul remaja klitih untuk ikut turnamen tersebut. Tarung di panggung itu memberi apresiasi serta ruang bagi remaja dalam hal positif.

“Dalam teori kontrol sosial, hal tersebut merupakan bagian dari upaya mengajak mereka (pelaku klitih) untuk terlibat pada kegiatan positif, dan mendidik untuk memiliki komitmen terhadap apa yang mereka tekuni,” katanya.

Jika remaja hanya diberi hukuman tanpa diberi ruang berekspresi dengan persoalan yang dihadapi, fenomena klitih akan terus ada.

“Remaja adalah subkultur yang ada di masyarakat. Terkadang, jika mereka mengembangkan nilai-nilai dan norma-norma menyimpang, mereka akan menjadi subkultur menyimpang,” imbuhnya.

“Hadirnya Jogja Gelut Day menunjukkan keberfungsian civil society dari kelompok sosial yang memiliki kepedulian tertib masyarakat,” ujarnya.

Jika semua masalah sosial dibebankan pada aparat keamanan, itu akan menjadi beban berat bagi mereka. Maka, tokoh atau kelompok masyarakat perlu turut peduli menangani masalah klitih. (*)

 

Facebook Comments

Comments are closed.