Kampanye Politik dan Bias Negativitas

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.idOuch, banyak sekali teman yang curhat gara-gara laman media sosial mereka mulai berisi kampanye buruk menjelek-jelekkan kandidat lawan untuk pemilu 2024. Jujur saja, saya juga merasa cukup jengah dengan postingan orang-orang yang mengggali-gali atau mengada-adakan sisi buruk lawan politik.

Pembaca yang budiman, saya yakin Anda juga terpapar postingan orang yang menjelek-jelekkan kandidat presiden tertentu. Seolah-olah, lawan politik itu tidak ada baiknya sama sekali. Kalau toh ada yang baik, selalu dipelintir jadi jelek. Pokoknya, ada saja cara untuk mencemooh, menghina, menjelekkan karakter hingga merusak reputasi.

Mengapa orang menggunakan cara begitu untuk kampanye politik?

Dalam psikologi, ada yang disebut ‘bias negativitas’.

Fakta menunjukkan, otak manusia lebih mudah ‘ditubruk’ oleh desas-desus negatif daripada analisis objektif tentang sesuatu. Maka, dengan menjejalkan hal-hal negatif di media sosial, juru sebar (buzzer) hoaks politik itu sejatinya sedang memanfaatkan kecenderungan otak kita untuk ‘menerima’ hal negatif.

Bias negativitas adalah salah satu bentuk bias kognitif dalam otak. Ini adalah asimetri yang terjadi ketika kita memproses informasi negatif dan positif dalam upaya memahami lingkungan. Secara khusus, kita ternyata lebih sering memperhatikan dan menggunakan informasi negatif daripada informasi positif. Kita cenderung lebih fokus pada berita atau peristiwa negatif daripada yang positif, lebih berat menimbang informasi negatif daripada informasi positif, lebih mudah dipengaruhi emosi negatif daripada positif. Karena bias itu, kita cenderung lebih mudah menginternalisasi pengalaman negatif, sehingga kita jadi lebih khawatir dan memikirkan hal-hal yang sebenarnya kecil dan tidak signifikan.

Apa yang menyebabkan adanya bias negativitas?

Ini terkait kehidupan manusia era awal. Ini mekanisme yang dikembangkan manusia sepanjang evolusi. Ada kecenderungan bawaan turun-temurun dari nenek moyang kita untuk menanggapi bahaya dari lingkungan. Ribuan tahun lalu, kelangsungan hidup manusia bergantung pada kemampuan untuk mengidentifikasi situasi dan ancaman berbahaya, termasuk ancaman dari predator. Untuk membantu bertahan hidup, otak manusia belajar mencari informasi yang menandakan ada bahaya. Informasi negatif.

Meski sekarang lingkungan telah berubah, dan kita tidak lagi harus lari menyelamatkan diri dari dinosaurus atau singa purba, otak kita masih terikat pada naluri untuk mempertahankan diri. Karena alasan ini, otak kita lebih mudah disenggol oleh informasi negatif. Dampaknya, sesuatu yang positif umumnya memiliki dampak lebih kecil pada perilaku dan pikiran kita, daripada sesuatu yang sama-sama emosional tetapi negatif.

Tapi, ini bukan berarti manusia sepenuhnya mengabaikan atau melupakan pengalaman positif. Tinggal bagaimana kita mengendalikan cara berfikir dan menyaring informasi. Nah, agar tidak termakan hoaks politik atau postingan negatif lainnya, ada beberapa strategi yang Anda bisa praktikkan;

  • Sadari adanya bias dalam otak. Seperti jenis bias lainnya, langkah pertama untuk mengelola kondisi ini adalah menyadari adanya bias negatif. Sadari dan terima kenyataan bahwa memang ada informasi negatif dan kemudian Anda memiliki pikiran negatif atau melakukan self-talk negatif.
  • Latih kesadaran. Mindfulness dapat mengurangi bias negatif dan meningkatkan penilaian positif. Banyak berdoa, mendekatkan diri pada Tuhan, merenung untuk mencari kebenaran. Praktik semacam ini dapat membantu melabuhkan perhatian pada yang baik dan membuang pikiran negatif.
  • Alihkan perhatian. Agar tidak terkungkung bias negatif, Anda dapat mengalihkan perhatian ke hal-hal positif di sekitar Anda. Cari dengan secara sengaja pengalaman, emosi, atau informasi yang positif di media sosial atau dalam kehidupan sehari-hari.
  • Kembangkan pemikiran positif. Ketika pikiran sudah tenang, mulailah mencari sisi kebenaran yang lebih positif. Baca media alternatif, cari pembanding, ngobrol dengan orang yang lebih paham, dan sejenisnya. Ini membuat pengetahuan dan pemahaman kita lebih berbobot daripada penyebar hoaks.

Facebook Comments

Comments are closed.