Membimbing Balita Memahami Ekspresi Wajah dalam Berkomunikasi

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Untuk komunikasi orang dewasa, ekpresi wajah sangat menentukan isi pesan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, senyuman ramah seseorang bisa membuat orang lain memahami makna keakraban, pembolehan, penerimaan, dan sejenisnya. Mata melotot membuat orang lain menafsirkan kemarahan, kegusaran, peringatan ancaman, dan sejenisnya.

Pentingnya ekspresi wajah dalam komunikasi manusia bisa digambarkan lewat teori Albert Meharbian. Guru besar psikologi University of California, Los Angeles, itu menyatakan;
• 7% makna berasal dari kata-kata yang terucap,
• 38% makna berasal dari paralinguistik (cara mengucapkan kata-kata atau intonasi suara),
• 55% berasal dari ekspresi wajah atau bahasa tubuh.

Sekarang, bagaimana dengan anak yang masih kecil? Apakah anak balita bisa mengenali ekspresi wajah saat berkomunikasi dengan orang lain?

Ya, anak bisa mengenali dan memahami ekspresi wajah namun belum sepenuhnya berkembang seperti orang dewasa. Sekitar usia 6 bulan, anak sudah mulai merespons senyuman dan mengenali wajah bahagia. Sekitar 1-2 tahun, mereka mulai mengenali ekspresi wajah kesedihan, kemarahan, atau keterkejutan.

Pembaca yang budiman, penting bagi kita untuk membimbing anak balita mengenali ekspresi wajah orang lain. Kemampuan ini memiliki dampak positif pada perkembangan sosial dan emosional anak ketika mereka kelak bertumbuh-kembang.

Mengenali ekspresi wajah orang lain dapat membantu anak memahami emosi orang lain, memahami bagaimana orang lain merasa, sehingga ia bisa berkomunikasi secara efektif. Misalnya, saat melihat ekspresi wajah sedih pada seseorang, si anak dapat memahaminya lalu memberikankan dukungan atau penghiburan pada orang itu.

Kemampuan mengenali ekspresi wajah orang lain juga berhubungan dengan pengembangan empati si anak. Ia dapat merasakan emosi orang lain secara empatik. Ini membantu si anak memahami perspektif orang lain, merespons perasaan, dengan empati. Kelak, kemampuan ini membantu anak membangun hubungan sosial lebih baik.

Ini juga berhubungan dengan pengembangan kecerdasan emosional. Jika sudah terbiasa mengenali ekspresi wajah orang lain, anak akan lebih mampu mengatur emosinya sendiri dan memiliki keterampilan sosial yang lebih baik.

Terus, bagaimana mengajari anak balita untuk lebih banyak mengenali dan memahami ekspresi wajah orang lain?

Meski sudah mengenali ekspresi dasar saat bayi, balita umumnya belum memiliki pemahaman kompleks tentang ekspresi wajah. Biasanya anak belajar ekspresi melalui pengamatan dan interaksi dengan orang tua, keluarga, dan orang-orang di dekatnya. Kebanyakan belajarnya melalui pengalaman langsung, misalnya melihat reaksi orang tua saat senang atau marah.

Maka, untuk mengajari balita memahami ekspresi, orang dewasa perlu menjadi contoh dengan secara aktif mengekspresikan berbagai perasaan saat berinteraksi. Misalnya, orang dewasa menunjukkan senyuman saat senang, mengerutkan dahi saat bingung, atau pura-pura terkejut saat ada sesuatu yang terjadi mendadak. Contoh ini membantu anak melihat dan belajar ekspresi wajah.

Cara lain mengajari balita soal ekspresi adalah menggunakan cermin. Ajak si balita mengungkapkan berbagai ekspresi wajah dan melihat sendiri di cermin bagaimana wajahnya berubah. Orang tua dapat mengajukan pertanyaan, misalnya, “Bagaimana wajahmu saat sedih?” atau “Tunjukkan wajah yang bahagia.”

Bisa juga dengan buku bergambar. Cari buku bergambar tokoh-tokoh yang mengekspresikan berbagai emosi. Ajak anak mengamati gambar dan mengidentifikasi ekspresi wajah yang ada di dalamnya. Jelaskan apa arti dari setiap ekspresi dan emosi yang sesuai.

Role play juga boleh. Saat bermain peran, ajak anak berpura-pura menjadi orang lain dengan berbagai ekspresi wajah. Misalnya, si anak berpura-pura menjadi dokter yang senang saat menerima pasien atau jadi pembeli yang marah karena dikerjain penjual. Ini membantu anak berlatih mengenali dan meniru ekspresi wajah yang berbeda.

Harap diingat, saat mengajari anak mengenali dan memahami ekspresi wajah, sering-sering beri pujian dan dorongan positif. Bersabarlah, karena anak butuh waktu untuk memahami dan mengasimilasi konsep ini secara bertahap. Dengan konsistensi dan interaksi positif, anak akan bisa mengembangkan pemahaman yang lebih baik.

Facebook Comments

Comments are closed.