Hedonic Treadmill, Suka Pamer Kemewahan, dan Perilaku Korup

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Tiba-tiba, suami saya bercerita tentang istilah ‘Alunisasi’. Saya heran, itu istilah apa? Datang dari mana? Siapa pencetusnya? Saya belum pernah mendengarnya di berbagai rujukan ilmiah.

Lalu, Pak Suami menyebut istilah itu dia dapat dari ceramah Pak M. Nuh yang dulu pernah jadi Menteri Pendidikan. Menurut Pak Nuh, istilah ‘Alunisasi’ itu diambil dari nama pejabat R. Alun T. yang jadi tersangka kasus money laundering. “Hanya karena seorang anak main tendang-tendangan, Tuhan membuka satu-persatu aib mereka.”

Memang bukan hanya Alun yang ketar-ketir. Sejumlah pejabat lain di Yogya, di Jakarta, di Lampung, dan beberapa tempat lain, juga dibidik KPK. Itu karena mereka, anak mereka, atau istri mereka pamer kemewahan di media sosial. Padahal, secara matematis, kemewahan itu tidak sebading dengan gaji resmi mereka.

………..

Pembaca yang budiman, saya tidak terlalu paham soal kasus hukum yang dihadapi mereka. Saya lebih tertarik membahas dorongan psikologis yang membuat perilaku suka pamer kemewahan dan perilaku koruptif. Saya mencoba membahasnya dengan model hedonic treadmill.

Dalam psikologi ekonomi, hedonic treadmill biasa digunakan untuk menjelaskan bahwa tingkat kebahagiaan seseorang, setelah naik atau turun sebagai respons terhadap peristiwa kehidupan yang positif atau negatif, pada akhirnya cenderung bergerak kembali ke titik sebelum terjadinya pengalaman ini. Peristiwa yang baik dan yang buruk memengaruhi level kebahagiaan, tapi hanya untuk sementara. Lalu perasaan orang cepat beradaptasi kembali ke netralitas hedonis.

Untuk kasus-kasus di atas, model hedonic treadmill bisa menggambarkan kecenderungan perilaku manusia untuk terus meningkatkan level kebahagiaan atau kenikmatan yang mereka rasakan, tetapi pada akhirnya kembali ke level kebahagiaan awal yang mereka rasakan sebelum meningkatkan level tersebut. Mereka cenderung meningkatkan konsumsi barang atau jasa dengan harapan hal tersebut bisa meningkatkan tingkat kebahagiaan, namun pada akhirnya mereka kembali merasa tidak cukup bahagia lalu ingin membeli barang dan jasa yang lebih mahal atau lebih eksklusif. Mereka cenderung memamerkan barang atau jasa untuk menunjukkan kemewahan, namun pada titik tertentu mereka merasa itu bukan mewah lagi. Maka, mereka perlu memamerkan yang lebih mewah lagi untuk mendapatkan rasa bahagia, yang nantinya akan tidak cukup bahagia lagi. Begitu berlangsung terus-menerus seperti orang yang berlari di atas treadmill. Sekuat apapun mereka berlari, posisi mereka akan tetap berada di atas treadmill.

Dalam hal perilaku koruptif, seseorang mulai terjebak dalam hedonic treadmill ketika ia mencapai kekayaan dan kekuasaan yang diinginkan, lalu ia atau keluarganya merasa harus terus meningkatkan kekayaan dan mengejar kepuasan diri yang semakin besar dengan cara-cara yang bisa merugikan orang lain. Namun, setelah mencapai tujuan itu, mereka merasa tidak terlalu bahagia atau tidak cukup puas lagi. Karena itu, ia terus mencari cara untuk memperoleh kepuasan lebih besar sehingga terjebak dalam hedonic treadmill yang tidak berkesudahan.

Dalam hal pamer kemewahan di media sosial, seseorang terjebak dalam hedonic treadmill ketika ia merasa perlu terus menambah tingkat kemewahan dan keberhasilan untuk ditampilkan di media sosial. Meski awalnya ia merasa bahagia dan merasa diakui oleh orang lain, kemudian rasa puas atau bahagia ini tidak bertahan lama. Lalu, ia terus mencari cara meningkatkan tingkat kemewahan yang bisa tampilkan di media sosial. Hal ini bisa menyebabkan ia terus memamerkan kekayaan dan kemewahan meski pada akhirnya hal tersebut tidak lagi memberikan cukup kepuasan.

Penting untuk dipahami bahwa kebahagiaan sejati itu tidak dapat dicapai dengan cara instan atau dengan cara terus-menerus mencari kebahagiaan baru. Kita harus dapat memutus rantai hedonic treadmill untuk mencapai kebahagiaan sejati. Caranya, antara lain;

  • Banyak bersyukur atas apa pun yang dititipkan Tuhan

Menghargai atas apa yang sudah di tangan dan bersyukur atas segala hal yang terjadi dalam hidup dapat membantu kita merasa lebih bahagia. Dengan mempraktikkan banyak-banyak rasa syukur, kita akan lebih mudah merasa puas dan tidak perlu terus-menerus mencari kebahagiaan yang lebih tinggi.

  • Jangan terlalu fokus pada materialisme

Mengikuti tren dan terus-menerus mencari barang-barang baru memang dapat memberikan kebahagiaan; tapi hanya sementara. Bahkan, kepuasan materiil itu tidak membantu mencapai kebahagiaan sejati. Maka, cobalah tidak terlalu fokus pada materialisme. Justru, cari kebahagiaan dalam hal-hal yang lebih bermakna spiritual. Misalnya, bisa merasa bahagia saat melihat orang lain bahagia. Puas saat bisa membantu orang lain mengatasi masalah.

  • Cari keseimbangan dalam hidup

Mencari keseimbangan dalam hidup antara pekerjaan, waktu luang, dan istirahat sangat penting untuk mencapai kebahagiaan sejati. Mencari keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kepekaan sosial juga bisa untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Mencari keseimbangan material dan spiritual, justru menjadi kunci mendapatkan kebahagiaan sejati. Mencari keseimbangan antara kekuasaan dan kewajiban juga menjadi kunci ketenangan hidup.

Facebook Comments

Comments are closed.