Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pembaca yang budiman, komunikasi itu skill yang sangat penring bagi kehidupan kita. Sebagian sangat besar kehidupan kita dipengaruhi oleh cara kita berkomunikasi.
Masalahnya, dalam komunikasi itu selalu ada bias. Saat terjadi bias, biasanya pesan-pesan tidak bisa disampaikan secara sempurna. Nah, saya akan berbagi wawasan tentang memanfaatkan bias negatif otak untuk Berkomunikasi lebih efektif.
Otak kita umumnya terprogram untuk fokus pada hal negatif. Otak berevolusi untuk lebih memprioritaskan bahaya daripada kesenangan demi menjaga spesies manusia tetap hidup.
Sudah menjadi tugas otak untuk membuat manusia tetap hidup di dunia yang tidak pasti dan kejam, yang dipenuhi harimau bertaring tajam dan ular. Otak melakukan yang terbaik untuk memindai potensi ancaman.
Ironisnya, di zaman modern ini, ular dan harimau bukan lagi hal paling berbahaya yang kita hadapi. Sementara, otak masih terbiasa memidai bahaya di tempat atau era yang salah. Padahal, makanan pemicu kolesterol atau glikogen lebih bahaya di kehidupan modern daripada ular.
Cara kerja otak cenderung negatif karena berfokus pada keengganan untuk kalah. Kita cenderung ogah kehilangan apa yang sudah kita miliki daripada meraih apa yang mungkin kita dapatkan. Jika saya memberi Anda uang Rp 100.000, kemudian saya menawarkan Anda kesempatan 50-50 untuk mendapatkan Rp 100.000 lagi (jadi total Rp 200.000) atau yang Rp 100.000 saya minta kembali, sangat besar kemungkinan Anda memilih tetap berpegang pada yang Rp 100.000 awal. Artinya, Anda lebih suka tidak kehilangan uang itu daripada menang dua kali lipat meski kemungkinannya sama.
Secara umum, otak lebih gampang memproses episode hal-hal yang menyakitkan daripada memproses hal-hal yang menyenangkan. Rasa sakit berperingkat lebih tinggi dalam sistem ingatan kita daripada kesenangan.
Meski negatif, bias otak masih tetap relevan. Maka, cara otak biasanya berpikir tentang komunikasi dapat diarahkan kembali dengan cara bermanfaat untuk komunikasi kita.
Sekarang, manusia adalah spesies yang sangat suka mengoceh termasuk di jagad maya. Lalu, apa implikasi kondisi itu bagi strategi komunikasi di dunia modern kita?
Jika punya ide yang Anda ingin jual, maka sebarkan atau khotbahkan sebagai sesuatu yang sudah dimiliki para pendengar sehingga keengganan mereka untuk merugi muncul. Sampaikan ide yang Anda ingin audiens tolak itu sebagai bisnis yang berisiko. Gunakan contoh dan cerita yang menyakitkan, menakutkan, dan negatif untuk menghidupkan ide terpenting Anda dan membuatnya hidup bagi audiens Anda. Semakin negatif, semakin menancap di otak audiens.
Mungkin menurut Anda tidak pantas untuk fokus pada hal negatif. Betul, dan saya sependapat dengan itu. Tapi, otak kita memang sudah sudah demikian. Dan kita bisa memanfaatkan cara otak bekerja untuk efektivitas penyampaian pesan Anda.
Nah, moral dari apa yang ingin saya sampaikan adalah ada pada isi pesannya. Tetap saja sampaikan materi pesan yang benar, yang baik. Lalu, manfaatkan bias negatif yang biasa dilakukan otak untuk mengoptimalkan penyampaian pesan itu.
Materi pesan untuk hidup bersih, misalnya. Jelas kebiasaan hidup bersih itu baik dan benar. Apa lagi lingkungan sekitar kita sedang tidak bersih-bersih amat.
Maka, untuk mengoptimalkan komunikasi tentang kebersihan, berkali-kali sampaikan tema kesehatan audiens yang biasa terancam. Jika terancam kehilangan kesehatan, otak audiens akan bekerja lebih keras untuk menerima pesan-pesan kebersihan dari Anda.
Yuk, kita coba memanfaatkan yang negatif menjadi sesuatu yang positif.


