Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saat arisan di kompleks perumahan, beberapa mamah bercerita tentang jalan kaki. Obrolan sempat menyenggol tema perbedaan kebiasaan jalan kaki mereka dan anak-anak mereka. Perbedaannya cukup signifikan karena pergeseran cepat gaya hidup dan zaman.
“Dulu, saya ke mana-mana jalan kaki. Ke sekolah, saya juga jalan kaki meski jaraknya dua kilometer. Berkunjung ke rumah nenek, kami jalan kaki dulu, naik angkutan umum, lalu jalan kaki lagi ke desa,” kata mamah paling senior.
Mamah lainnya menimpali, “Betul, itu. Saya juga begitu. Kalau zaman sekarang, anak-anak di desa-desa justru naik sepeda motor ke sekolah. Bahkan, anak SD kelas 5 sudah nyetir sendiri.”
“Kalau di kota, anak-anak ke mana-mana diantar kendaraan oleh orang tuanya. Anak-anak baru jalan saat pelajaran olahraga di sekolah,” kata mamah lainnya.
Ada juga mamah muda penghobi medsos yang punya perbandingan dengan anak di luar negeri. “Saya lihat, anak-anak sekolah di Jepang berangkat sendiri dari rumah ke sekolah hingga balik lagi ke rumah. Masih kecil-kecil tapi sudah berani jalan kaki sendirian bawa tas ransel besar.”
………..
Pembaca yang budiman, tentu Anda juga bisa merasakan bagaimana perbedaan gaya hidup anak-anak 20-30 tahun lalu dengan anak-anak zaman sekarang. Di kota-kota besar, jarang sekali terlihat anak jalan kaki di jalan umum. Yang lebih sering tampak, anak-anak naik sepeda listrik untuk sekadar ke toko sebelah beli cemilan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan anak-anak kota zaman sekarang enggan jalan kaki.
Anak-anak lebih sering menggunakan gadget untuk bermain atau berinteraksi dengan teman-teman daripada bermain secara luring di luar rumah atau jalan kaki.
Anak-anak memiliki jadwal sangat sibuk dengan kegiatan sekolah, les, aktivitas ekstrakurikuler, atau lainnya, sehingga tidak punya cukup waktu luang untuk bermain di luar rumah.
Makin banyaknya kendaraan pribadi membuat anak-anak enggan jalan. Anak sudah mendapat sepeda, sepeda listrik, bahkan sepeda motor. Bahkan, ada orang tua bisa punya mobil yang disediakan untuk anaknya.
Di sisi lain, orang tua enggan membiarkan anak-anak jalan kaki karena khawatir keamanan, bahaya lalu lintas atau kejahatan jalanan. Jangan heran jika anak-anak sering diantar orang tua dengan kendaraan atau taksi online yang dirasa lebih aman.
Memang, sah-sah saja anak naik kendaraan pribadi atau orang tua ke mana-mana mengantar anak. Itu baik, itu aman, itu nyaman. Namun, pertimbangkan juga dampak menurunnya kebiasaan jalan kaki bagi anak hingga kelak saat umurnya bertambah.
Anak yang jarang berjalan kaki atau tidak aktif fisik cenderung memiliki kondisi tubuh yang buruk. Ada kecenderungan mengalami kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, hingga kolesterol tinggi. Yang paling jelas, otot tubuh dan tulangnya lebih lembek.
Kurangnya aktivitas fisik dapat mempengaruhi keseimbangan hormon dan neurotransmiter dalam otak. Maka, bisa muncul masalah kesehatan mental, masalah perkembangan motorik yang buruk, penurunan konsentrasi dan daya ingat, dan sejenisnya.
Karena kurangnya aktivitas fisik dan paparan sinar matahari, anak jadi gampang lelah seiring rendahnya tingkat optimalisasi energi. Karena biasa diantar naik mobil, jalan kaki satu kilometer saja dirasa sangat jauh. Membayangkan saja ogah. Menajalaninya, langsung lelah.
Padahal, Tuhan menciptakan kaki itu untuk disyukuri dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Kebiasaan jalan kaki itu sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan fisik dan mental serta mendukung perkembangan yang optimal. Maka, orang tua atau guru perlu kembali membiasakan anak-anak untuk berjalan kaki.
Berikan contoh yang baik pada anak. Tinggalkan sepeda listrik untuk pergi belanja, ke masjid, ke balai RW, atau ke tetangga. Sesekali ajak anak berbelanja sambil jalan kaki. Ajak anak menikmati lingkungan sekitar, saling menyapa dengan orang yang berpapasan, atau membuat video tentang kehidupan sekilas tentang tetangga.
Contoh sederhana pada anak bisa membuat lebih peka pada lingkungan karena menyaksikan sendiri, lebih sehat fisik karena banyak bergerak, dan lebih sehat mental karena syaraf dan otaknya lebih optimal.


