Latihan Kecerdasan Emosional untuk Leader

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya kira, sudah banyak orang tahu tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional. Yang belum banyak tahu adalah bagaimana melatih dan mempraktikannya dengan pas sesuai kondisi.

Istilah ‘emotional intelligence’ pertama kali dilontarkan John Mayer dan Peter Salovey pada 1990. Mereka menyebut itu sebagai kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri sendiri, serta mengenali dan memengaruhi emosi orang-orang di sekitar.

Istilah ini dipopulerkan Daniel Goleman pada peralihan milenium. Goleman menyoroti pentingnya kecerdasan emosional dalam kepemimpinan. Menurutnya, ada kesamaan di antara para pemimpin paling efektif, yakni semua memiliki kecerdasan emosional tingkat tinggi. Kecerdasan pikiran dan keterampilan teknis memang penting.Tapi, kecerdasan emosional adalah persyaratan awal untuk posisi eksekutif.

Mengapa begitu?

Leader alias pemimpin yang tinggi dalam kecerdasan emosional dapat meningkatkan keterlibatan, retensi, dan kinerja para anak buahnya. Juga bisa menunjukkan kemampuan mengelola emosi diri sendiri, memahami emosi orang lain, memahami efeknya pada tim, mampu menyelesaikan konflik secara efektif dan cepat, memiliki keterampilan komunikasi yang baik, tetap tenang pada saat keadaan stres, konflik dan tantangan.

Ketika Anda mulai masuk ke level manajemen, dan sudah dipercaya memimpin tim, sudahkah Anda punya kecerdasan emosional cukup tinggi? Jika merasa belum punya, dan belum tahu cara melatihnya, berikut ini tiga hal yang bisa mengasah kecerdaan emosional.

  • Jangan memaksakan diri untuk disukai.

Nyamanlah dulu dengan diri sendiri. Anak buah yang tidak merasa aman jika Anda tampak gelisah. Tapi, orang juga tidak suka pada pemimpin yang berusaha terlalu keras untuk disukai.

Maka, sadari dan akui saja kekuatan dan kelemahan Anda. Akui juga keterbatasan Anda. Kalau ada kegagalan, segera ambil pelajaran dan berbagai pada lainnya. Bicara saja tentang hal-hal yang Anda pelajari, pahami, dan dalam wewenang. Jangan bicara berlebihan di luar batas.

  • Sebaliknya, berusahalan menyenangkan orang lain.

Temukan sesuatu yang disukai semua orang di dalam tim Anda. Ketika Anda tidak menyukai orang lain, maka tidak akan ada yang suka bergaul dengan pemimpin seperti Anda.

Maka, coba buat daftar setiap kualitas positif dari setiap orang di dalam tim termasuk Anda sendiri. Optimalkan yang positif-positif itu agar tim senang menjalaninya.

  • Latih wajah untuk mengekspresikan hati Anda.

Wajahmu adalah pikiranmu. Maka, sering-sering tersenyum jika bertemu anak buah. Orang lain akan senang bekerja bersama pemimpin yang hatinya juga tersenyum. Angkat alis agar mata lebih lebar untuk menunjukkan perhatian positif.

Jika wajah Anda datar atau sukar berekspresi, maka gunakan kata-kata untuk mengungkapkan isi hati. Misalnya;

– “Saya sangat senang Anda bisa menuntaskannya.”

– “Terima kasih atas masukannya.”

– “Wah, Anda memang sangat ahli dalam urusan itu. Bagaimana caranya belajarnya?”

Sikap dan tindakan yang empatik ini akan mengasah kecerdasan emosional Anda sebagai leader. Semakin diasah, semakin cerdas. Tiga hal yang saya bagikan di atas hanya sebagian kecil dari cara mengasah kecerdasan emosional. Cara lainnya masih banyak.

Facebook Comments

Comments are closed.