mepnews.id – Tahun ini tahun pemanasan politik menjelang Pemilihan Presiden 2024. Setelah polarisasi Cebong vs Kampret pada Pilpres 2019, kali ini polarisasi masyarakat terbentuk akibat rivalitas Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Keduanya digadang-gadang menjadi bakal calon presiden 2024 dengan basis massa cukup kuat. Dampaknya, seluruh masyarakat bakal menjadi sasaran bagi arena pertarungan politik.

Ali Sahab SIP MSi
Menanggapi rivalitas itu, Ali Sahab SIP MSi pakar ilmu politik dari Universitas Airlangga mengingatkan agar masyarakat tidak perlu terbawa arus politik yang sedang panas-panasnya.
Dalam wawancara dengan UNAIR NEWS pada 5 Januari 2022, ia mengatakan nama-nama yang muncul saat ini belum tentu benar-benar menjadi calon di Pilpres 2024.
“Saya kira kita tidak perlu terbawa arus seperti itu,” ujarnya.
Ali berpendapat, siapa pun calon yang akan maju boleh melakukan sosialisasi untuk memperkenalkan ide dan gagasan kepada masyarakat. Sosialisasi tersebut sah-sah saja untuk menarik simpati.
Namun, Ali mengimbau masyarakat tidak sampai terpecah hanya karena Pilpres. Masyarakat akan merugi apabila perbedaan pilihan dan pandangan politik bisa menyebabkan perpecahan di antara mereka. “Saya kira kita rugi kalau sampai gara-gara Pilpres 2024, masyarakat beda pilihan lalu sampai terbelah,” kata Ali.
Ia mengingatkan, dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Prabowo, yang jadi kandidat 2019, juga akhirnya masuk kabinet Jokowi. “Jadi, tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang ada hanya kepentingan abadi,” tuturnya.
Ali mengingatkan untuk memperkuat pendidikan politik sebagai dasar untuk memahami peta politik Indonesia terutama menjelang Pilpres 2024.
“Agar masyarakat terhindar dari konflik yang tidak perlu, pendidikan politik menjadi penting. Masyarakat harus bisa melihat bahwa kompetisi politik jangan dijadikan konflik yang dapat menimbulkan perpecahan,” tukas Ali. (*)


