Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM
mepnews.id – Para ahli setuju, networking penting untuk kesuksesan hidup. Orang yang punya banyak jaringan teman seringkali sukses dalam berbagai bidang. Jejaring teman sangat membantu dalam mengembangkan dan meningkatkan keahlian, mengikuti tren bisnis, mengikuti bursa kerja, bertemu calon mentor, mitra, dan klien, hingga mendapatkan akses ke sumber-sumber yang diperlukan bagi pengembangan karir.
Para orang tua dan guru zaman sekarang umumnya sudah paham betul manfaat jejaring pertemanan bagi kesuksesan karir. Kalau tidak ada ‘teman orang dalam’, akses menuju sasaran bisa terhambat.
Tapi, saya juga sering dicurhati beberapa mama yang merasa anaknya tidak suka berteman atau tidak mudah mendapatkan teman. Mereka khawatir bagaimana nasib anak-anak ke depan jika tidak pintar menjalin pertemanan?
Para pembaca yang budiman, saya ingin membahas penyebab anak ‘tidak punya teman’ dulu. Kalau membahas lainnya, saya khawatir tulisannya bakal jadi sangat panjang.
Pertama-tama, biasanya saya bertanya balik pada orang tuanya. “Apa anak Anda benar-benar tak punya teman?” Kenapa saya tanya begitu? Terkadang, apa yang orang tua anggap sebagai ‘tidak punya teman’ itu bukanlah yang dialami atau dirasakan oleh anak.
Bisa saja si orang tua ekstrover dan si anak introver sehingga perasaan mereka berbeda soal teman. Bisa saja si orang tua bertanya-tanya; “Apa kau tidak bosan bertemu hanya dengan satu teman yang itu-itu saja?” Bisa saja si anak tidak bosan dan justru menemukan lebih banyak makna dengan satu teman daripada dengan 15 teman lainnya.
Kedua, jika masalah persepsi sudah dipahami, dan ternyata si anak memang benar-benar kesulitan berteman, maka baru saya akan coba jelaskan alasannya.
Sejumlah literatur mengungkap, anak kesulitan berteman karena dua hal: kesempatan terganggu dan keterampilan sosial terganggu.
Ada beberapa hal yang mungkin menganggu kesempatan anak untuk berteman.
Antara lain; orang tua yang terlalu protektif atau posesif biasanya melarang anaknya bergaul dengan jenis anak tertentu, waktu tertentu, hingga tempat tertentu. “Jangan main sama anak itu. Bisa-bisa kamu jadi anak nakal,” begitu larangan si orang tua yang terlalu protektif itu.
Jadwal yang terlalu ketat juga bisa mengganggu kesempatan anak untuk berteman. Misalnya, anak harus sekolah jam sekian sampai jam sekian, di rumah istirahat hanya sejenak karena sudah ditunggu guru les, sorenya masuk studio untuk latihan piano. Saking sibuknya karena overschedulled, anak sampai kesulitan membina pertemanan dari hati-ke-hati.
Gangguan pertemanan lainnya adalah kecanduan digital. Misalnya, ada anak usia 8 tahun yang menghabiskan waktunya hanya untuk bermain Minecraft. Ia punya teman di sekolah, tapi tidak pernah bermain bersama saat istirahat. Ketika menghabiskan waktunya online, ia memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berinteraksi di dunia nyata untuk menumbuhkan pertemanan.
Jika yang terganggu adalah keterampilan sosial, bisa jadi ini faktor bawaan. Ada beberapa anak punya kepribadian sulit berteman. Beberapa anak autis juga sulit menangkap isyarat sosial sehingga susah berteman. Mungkin juga karena ada bagian yang terlewatkan dari proses tumbuh-kembangnya.
Jadi, temukan dulu permasalahan mengapa anak sulit berteman. Jika permasalahannya diketahui, solusinya bakal lebih mudah dicari. Jika anak sudah merasakan nikmatnya berteman, maka InshaAllah ia akan lebih mudah membentuk network di kala remaja dan dewasa.


