mepnews.id – Politeknik Negeri Malang (Polinema), melalui tim mahasiswa Teknik Telekomunikasi dan Teknik Informatika, mengembangkan OrthoBreath. Alat skrining pernapasan ini dirancang untuk mendeteksi dini risiko maloklusi pada anak.
Dikabarkan situs resmi polinema.ac.id, inovasi ini dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) 2026. Tim mahasiswa memadukan sensor tekanan udara dengan pencitraan digital untuk menilai kebiasaan anak bernapas melalui mulut yang selama ini kerap luput dari perhatian orang tua.
Kebiasaan mouth breathing umumnya muncul ketika saluran hidung anak terganggu akibat rinitis alergi kronis, pembesaran adenoid, maupun pembesaran tonsil. Literatur ortodonti mendefinisikan kondisi tersebut sebagai keadaan ketika lebih dari 25 hingga 30 persen udara pernapasan melewati mulut.
Apabila berlangsung lama pada masa pertumbuhan, pola ini bisa menurunkan posisi lidah dan mengganggu keseimbangan tekanan pada lengkung rahang. Akibat jauhnya, terjadi maloklusi atau susunan gigi yang tidak teratur.
Studi epidemiologi mencatat prevalensi maloklusi di Indonesia pada kisaran 80 persen, jauh di atas rerata Asia sebesar 48 persen.
OrthoBreath berbentuk perangkat ringkas dengan bidang sentuh wajah yang dilengkapi sekat lunak pemisah rongga hidung dan mulut. Anak cukup menempelkan wajah pada bidang tersebut, kemudian bernapas normal selama beberapa puluh detik. Dua sensor tekanan diferensial yang terpasang terpisah pada kanal hidung dan kanal mulut merekam tekanan selama fase embusan. Lalu, sistem menghitung rasio aliran udara oral terhadap total aliran. Proporsi napas mulut di atas 30 persen ditandai sebagai indikasi risiko tinggi.
Pada saat yang sama, kamera mini di dalam bodi alat merekam citra susunan gigi depan untuk mendokumentasikan indikasi gigitan terbuka, gigi berjejal, maupun bentuk maloklusi lainnya. Seluruh data tekanan dan citra dikirim secara nirkabel ke komputer, lalu ditampilkan dalam bentuk laporan berisi grafik rasio pernapasan, foto gigi, dan riwayat pemeriksaan. Satu siklus pengujian hingga laporan terbit berlangsung sekitar satu hingga dua menit, tanpa paparan radiasi dan tanpa komponen yang dimasukkan ke dalam mulut.
Tim pengembang OrthoBreath terdiri atas Gerry Norcahyo Herlino, Rizky Dharma Putra, dan Fajar Aflakha Hamid dari program studi D-III Teknik Telekomunikasi, serta Fajar Bayu Kusuma dan Ahmad Fadlih Wahyu Sardana dari program studi Sarjana Terapan Teknik Informatika. Pembagian kerja disusun mengikuti bidang keahlian masing-masing, mulai dari perancangan bodi dan instrumentasi sensor hingga pengembangan perangkat lunak pengolah data dan antarmuka website.
Dosen pembimbing kegiatan, Vivi Nur Wijayaningrum, menyampaikan OrthoBreath diposisikan sebagai instrumen skrining awal dan bukan alat diagnosis. Hasil pemeriksaan berfungsi sebagai penanda yang mengarahkan tindak lanjut, sementara keputusan klinis sepenuhnya tetap berada di tangan dokter gigi.
Dalam proses pengembangannya, OrthoBreath dievaluasi oleh dokter gigi dan dokter umum. Dokter gigi menilai kesesuaian parameter maloklusi serta kualitas citra gigi yang dihasilkan. Dokter umum meninjau aspek pengukuran pernapasan dan keamanan penggunaan alat pada anak.
Meski pengoperasiannya sederhana, OrthoBreath dirancang untuk digunakan di lingkungan layanan kesehatan. Bukan sebagai alat periksa mandiri di rumah. Rasio pernapasan dan citra gigi yang dihasilkan masih memerlukan pembacaan tenaga kesehatan. Ini agar tidak menimbulkan salah tafsir, sehingga penempatannya diarahkan pada klinik gigi, puskesmas, maupun kegiatan penjaringan kesehatan di sekolah yang selama ini tidak memiliki akses terhadap pemeriksaan radiografi. Melalui deteksi yang dilakukan lebih awal, Polinema berharap alat ini mampu memperbesar peluang anak memperoleh penanganan pada masa pertumbuhan rahang, ketika koreksi masih relatif sederhana dan biaya yang dibutuhkan lebih ringan.



POST A COMMENT.