mepnews.id – Gadis cilik itu berdiri di antara suara gamelan dan gerakan tari yang masih asing baginya. Gerakannya kaku, langkahnya belum seirama. Sementara, dari sisi ruangan ibunya memperhatikan dengan penuh kesabaran. Saat itu, tidak ada yang tahu bahwa kegiatan sederhana itu menjadi langkah awal dari perjalanan panjang Chelsilia Nurrahma Dhita yang berani menari, berbaris, berorganisasi, dan mengejar mimpi, meski punya keterbatasan fisik.
Chelsilia Nurrahma Dhita, saat di kelas XII Jurusan Kuliner SMK Negeri 1 Nglegok di Blitar, aktif sebagai pengurus OSIS, anggota Paskibra, dan berbagai kegiatan pembelajaran lainnya. Di luar sekolah, Chelsi menekuni seni jaranan. Berbagai kegiatan dijalaninya dengan keterbatasan penglihatan.
Mata kanan gadis itu bisa melihat jelas, sementara mata kirinya tidak dapat. Kondisi itu kadang menjadi tantangan ketika menjalani aktivitas tertentu. Namun, ketika gamelan mulai ditabuh, tubuhnya bisa bermanuver otomatis mengikuti irama tanpa kesulitan.
“Kalau untuk gerak tari, tidak ada masalah. Tapi, kalau pas baris-berbaris, agak susah. Apalagi kalau aku lihat kiri,” tuturnya, tentang keterbatasan mata kirinya.
Kecintaan pada seni bermula ketika Chelsi duduk di kelas III SD. Karena agak tomboy, ia diajak ibunya ke Sanggar Tari Pendopo di Kota Blitar. Dari situ, langkah pertamanya menjadi penari dimulai. Awalnya hanya mengikuti ajakan, lama-lama ia cinta dari nurani.
“Oleh ibuku, aku awalnya disuruh ikut sanggar tari karena aku tomboy. Setelah gabung ke sanggar, lama-lama aku makin suka sama seni tari,” kata Chelsi yang mulai dikenalkan pada seni jaranan saat kelas V SD.
Saat belajar di SMK, ia terus menggeluti dunia tari. Namun, memasuki kelas X, ia ingin mencoba hal baru. Ia akhirnya juga bergabung dengan OSIS dan Paskibra. Tak pelak, hari-harinya dipenuhi kegiatan yang menuntut tenaga dan waktu, sekaligus kemampuan beradaptasi.
Bagi Chelsi, keterbatasan penglihatan bukan alasan untuk berhenti mencoba. Justru, melalui seni, ia menemukan ruang untuk menunjukkan kemampuannya. Tidak serta-merta menghapus keterbatasan, tetapi mencari cara agar keterbatasan itu tidak menghambatnya melangkah.
“Motivasi aku adalah membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukan berarti harus membatasi diri untuk bermimpi dan berkarya,” ungkapnya.
Memang, itu tidak selalu mudah. Saat mengikuti PBB di lapangan sekolah, keterbatasan penglihatan membuat ia harus hati-hati, terutama ketika aba-aba mengharuskannya melihat ke arah kiri. Ia mengandalkan suara dan mengingat urutan gerak agar tetap dapat mengikuti barisan.
Bertambah waktu, kegiatan bertambah padat. Seusai praktik jurusan Kuliner, ia harus membagi waktu untuk rapat OSIS, latihan Paskibra, dan kegiatan seni jaranan. Rasa lelah terkadang bertambah ketika ia harus menghadapi persoalan pertemanan.
Annisa, teman Chelsilia, pernah menyebut Chelsi diolok-olok dan disindir beberapa teman. “Kadang Chelsi sampai nangis karena nggak tahu salahnya di mana tapi tetap dapat sindiran.”
Chelsilia sudah berusaha keras membagi fokus, tapi terus dinilai sebelah mata oleh beberapa temannya. Hingga akhirnya, air mata di tengah himpitan jadwal itu ia jadikan pecutan semangat. Didukung ibunya, Chelsi mengasah pendengaran dan mengulang hafalan gerakan saat latihan tari hingga refleks tubuhnya terbentuk.
Suara gamelan kembali terdengar di Sanggar Tari Pendopo membawa ingatan berputar ke titik awal. Dari sisi ruangan yang sama, ibunya kembali memperhatikan. Kali ini bukan melihat langkah kaku anak perempuan tomboy-nya, melainkan menatap bangga seorang penari muda yang melangkah indah dan membuktikan ia mampu meretas keterbatasan pandangan.



POST A COMMENT.