Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Akhir pekan ini, saya berencana ke luar kota menemui seseorang yang mau curhat. Konon, teman ini mengalami kecenderungan bundir seiring kegalauan kondisi mentalnya setelah melahirkan bayi. Karena sesuatu hal, rencana kami batalkan.
Meski batal, saya tetap ingin menuliskan sedikit pengetahuan tentang bundir. Ini saya tulis karena keprihatinan saya atas angka kasus bundir yang meningkat. Sejak November 2025, terjadi lebih dari 100 kasus per bulan. Saya ingin sekadar menambah literasi terkait bundir agar kita bisa mengetahui, memahami, lalu sedapat mungkin mencegahnya.
Pembaca yang budiman, perilaku bundir itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ada perkembangan dengan tingkatan berbeda hingga sampai puncak. Setiap tingkatan memiliki karakteristik, risiko, dan kebutuhan intervensi yang berbeda. Maka, dengan memahami kategori-kategori ini, kita dapat mengenali tanda bahaya lebih awal dan memberikan bantuan yang tepat.
Tahap awal dapat berupa perilaku menyakiti diri sendiri dengan niat bunuh diri yang tidak sepenuhnya disadari. Pelaku bisa melakukan tindakan berbahaya atau menyakiti diri tanpa secara jelas menyadari perilakunya terkait dengan keinginan untuk mati. Ini beda dengan perilaku menyakiti diri tapi tanpa niat bundir. Biasanya, pada tahap awal ini si pelaku punya perasaan putus asa, sedih mendalam, atau kehilangan harapan.
Apa yang kita bisa lakukan? Lebih baik segera intervensi dengan mencari bantuan profesional kesehatan mental. Bawa si pelaku ke psikolog, psikiater, orang yang ahli di bidang itu, atau setidaknya ke orang yang bisa dipercaya untuk bicara.
Tahap berikutnya adalah suicidal ideation. Pada fase ini, pelaku mulai secara sadar memikirkan kematian atau membayangkan dirinya tidak hidup lagi. Pikiran ini bisa berupa sekadar keinginan untuk ‘tidur selamanya’ atau merasa hidupnya tidak lagi berarti.
Walau belum tentu disertai tindakan nyata, tahap ini perlu dianggap serius. Ini merupakan indikator risiko yang penting. Jika tidak ditangani dengan benar, pikiran ini dapat berkembang menjadi tindakan. ‘Ideation-to-action‘.
Tahap berikutnya, muncul suicidal intent. Pikiran itu mulai disertai niat untuk melakukannya. Sebagian pelaku mungkin belum memiliki rencana rinci. Tapi, ada juga pelaku yang bahkan sudah menentukan cara atau waktu tertentu untuk bundir.
Risiko meningkat jauh ketika seseorang memasuki tahap ‘preparatory acts toward imminent suicide’. Pelaku mulai mempersiapkan tindakan bundirnya. Contohnya, ia sudah memberikan barang-barang pribadi kepada orang lain, ia membereskan urusan pribadi, atau bahkan sudah mengucapkan atau menuliskan kalimat perpisahan.
Pada tahap ini, intervensi darurat sangat diperlukan karena bahaya sudah mendekati tindakan nyata. Kita bisa ambil tindakan verbal hingga fisik untuk mencegahnya. Setelah itu, serahkan pada ahlinya.
Ada juga tahap ‘interrupted suicide attempt’. Pada tahap ini, pelaku sudah melakukan upaya untuk bundir tapi gagal karena ada campur tangan orang lain, atau karea keadaan tertentu, atau mendadak ia mengalami kesadaran diri. Dalam kondisi ini, walau tidak terjadi cedera fisik, kondisi emosional pelaku sangat rapuh. Maka, kita perlu mendampingi dengan sangat dekat. Perlu juga perawatan tepat.
Tahap berikutnya adalah ‘nonfatal suicide attempt‘. Si pelaku sudah melakukan upaya bundir tetapi tidak menyebabkan kematian. Belum takdirnya. Misalnya, sudah gan-dir tapi eh…talinya putus. Kita perlu memberi penanganan serius pada pelaku. Bila perlu, pakai tindakan medis.
Tahap puncak adalah ‘completed suicide’. Upaya pelaku untuk bundir sudah dilakukan sampai terjadi kematian.
Jika ini terjadi, bakal terjadi kompleksitas dampak besar. Mungkin si pelaku merasa masalah duniawinya berakhir dengan cara itu. Tapi, bagaimana dengan masalah akhiratinya? Bagaimana dengan perasaan keluarga yang ditinggalkan? Bagaimana dengan perasaan orang-orang di sekitar tempat kejadian? Biasanya, muncul masalah trauma dan stigma sosial.
Maka, kita perlu memahami kategori perilaku bundir ini agar bisa membantu mencegah. Jika mengetahui ada orang dekat yang punya kecenderungan perilaku bundir, ada baiknya kita punya ‘action plan‘.
Antara lain;
- punya akses cepat ke tenaga profesional (psikolog, psikiater, petugas keamanan, ambulans, dll)
- mengurangi benda-benda berbahaya di sekitar individu berisiko
- berbicara secara terbuka tentang kondisi emosional pelaku
Jangan ragu untuk menanyakan secara langsung pada pelaku tentang pikiran bundirnya. Pertanyaan Anda biasanya tidak akan memperkuat keinginannya untuk bundir. Justru, dengan pertanyaan itu, pelaku sangat mungkin merasa lebih didengar dan diperhatikan.
Dengan intervensi yang tepat, pelaku yang mengalami krisis tetap memiliki peluang besar untuk pulih dan mendapatkan kembali rasa harapan dalam hidupnya. Ingat, hidup ini anugerah Tuhan.



POST A COMMENT.