mepnews.id – Pimpinan Daerah Muhamnadiyah (PD) Bojonegoro mengadakan Kajian Ramadhan 1447 H, 8 Maret 2026, di Aula Taqwa. Kajian mengangkat tema ‘Ekoteologi dan Tugas Kekholifahan’.
Acara dihadiri kurang lebih 700 peserta yang terdiri dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), majlis, lembaga, dan ketua, wakil ketua PDM Bojonegoro, serta orto tingkat daerah. Turut hadir sejumlah undangan dari organisasi keagamaan islam, dan Forkopimda Kabupaten Bojonegoro. Kajian menghadirkan Ir H Tamhid Mashudi dan Dr Muhammad Arifin.
Tamhid Mashudi, yang juga Wakil Ketua PWM Jawa Timur, menjadi pembicara pertama mengusung topik Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan dalam Perspektif Fikih Kebencanaan Muhammadiyah.
Menurutnya, KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sejak awal menjadikan organisasi ini sebagai gerakan tajdid (pembaharuan), yang senantiasa melakukan gerakan untuk kepentingan umat, negara, dan bangsa, termasuk mandat kepemimpinan ekologis (Al Baqaroh:30)
Ada tiga komponen yang harus dilakukan manusia. Pertama, al isti’mara fil ardhi (memakmurkan bumi) yakni bumi bukan untuk dihancurkan melainkan untuk dikelola dan dijaga kesinambungannya. Kedua, menjaga keseimbangan alam atau al mizan (Ar Rahman 7-8). Ketiga, tidak membuat kerusakan (Al A’raf: 56).
Disinggung pula tiga prinsip fikih kebencanaan dalam perspektif Muhammadiyah: mitigasi (pencegahan), tanggap darurat (al ighatsah/peran MDMC), rehabilitasi dan rekontruksi (ihsan sosial). Ia lalu menutup narasinya tentang Etika Islam: menanam adalah ibadah.
Muhammad Arifin, yang juga LDKP PP Muhammadiyah, membahas tentang spiritual da’wah membela kaum pinggiran. Ia mengawali paparannya dengan kata syakartum. Sasarannya, meluangkan waktu untuk beribadah dan menyisakan nikmat untuk beramal.
Menurutnya, “Muhammadiyah itu tidak sekadar bicara, yang terpenting adalah actions. Lewat LDK (Lembaga Da’wah Komunitas), PP Muhammadiyah mengedukasi cara menanam, cara bertuhan, pada berbagai komunitas. Dakwah dengan action ini membuat komunitas tertarik menjadi muslim dan bergabung dengan Muhammadiyah.”
Dakwah pemberdayaan komunitas ini sudah berlangsung antara lain di Mentawai, suku Tengger, komunitas sepeda motor (Bikkermuh) dan lainnya.
Kajian ditutup pukul 11.45 menjelang dikumandangkannya adzan dhuhur. (Zid)


