Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Emang kamu sangguh ngehidupin saya? Saya tuh rajin ke salon, shopping, mani-pedi, dan lain-lain. Sekali jalan sama saya, kamu musti siapin dana minimal dua jeti. Bisa gak bikin saya bahagia?” begitu isi pesan di ponsel Ansel dari cewek yang ia bidik.
Lalu Ansel bertanya pada saya, “Apa benar cewe pengeluarnnya segitu? Kalau benar segitu, dia tentu kaya raya dong. Kalau dia kaya, kenapa harus minta duit ke saya?”
……….
Pembaca yang budiman, curhatan Ansel ini bikin saya repot menjawabnya. Bisa saja si cewek itu matre karena mengukur hubungan dengan materi saja sehingga ia berani ‘memasang tarif’ pada Ansel. Bisa saja si cewek itu realistis untuk memastikan hitung-hitungan masa depannya. Tapi, bisa juga si cewek mengalami peniaphobia karena takut jadi lebih miskin jika membina hubungan dengan Ansel.
Yang matre dan yang realistis saya kura sudah banyak kita pahami. Maka, saya ingin membahas lebih banyak tentang peniaphobia saja.
Berdasarkan survei Bank of America’s 2025 Better Money Habits Gen Z Report, masa dewasa menjadi lebih mahal daripada yang dibayangkan kaum Generasi Z (lahir antara 1997 – 2012). Sepertiga (33%) dari Generasi Z merasa stres tentang keuangan mereka. Dari jumlah tersebut, 52% mengatakan ketidakstabilan ekonomi adalah penyebab utamanya. Nah, yang seperti mereka bukan hanya ada di Amerika, tapi di mana-mana. Termasuk cewek yang ditaksir Ansel. Termasuk juga orang-orang di sekitar kita.
Peniaphobia adalah ketakutan ekstrem dan tidak rasional terhadap kemiskinan atau ketakutan menjadi miskin. Kalau melihat definisinya, tentu orang yang sudah miskin tidak lagi perlu peniaphobia. Ya, karena sudah miskin. Apa lagi yang ditakutkan? Maka, yang biasa mengalami peniaphobia umumnya orang yang tidak miskin. Lebih jelas lagi, orang yang level kekayaannya menengah atau atas.
Salah satu penyebabnya adalah pengalaman traumatis terkait kemiskinan atau ketidakamanan finansial pada masa lalu. Kondisi ini bisa semakin diperparah tekanan sosial, meningkatnya biaya hidup, dan makin melebarnya kesenjangan ekonomi. Saat jagad medsos menampilkan standar hidup yang tidak realistis, peniaphobia semakin dirasakan.
Takut miskin yang wajar cenderung membawa orang untuk berhati-hati dan bijaksana dalam membelanjakan uang. Mereka akan menggunakan uang untuk hal-hal yang produktif untuk masa kini dan masa datang (bahkan masa pasca meninggal). Mereka bakal menabung, investasi, bersedekah, tidak boros, tidak asal beli.
Takut miskin yang berlebihan hingga ke level fobia bakal diam-diam menghancurkan kehidupan. Karena takut berlebihan, peniaphobia bisa membuat orang jadi takut mencoba hal baru karena takut gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut keluar zona nyaman, dan takut yang lain-lain sehingga menghambat kemajuan dan bahkan menjurus pada kehancuran.
Gejalanya mirip gangguan kecemasan pada umumnya. Antara lain kecemasan ekstrem akan kekurangan (makanan, uang tempat tinggal, dan lain-lain), gangguan tidur dan konsentrasi, mendadak panik (napas pendek, keringat dingin, mual, jantung berdebar, pusing, gemetar), mimpi buruk, hingga melakukan hal-hal di luar nalar dalam kondisi ekstrem.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari atau mengatasi masalah peniaphobia?
Jika gejala memburuk dan kecemasan sudah mengganggu rutinitas harian, perlu konsultasi ke psikolog atau psikiater. Untuk memastikan keamanan, juga perlu menata ulang kondisi finansial agar pikiran menjadi lebih tenang. Untuk menetapkan hati, perlu juga menata mindset soal persepsi tentang kaya-miskin. Selain itu, mengubah sikap masyarakat terhadap kekayaan dan kesuksesan juga sangat penting dalam mengurangi efek bahaya dari peniaphobia.
Pada akhirnya, peniaphobia adalah pengingat bahwa kesehatan mental bisa dipengaruhi banyak faktor. Stres keuangan hanya salah satu faktor. Dengan mengatasi akar penyebab ketakutan dan menawarkan dukungan kepada yang terkena dampaknya, kita dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan seimbang di mana kecemasan finansial tidak lagi menentukan kesejahteraan individu.


