Cara Bernapas Kita Bisa Menunjukkan Kondisi Mental

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya lihat Reni duduk menunggu di pojok cafe. Dandanan dan ekspresi wajahnya santai di depan meja dengan segelas kopi. Lalu, senyumnya melebar saat saya datang utnuk sesi curhat.

“Silakan, Mbak. Segera order minum, ya…” Reni berdiri menyambut saya.

Setelah itu, ia kembali duduk lalu diam, menarik napas berat dan dalam. Setelah basa-basi sejenak, kembali ia menghela napas berat. Beberapa kali.

Hmmm, tanpa ia curhat lebih dulu, saya bisa menduga Reni sedang punya beban pikiran yang tidak selesai atau masalah cukup berat sehingga menimbulkan rasa lelah secara emosional.

………….

Pembaca yang budiman, setiap orang memiliki pola pernapasan unik sehingga kondisi mental dan bahkan kesehatan fisik bisa diidentifikasi. Tapi, agar akurat, tidak cukup cuma dengan ngobrol sejenak seperti yang saya lakukan dengan Reni. Perlu memantau aliran udara hidung selama 24 jam menggunakan perangkat tertentu.

Dalam jurnal Cell Press Current Biology edisi Juni 2025, tim peneliti dari Israel dapat mengidentifikasi individu berdasarkan pola pernapasan mereka dengan akurasi 96,8%. Pola pernapasan itu berkorelasi dengan faktor-faktor seperti indeks massa tubuh (BMI), tingkat kecemasan, siklus tidur, dan bahkan kecenderungan perilaku. Lewat sidik pernapasan hidung ini, kita juga bisa mendalami kesehatan fisik dan mental.

Peneliti dari Weizmann Institute of Science di Israel itu mengembangkan perangkat ringan untuk melacak aliran udara hidung secara terus-menerus selama 24 jam. Perangkat itu berupa tabung lunak yang ditempatkan di bawah lubang hidung. Tujuannya, menguji hipotesa; karena setiap otak itu unik, maka pola pernapasan setiap orang juga unik.

Noam Sobel, penulis utama hasil penelitian, mengungkapkan, “Kami menganggap alat ini bukan sekadar uji pernafasan tapi juga sebagai pembacaan otak.”

Untuk penelitian, tim memasang perangkat itu pada 100 orang dewasa muda yang sehat dan meminta mereka menjalani kehidupan sehari-hari secara biasa. Perangkat itu memberikan data pernafasan sehari penuh dari mereka. Dari data yang terkumpul, tim bisa mengidentifikasi individu hanya dengan menggunakan pola pernapasan mereka. Akurasi sangat tinggi dan tetap konsisten di beberapa pengujian ulang yang dilakukan selama periode dua tahun.

Penelitian lebih lanjut, ternyata pola pernapasan individual ini berkorelasi dengan kondisi kesehatan fisik dan mental masing-masing orang. Antara lain dengan indeks massa tubuh, siklus tidur-bangun, tingkat depresi dan kecemasan, bahkan sifat perilaku. Misalnya, peserta yang mendapat skor relatif lebih tinggi pada kuesioner kecemasan ternyata memiliki tarikan napas yang lebih pendek dan lebih banyak variabilitas dalam jeda antara napas selama tidur.

Hasil penelitian ini menunjukkan, pemantauan aliran udara hidung jangka panjang dapat berfungsi sebagai jendela untuk melihat kesejahteraan fisik dan emosional seseorang. Secara intuitif, kita berasumsi bahwa tekanan atau kecemasan bisa mengubah cara seseorang bernapas. Tapi, bisa juga sebaliknya, cara bernapas membuat seseorang jadi cemas atau tertekan. Jika demikian, orang bisa mengubah cara bernapas untuk mengubah kondisi mental atau kondisi fisik menjadi lebih baik.

Facebook Comments

Comments are closed.