Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Sesil, teman saya, menelpon minta ketemuan karena pingin curhat. Ia mengaku kali ini sedang suntuk berat, males ngapa-ngapain, sedang gloomy banget.
Sesampai di tempat tinggalnya, saya lihat Sesil mengenakan kaus abu-abu kusam, celana kolor pendek seperti yang saya biasa pakai saat ngepel lantai, dan topi baret yang saya tahu itu milik almarhum mantan pacarnya.
Tanpa menunggu ia curhat, saya langsung bilang. “Hihhh, buruan gantai pakaian. Taruh baret itu. Ambil sneaker. Ganti kolormu dengan jins. Nih, pakai T-shirt yang warna-warni cerah. Ayok, jalan-jalan keluar.”
…………..
Pembaca yang budiman, saya kenal Sesil cukup lama sehingga tahu betul apa yang saya harus nasihatkan. Suasana hatinya memang sedang tidak baik. Tapi, ia memperburuk kondisi itu dengan apa yang ia kenakan. Warna abu-abu, cokelat tua, hitam kusam umumnya menambah kesan suram dalam hati. Celana pel-pelan yang kusut juga menambah suasana hati makin murung. Ditambah lagi lagi dengan baret yang membawa memori kelam. Maka, saya minta ia ganti pakaian dan ganti suasana untuk membuang blue mood di benaknya.
Saya ingat riset Hajo Adam dan Adam Galinsky pada 2012 tentang enclothed cognition. Konsep ini merujuk pada pengaruh pakaian terhadap proses kognitif seseorang —bagaimana pakaian yang dikenakan bisa memengaruhi cara berpikir, cara merasa, dan cara berperilaku. Apa yang kita kenakan bisa memengaruhi cara kita merasa, cara kita berpikir dan cara kita berperilaku, karena ada asosiasi makna dan pengalaman dengan pakaian itu.
Saat melihat kondisi Sesil, saya segera minta ia ganti pakaian untuk mengubah cara ia merasakan dirinya. Dengan pakaian lebih santai dan bernuansa ceria, saya bawa ia ke tempat yang sekiranya bisa membuatnya ceria juga.
Benar juga. Begitu keluar rumah, ia jadi lebih bersemangat. Bonceng saya pakai motor, ia menuju tempat gym. Meski celananya tidak terlalu sesuai, ia mulai menggerakkan badan dan menggunakan alat untuk olahraga. Wajahnya lebih merah, dan lebih cerah. Kaosnya penuh keringat, tapi postur tubuhnya sudah tidak lagi meringkuk seperti orang kehilangan akal.
Jadi, ada hubungan positif antara cara berpakaian dengan motivasi diri. Dengan pakaian yang suram, kumuh, atau terasosiasi dengan peristiwa sedih di masa lalu, suasana hati kita jadi tak termotivasi. Dengan pakaian lebih cerah, rapi, terasosiasi dengan aktivitas, maka kita akan jadi lebih termotivasi dan percaya diri melakukan segala sesuatu.
Pakaian yang kita kenakan bisa memberi tahu kita tentang karakter apa yang sedang kita perankan. Celana olahraga dan sandal bisa memberi isyarat pada otak dan tubuh kita untuk rileks. Setelan celana dan blazer bisa menunjukkan kita sudah waktunya untuk mulai bekerja. Apa yang kita kenakan bakal benar-benar memengaruhi suasana hati kita.
“Ajining raga saka busana,” kata pepatah Jawa.


